Archive for February, 2008

ADVERTISING MANAGEMENT

Posted in Periklanan on February 28, 2008 by emjaiz

Advertising is a management function. While advertising is the event, advertising Management is the whole process – a function of marketing starting from market research continuing through Advertising leading to actual sales or achievement of objective. But Advertising Management does not stop here. It goes further in regard to evaluation of the whole cost-benefits that were involved in the whole exercise.

This means that if there is a public service ad with an objective to increase domestic saving, the evaluation would take place in terms of the actual increase in domestic savings as can be found from banks and other financial institutions. If it’s about launch of a new product, then the evaluation would be in terms of benefits derived from the cost sunk in the advertising campaign.

Advertising management incorporates various specialised sub-functions like media strategy, message strategy, media planning, media buying etc.

While advertising management is an inseparable part of the marketing department, usually, the marketing department of an organisation is concerned more with market research and evaluation of results. All the critical processes of advertising management are generally outsourced to specialised Advertising agencies. For example the media buying is done in bulk by these ad agencies on which they receive discount / commission, that goes into their earning. It is a very creative field as it involves designing the strategies to be adopted for influencing the public ie media selection and deciding on the aspect to be advertised based on the image of the company and the present marketing objective.It then involves deciding on the ad message to be communicated which should capture the public attention!

Advertising Agency

Posted in Periklanan on February 28, 2008 by emjaiz

An advertising agency or ad agency is a service business dedicated to creating, planning and handling advertising (and sometimes other forms of promotion) for its clients. An ad agency is independent from the client and provides an outside point of view to the effort of selling the client’s products or services. An agency can also handle overall marketing and branding strategies and sales promotions for its clients. Read more »

SMS pun Kian Mencekik

Posted in Budaya Pop on February 28, 2008 by emjaiz


Pernahkah kalian satu kali sedang asyik berkirim sms dengan teman, baru beberapa kali kirim, pulsa langsung kritis. Ya, ini memang sudah menjadi gejala sehari – hari yang kita hadapi sebagai pengguna handphone, namun hal tersebut belakangan ini sedang dibahas pemerintah sebagai tindakan yang melanggar hukum, bagaimana tidak ? dewasa ini tarif sms antar operator berkisar Rp 100 – 350,- dan ini pun ditambah perang tarif yang tidak jelas rimbanya, padahal pemerintah menetapkan tarif sms minimal hanya Rp 76,- antar operator. sebagai sampel, ambil telkomsel dengan tarif sms tertinggi Rp 350,- X 82 orang = Rp 28.700,- per hari, sementara kalau menurut standar Rp 76,- X 82 = Rp 6232,-. Seperti yang dilansir KOMPAS beberapa waktu lalu bahwa kejadian ini ternyata telah berlangsung sejak 2003 lalu, yaitu sejak 30 % saham perusahaan selular terbesar indonesia dibeli oleh Singapura lewat PT Temasek Holdings Co. Pemerintah menemukan beberapa kejanggalan soal penetapan tarif sms oleh masing – masing operator yaitu :1. Tarif tidak sesuai dengan standar2. Terjadi praktik monopoli oleh salah satu operator terbesar yaitu telkomsel 3. Penarikan keuntungan yang berlebih kepada konsumen 4. Antara harga dan fasilitas tidak sebanding yang diterima konsumen Terhitung sejak awal Desember lalu, pemerintah memberi sanksi kepada Telkomsel, Indosat dan Excelcomindo untuk menurunkan tarif sampai setengah dari tetapan pemerintah. Dan yang mematuhinya adalah telkomsel dengan meluncurkan produk dengan tarif Rp 0,5 ,- per detik. Lho itu kan baru tarif percakapan, bagaimana dengan sms ? sejauh ini telkomsel masih mengunggulkan produk dengan tarif Rp 99,- per sms. Lalu apakah ke depannya seluruh operator akan memangkas tarif sampai standar ? kemungkinan besar ya, sebab melihat operator selular di luar negeri, baik percakapan maupun sms sudah jauh lebih murah dibanding kita.

Tiap Orang Bisa Jadi Jurnalis

Posted in jurnalisme on February 28, 2008 by emjaiz

Orang yang haus akan informasi tapi bosan dan kurang puas dengan berita di koran, dan orang yang ingin jadi reporter tanpa menunggu panggilan kerja dari koran, majalah atau TV, sekarang bisa memenuhi keinginannya dengan membuka blog.

Masyarakat kita saat ini sangat kritis terhadap berita dan sering kali kebanyakan berita yang ada tidak memuaskan. Itu-itu saja. Dengan blog, orang punya pilihan bacaan lebih luas. Sisi lain, terbuka kesempatan besar untuk semua orang untuk menyatakan pendapat kepada seluruh dunia. “Everyone can be a journalist”. Read more »

Komunikasi Periklanan, Sebuah Pendekatan dengan Semiotika

Posted in Periklanan on February 28, 2008 by emjaiz
Pengertian Semiotika
Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkji tanda. Tanda-tanda alah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia ini, di tengah-tengah manusia bersama-sama manusia. Semiotika, atau dalam istilah Barthes, semiologi, pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memakai hal-hal (thinks). Memakai (to sinify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukan dengan mengkomunikasikan ( to communicate). Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek-objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda (Barthes, 1988 : 17; kurniawan, 2001 : 53). Dalam Alex Sobur 15 : 2007.

Komunikasi Periklanan

Untuk mengkaji iklan dalam persfektif Semiotika, kita bisa mengkajinya lewat sistem tanda dalam iklan. Iklan menggunakan sistem tanda yang terdiri atas lambang, baik yang verbal maupun yang berupa ikon. Iklan juga menggunakan tiruan indeks, terutama dalam iklan radio, televisi, dan film.
Analisis Iklan

Untuk menganalisi iklan, kita juga bisa menggunakan atau meminjam model Roland Barthes, di mana ia menganalisis iklan Pasta “Panzani” berdasarkan pesan yang dikandungnya (Cobley & Jansz, 1999 : 47 – 48), yaitu :
Pesan Linguistik (Semua kata dan kalimat dalam iklan)
Pesan ikonik yang terkodekan (konotasi yang muncul dalam foto iklan – yang hanya befungsi jika dikaitkan dengan sistem tanda yang lebih luas dalam masyarakat), dan
Pesan ikonik tak terkodekan (denotasi dalam foto iklan)
Menelaah Iklan Televisi

Beberapa orang-orang lelaki berkumpul sambil berbincang. Latar temapat kumuh. Pemainnya adalah beberapa pelawak tua (antara lan pak Bendot (alm). Wajah mereka sering disorot secara close up. Seorang tua memegang stop kontak dan kipas angin listrik “Kalau subsidi dicabut, rakyat kecil mati angin.” / Tokoh laki-laki tua yang lain. “Rakyat yang mana ? Mbok jangan pake alasan rakyat kecil terus, deh ! Dapat punya disubsidi. Rakyat kecil dikipas terus, ya kepanasan ! Angin, angiiiin ! / Laki-laki kedua : “Jaman susah, kipasin dong orang yang lebih kecil, agar kita-kita ini dapat angin toh ! “ Laki-laki pertama “Kipaaaas, kipaaaas!”/ laki-laki kedua “Angin-angiiiin” / Laki-laki pertama : Panaaassss, panaasss! Laki-laki kedua “ Angiiiin, angiiiin!”

Analisa Iklan
Persfektif Pembuat Iklan : Pihak yang ingin mensosialisasikan kenaikan harga listrik.
Persfektif ahli mitos : Berlagak berfihak pada rakyat.
Persfektif Pemirsa : Iklan sebagai corong PLN. Melihat lahak lagu pembawa iklan (pelawak) Atau iklan yang kurang berbudaya karena berbicara sambil berbaring. Menurut Van Zoest (1991 : 70 ) dalam Alex Sobur, Sebuah teks, tak pernah terlepas dari ideologi dan memiliki kemmapuan untuk memanipulasi pembaca atau pemirsa ke arah suatu ideologi.

PR Writing

Posted in Periklanan on February 26, 2008 by emjaiz


Teknik Penulisan Humas (Public Relations Writing) adalah keterampilan menulis (writing skill) khas Humas/PR dalam menghasilkan naskah-naskah yang diperlukan untuk kepentingan pencitraan positif dan popularitas perusahaan/organisasi. Tipe-tipe panulisan atau naskah PR dapat dibagi menjadi dua bagian:

  1. Berkaitan dengan Media Relations/Press Relations, seperti naskah press release (siaran pers), advertorial, dan press conference (press kit/media kit).
  2. Berkaitan dengan media promosi, informasi, dan komunikasi perusahaan/organisasi, seperti naskah untuk dipublikasikan di newsletter, in house magazine/Company Magazines, naskah laporan tahunan (annual report), company profile, leaflet, booklet, brosur, dan sebagainya.

Untuk menghasilkan naskah yang baik (good writing), Humas/PR harus memiliki keterampilan jurnalistik layaknya wartawan, seperti pemahaman tentang nilai berita (news values), bahasa jurnalistik (language of mass communications), kode etik jurnalistik, dan sebagainya.

Untuk kepentingan publikasi yang luas, Humas/PR membutuhkan peran media. Karena itu, diperlukan sebuah hubungan yang baik dengan kalangan pers/media massa (Press/Media Relations). Agar hubungan itu tercipta dengan baik, Humas perlu mengenali dunia pers dengan baik pula, seperti karakteristik wartawan, format media, cara kerja wartawan/media, dan sebagainya.

Siaran Pers

Siaran Pers (Press Release, biasa disebut rilis saja) adalah naskah berita (data atau informasi tentang sebuah kegiatan –pra ataupun pasca) yang disampaikan kepada wartawan atau kantor redaksi media untuk dipublikasikan di media tersebut. Dengan demikian, menulis siaran pers pada dasarnya sama dengan menulis berita seperti dilakukan para wartawan. Oleh karenanya, karakteristik dan struktur penulisan siaran pers sama dengan menulis berita.

Karakteristik siaran pers adalah memiliki “nilai berita” (news values), yakni aktual, faktual, penting, dan menarik. Struktur penulisannya pun sama dengan dengan penulisan berita, yakni terdiri dari head (Judul), dateline (baris tanggal), lead (teras berita), dan news body (tubuh atau isi berita). Berita sendiri artinya adalah laporan peristiwa atau peristiwa yang dilaporkan oleh media massa.

Kiat menulis siaran pers:

  1. Tulis dengan gaya penulisan berita.
  2. Jangan terlalu panjang – cukup satu lembar.
  3. Langsung ke masalahnya dengan segera.
  4. Penuhi unsur berita 5W+1H.
  5. Berikan lebih dari satu nomor kontak –nomor telpon kantor, kontak pribadi, HP, e-mail, dan fax.
  6. Jika memungkinkan, buatlah usulan mengenai orang-orang yang dapat diwawancara.
  7. Cek/konfirmasi siaran pers yang sudah dikirimkan melaui fax, surat, atau e-mail.
  8. Jika perlu, seratakan ilustrasi foto, tabel, atau grafik atau bahan pendukung lainnya –makalah, naskah pidato, susunan acara, dsb.
  9. Tuliskan pada kertas berkop-surat sehingga benar-benar resmi.
  10. Tandatangani oleh pejabat paling berwenang, misalnya manajer humas, ketua panitia, dan/atau ketua lembaga/perusahaan.
  11. Jika bersifat individu, misalnya artis, pakar, pejabat, ataupun warga biasa, sertakan fotokopi identitas.

Surat Pembaca

Surat Pembaca (letter to the editor) mirip siaran pers, terutama dalam hal teknis penulisan dan pengiriman. Yang membedakan adalah dalam hal isi dan tujuannya. Isi dan tujuan surat pembaca biasanya merupakan tanggapan, sanggahan, klarifikasi, atau penggunaan Hak Jawab dan Hak Koreksi atas informasi yang dinilai salah dan merugikan. Surat pembaca berupa tanggapan, biasanya diawali dengan mengutip berita atau surat pembaca yang sebelumnya sudah dimuat, sehingga pembaca dapat mengetahui latar belakang masalah yang diklarifikasi.

Advertorial (adv)

Advertorial = advertising dan editorial. Gabungan antara promosi dan opini atau pemberitaan tentang hal yang dipromosikan –produk, jasa, perusahaan, organisasi, aktivitas, atau program pemerintah. Bentuk tulisannya bisa berupa berita, feature, atau artikel. Advertorial sering disebut iklan dalam bentuk pemberitaan atau tulisan panjang.

Jenis advertorial a.l. adv produk, adv jasa, adv perusahaan, dan adv pemerintahan. Sifatnya bisa informatif, eksplanatif, interpretatif, persuasif, argumentatif, dan eksploratif.

Brosur

Brosur (Brochure) adalah selebaran cetakan satu halaman kertas yang terlipat dua atau lebih, berisi keterangan, informasi, atau gambaran tentang sebuah perusahaan, instansi, produk, atau jasa, atau bisa juga berisi sebuah ide dan kegiatan.

Jenis selebaran promosi sejenis brosur adalah booklet, yakni buku kecil tanpa jilid/cover berisi informasi dan gambar tentang suatu produk atau jasa. Bisa juga terdiri dari beberapa lembar kertas sehingga menyerupai buku. Penyebarannya sama dengan brosur, yakni dibagi-bagikan langsung kepada publik.

Sarana promosi mirip brosur adalah flyer, pamflet, leaflet, atau poser, yakni lembaran utuh tanpa lipatan/tidak terlipat. Pamflet (ukuran satu halaman kertas print), leaflet (ukuran kertas kecil), dan poster (”surat tempelan”, ukuran kertas besar) disebarkan dengan cara ditempel. Flyer biasanya digantung.

Ada juga yang disebut folder. Bentuknya mirip map, namun berisi banyak informasi dan bagian dalamnya terdapat kantung untuk menyimpan aneka berkas seperti surat, brosur, leaflet, kartu nama, dan sebagainya. Folder dapat berfungsi sebagai tempat penyimpan berkas informasi atau promosi.

Press Conference/Media Kit

Konferensi Pers (Press Conference) – undang media untuk menyampaikan informasi, dilakukan tidak rutin, insidental sesuai acara yang digelar, baik sebelum maupun sesudah kegiatan.

Media Kit adalah bahan tertulis sehingga kalangan pers memiliki data akurat dan lengkap sebagai bahan berita. Bahan tertulis ini bisa berupa siaran pers, susunan acara, makalah, artikel, feature, bosur, proposal, atau informasi lengkap tentang kegiatan –tujuan, jadwal, target, kepanitiaan, daftar pengisi acara, dsb.—dan dimasukkan dalam sebuah map atau amplop besar.

Naskah Pidato

Naskah pidato biasanya dilakukan penulis khusus yang disebut scriptwriter. Namun, ada punya petugas humas yang ditugaskan menulisnya. Naskah pidato terdiri dari bagian pembukaan, isi, dan penutup. Ditulis dengan gaya bahasa tutur (spoken words) atau gaya bahasa percakapan (conversational language) karena naskah itu untuk diucapkan, dibacakan, atau disuarakan.

Newsletter

Newsletter secara harfiyah artinya “laporan berkala” atau “surat berita”. Merupakan media informasi dan komunikasi internal sebuah lembaga, biasanya terdiri dari dua hingga delapan lembar kertas kwarto atau folio, tanpa cover seperti majalah atau buku. Isinya bervariasi mirip majalah, misalnya agenda dan berita kegiatan, artikel, feature, gambar, dsb.

In House Magazine

In House Magazine atau Company Magazines adalah majalah internal sebuah lembaga/perusahaan. Desain atau tampilan dan rubrikasinya seperti majalah umum/komersil, namun isinya tentang informasi seputar “dapur” lembaga. Mengelola In House Magazine, juga Newsletter, sama dengan proses manajemen media massa pada umumnya, yakni melalui proses redaksional dan membutuhkan keterampilan meliput dan menulis berita layaknya wartawan.

Proses redaksional dimaksud adalah tahapan perencanaan (planing) –penentuan visi, misi, logo, moto, rubrikasi, editorial policy, dan style book; pengorganisasian (organizing) –penetapan susunan organisasi redaksi (pemred hingga reporter dan layouter); pelaksanaan (acting) –aktivitas jurnalistik seperti perencanaan liputan (rencana isi), peliputan, penulisan, editing, dan desain grafis, dan pengawasan (controling) –pengawasan dan evaluasi proses dan hasil kerja yang sudah dilaksanakan.*

Referensi:

Public Relation Writing: Pendekatan Teoritis dan Ptaktis. Penulis: Dr. Yosal Irianto & A. Yani Surachman, S.Sos. Penerbit Simbiosa Rekatama Media, Bandung, 2006; Press Relation: Kiat Berhubungan dengan Media Massa. Penulis: Drs. Aceng Abdullah. Penerbit Rosdakarya, Bandung, 2000; Jurnalistik Terapan: Panduan Kewartawanan dan Kepenulisan. Penulis: Asep Syamsul M. Romli. Penerbit Baticpress, Bandung, 2004.

By ASM. Romli. Ikhtisar perkuliahan “Teknik Penulisan Humas” Semester Pendek Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Kebangsaan (UK) Bandung, Agustus 2007.*

 

Copyright © 2007 ASM. Romli. www.romeltea.co.nr e-mail: romeltea@yahoo.com

 

Add comment August 25, 2007 <!–Romeltea–>

Jurnalistik Radio

DEFINISIJurnalistik radio (radio journalism, broadcast journalism) adalah proses produksi berita dan penyebarluasannya melalui media radio siaran.Jurnalistik radio adalah “bercerita” (storytelling), yakni menceritakan atau menuturkan sebuah peristiwa atau masalah, dengan gaya percakapan (conversational).

KARAKTERISTIK

  1. Auditif. untuk didengarkan, untuk telinga, untuk dibacakan atau disuarakan.
  2. Spoken Language. Menggunakan bahasa tutur atau kata-kata yang biasa diucapkan dalam obrolan sehari-hari (spoken words). Kata-kata yang dipilih mesti sama dengan kosakata pendengar biar langsung dimengerti.
  3. Sekilas. Tidak bisa diulang. Karenanya harus jelas, sederhana, dan sekali ucap langsung dimengerti.
  4. Global. Tidak detail, tidak rumit. Angka-angka dibulatkan, fakta-fakta diringkaskan.

PRINSIP PENULISAN

  1. ELF – Easy Listening Formula. Susunan kalimat yang jika diucapkan enak didengar dan mudah dimengerti pada pendengaran pertama.
  2. KISS – Keep It Simple and Short. Hemat kata, tidak mengumbar kata. Menggunakan kalimat-kalimat pendek dan tidak rumit. Gunakan sesedikit mungkin kata sifat dan anak kalimat (adjectives).
  3. WTYT – Write The Way You Talk. Tuliskan sebagaimana diucapkan. Menulis untuk “disuarakan”, bukan untuk dibaca.
  4. Satu Kalimat Satu Nafas. Upayakan tidak ada anak kalimat. Sedapat mungkin tiap kalimat bisa disampaikan dalam satu nafas.

ELEMEN PEMBERITAAN

  1. News Gathering – pengumpulan bahan berita atau peliputan. Teknik reportase: wawancara, studi literatur, pengamatan langsung.
  2. News Production – penyusunan naskah, penentuan “kutipan wawancara” (sound bite), backsound, efek suara, dll.
  3. News Presentation – penyajian berita.
  4. News Order – urutan berita.

TEKNIS PENULISAN: PILIHAN KATA

  1. Spoken Words. Pilih kata-kata yang biasa diucapkan sehari-hari (spoken words), e.g. jam empat sore (16.00 WIB), 15-ribu rupiah (Rp 15.000), dll.
  2. Sign-Posting. Sebutkan jabatan, gelar, atau keterangan sebelum nama orang. Atribusi/predikat selalu mendahului nama, e.g. Ketua DPR –Agung Laksono— mengatakan…
  3. Stay away from quotes. Jangan gunakan kutipan langsung. Ubah kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung, e.g. Ia mengatakan siap memimpin demo (”Saya siap memimpin demo,” katanya).
  4. Avoid abbreviation. Hindari singkatan atau akronim, tanpa menjelaskan kepanjangannya lebih dulu, e.g. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Negeri –BEM UIN—Bandung menggelar… (Ketua BEM UIN Bandung –Fulan—mengatakan…).
  5. Subtle repetition. Ulangi secara halus fakta-fakta penting seperti pelaku atau nama untuk memudahkan pendengar memahami dan mengikuti alur cerita, e.g. Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono mengatakan… Menurut Presiden…. Kepala Negara juga menegaskan….
  6. Present Tense. Gunakan perspektif hari ini. Untuk unsur waktu gunakan kata-kata “kemarin”, “hari ini”, “besok”, “lusa”, bukan nama-nama hari (Senin s.d. Minggu). Mahasiswa UIN Bandung melakukan aksi demo hari ini… Besok mereka akan melanjutkan aksi protesnya…
  7. Angka. Satu angka (1-9) ditulis pengucapannya. Angka 1 ditulis “satu” dst. Lebih dari satu angka, ditulis angkanya. Angka 25 atau 345 jangan ditulis: duapuluh lima, tigaratus empatpuluh lima. Angka ratusan, ribuan, jutaan, dan milyaran, sebaiknya jangan gunakan nol, tapi ditulis: lima ratus, depalan ribu, 15-juta, 145-milyar.
  8. Mata uang. Ditulis pengucapannya di belakang angka, e.g. 600-ribu rupiah (Rp 600.000), 500-ribu dolar Amerika Serikat (US$ 50.000)

TANDA BACA KHUSUS

  1. Dash. tanda garis pisah (–) untuk sebelum nama atau kata penting atau butuh penekanan.
  2. Punctuation. Tanda Sengkang, yaitu tanda-tanda pemenggalan (-) untuk memudahkan pengucapan singkatan kata yang dieja. M-U-I, B-A-P, W-H-O, P-U-I, dsb
  3. Garis Miring. Jika perlu, gunakan garis miring satu (/) sebagai pengganti koma atau sebagai tanda jeda untuk ambil nafas, garis miring dua (//) untuk ganti titik, dan garis miring tiga (///) untuk akhir naskah.

Contoh:

Menjelang Pemilu 2009/ sedikitnya sudah 54 partai politik/ mendaftarkan diri ke Departemen Hukum dan HAM// Mereka akan diverifikasi untuk ikut Pemilu. Menurut pengamat politik –Arby Sanit/ banyaknya parpol itu menunjukkan animo elite untuk berkuasa masih tinggi///

PRODUK JURNALISTIK RADIO

  1. Copy – Berita pendek, durasi 15-20 detik. Biasanya berita penting, harus cepat diberitakan, disampaikan di sela-sela siaran (breaking news) atau program reguler insert berita (news insert) tiap menit 00 tiap jam misalnya. Berupa Straight News.
  2. Voicer – Laporan Reporter. Terdiri dari pengantar (cue) penyiar di studio dan laporan reporter di tempat kejadian, termasuk sound bite dan/atau live interview.
  3. Paket. Panjangnya 2-8 menit. Isinya paduan naskah berita, petikan wawancara (soundbite).
  4. Feature. Durasi 10-30 menit. Paduan antara berita, wawancara, ulasan redaksi, musik pendukung, dan rekaman suasana (wildtracking). Membahas tema tertentu yang mengandung unsur human interest. Bisa pula berupa dokumenter (documentary).
  5. Vox Pop. Singkatan dari vox populi (suara rakyat). Berisi rekaman suara opini masyarakat awam tentang suatu masalah atau peristiwa.

Cue: Menjelang Pemilu 2009, sedikitnya sudah 54 partai politik mendaftarkan diri ke Departemen Hukum dan HAM, guna diverifikasi sehingga bisa ikut Pemilu. Bagaimana tanggapan masyarakat tentang banyaknya parpol tersebut, berikut ini petikan wawancara kami dengan beberapa warga masyarakat:

Sound Bite : 1. “Bagus lah, biar banyak pilihan…” 2. “Saya sih mau golpu aja, gak ada partai yang bagus sih menurut saya mah…” 3. “Saya akan setia pada parpol pilihan saya, tidak akan kepengaruh oleh parpol baru, belum tentu lebih bagus ka…” dst.

NEWS PROGRAM

  1. Buletin (Paket berita) – Berisi rangkaian berita-berita terkini (copy, straight news) –bidang ekonomi, politik, sosial, olahraga, dan sebagainya; lokal, regional, nasional, ataupun internasional. Durasi 30 menit atau lebih.Durasi bisa lebih lama jika diselingi lagu dan “basa-basi” siaran seperti biasa.
  2. News Insert – insert berita.Berisi info aktual berupa Straight News atau Voicer. Durasi 2-5 menit bergantung panjang-pendek dan banyak-tidaknya berita yang disajikan. Biasanya disajikan setiap jam tertentu. Bisa berupa breaking news, disampaikan penyiar secara khusus di sela-sela siaran non-berita.
  3. Majalah Udara — Berisi straight news, wawancara, dialog interaktif, feature pendek, dokumenter, dan sebagainya.
  4. Talkshow – Dialog interaktif atau wawancara langsung (live interview) di studio dengan narasumber, atau melalui telepon

REFERENSI:

Asep Syamsul M. Romli, Broadcast Journalism: Panduan Menjadi Penyiar, Reporter, dan Scriptwriter, Penerbit Nuansa Bandung, 2004; Imelda Reynolds (ed.), Pedoman Jurnalistik Radio, Internews Indonesia, 2000; JB Wahyudi, Dasar-Dasar Jurnalistik Radio dan Televisi, Pustaka Utama Grafiti Jakarta, 1996; Torben Brandt dkk. (editor), Jurnalisme Radio: Sebuah Panduan Praktis, UNESCO Jakarta-Kedubes Denmark Jakarta 2001.

By ASM. Romli. Ikhtisar perkuliahan “Jurnalistik Radio” Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Komunikasi & Dakwah UIN SGD Bandung.*

Copyright © 2007 ASM. Romli. www.romeltea.co.nr e-mail: romeltea@yahoo.com

1 comment August 25, 2007 <!–Romeltea–>

Manajemen Pers

Manajemen (management) secara harfiyah artinya mengatur atau mengelola. Encyclopedia Americana mengartikan manajemen sebagai The art of coordinating the elements of factors of production towards the achievement of the purposes of an organization“. Pencapaian sasaran organisasi terjadi melalui peng-gunaan manusia (men), bahan produksi (materials), dan mesin (machines). Hakikat manajemen adalah “proses koordinasi berbagai sumberdaya” organisasi (men, materials, machines) dalam upaya mencapai sasaran organisasi. Pers adalah lembaga penerbitan media massa cetak, seperti suratkabar, tabloid, majalah, dan buku. Dalam bahasa Inggris, pers (press) berarti mesin pencetak, mencetak, orang-orang yang terlibat dalam kepenulisan atau produksi berita, menekan, dan sebagainya.

Dalam Leksikon Komunikasi, pers punya banyak arti, seperti usaha percetakan atau penerbitan; usaha pengumpulan atau penyiaran berita; penyiaran berita melaui media massa; dan orang-orang yang bergerak dalam penyiaran berita. Ada pula pendapat, pers merupakan singkatan dari persuratkabaran.

Manajemen pers adalah proses pengelolaan berupa koordinasi unsur-unsur terkait dalam penerbitan pers (media massa, utamanya media cetak). Pembahasan manajemen pers di bawah ini mengacu pada konsep fungsi manajemen dari Henry Fayol, yaitu Planning, Organizing, Acting, dan Controlling (POAC).

Planning artinya perencanaan, yakni penyusunan atau penetapan tujuan dan aturan. Organizing artinya pengorganisasian berupa pembentukan bagian-bagian, pembagian tugas, atau pengelompokkan kerja. Acting artinya pelaksanaan rencana. Controling adalah pengawasan dan evaluasi hasil kerja.

Planing

  • Persiapan SDM serta sarana dan prasarana (men, materials, machines).
  • Penyusunan atau penetapan visi, misi, nama, logo, moto, rubrikasi, positioning, editorial policy, stylebook, model/desain cover, desain halaman, pemilihan jenis huruf, dan sebagainya.
  • Penyusunan rencana pemasaran (iklan, sirkulasi, promosi), termasuk strategi penjualan, distribusi, dan sebagainya.

Organizing

  • Pembentukan struktur organisasi pers (redaksi, pemasaran/tata usaha, dan percetakan/produksi).
  • Pembagian tugas atau job description masing-masing bagian.

Acting

  • Semua bagian bekerja sesuai perencanaan dan pengorganisasian yang telah disusun.
  • Bidang redaksi melakukan tahapan dalam news processing: news planning, hunting/gathering, writing, editing, layouting, lalu dilimpahkan pada bagian produksi atau percetakan.

Controlling

  • Pengawasan dan evaluasi hasil mengacu pada visi, misi, style book, kode etik jurnalistik, dan tata tertib.
  • Pemberiam penghargaan dan hukuman (reward and punishment) terhadap wartawan/karyawan.

Referensi:

Asep Syamsul M. Romli, Jurnalistik Terapan, Batic Press, Bandung, 2005.

Totok Juroto, Manajemen Penerbitan Pers, Rosdakarya, Bandung, 2004.

By ASM. Romli. Ikhtisar perkuliahan “Manajemen Pers” Semester Pendek Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Kebangsaan (UK) Bandung. Agustus 2007.

Copyright © 2007 ASM. Romli. www.romeltea.co.nr e-mail: romeltea@yahoo.com

Add comment August 25, 2007 <!–Romeltea–>

Komunikasi Politik

KOMUNIKASI Politik (political communication) adalah komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik, atau berkaitan dengan kekuasaan, pemerintahan, dan kebijakan pemerintah. Dengan pengertian ini, sebagai sebuah ilmu terapan, komunikasi politik bukanlah hal yang baru. Komunikasi politik juga bisa dipahami sebagai komunikasi antara “yang memerintah” dan “yang diperintah”.Mengkomunikasikan politik tanpa aksi politik yang kongkret sebenarnya telah dilakukan oleh siapa saja: mahasiswa, dosen, tukang ojek, penjaga warung, dan seterusnya. Tak heran jika ada yang menjuluki Komunikasi Politik sebagai neologisme, yakni ilmu yang sebenarnya tak lebih dari istilah belaka.

Dalam praktiknya, komuniaksi politik sangat kental dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, dalam aktivitas sehari-hari, tidak satu pun manusia tidak berkomunikasi, dan kadang-kadang sudah terjebak dalam analisis dan kajian komunikasi politik. Berbagai penilaian dan analisis orang awam berkomentar sosal kenaikan BBM, ini merupakan contoh kekentalan komunikasi politik. Sebab, sikap pemerintah untuk menaikkan BBM sudah melalui proses komunikasi politik dengan mendapat persetujuan DPR

Konsep, strategi, dan teknik kampanye, propaganda, dan opini publik termasuk dalam kajian bidang ilmu komunikasi politik.

Beberapa Definisi

Gabriel Almond (1960): komunikasi politik adalah salah satu fungsi yang selalu ada dalam setiap sistem politik. “All of the functions performed in the political system, political socialization and recruitment, interest articulation, interest aggregation, rule making, rule application, and rule adjudication,are performed by means of communication.”

Komunikasi politik merupakan proses penyampaian pesan-pesan yang terjadi pada saat keenam fungsi lainnya itu dijalankan. Hal ini berarti bahwa fungsi komunikasi politik terdapat secara inherent di dalam setiap fungsi sistem politik.

Process by which a nation’s leadership, media, and citizenry exchange and confer meaning upon messages that relate to the conduct of public policy. (Perloff).

Communication (activity) considered political by virtue of its consequences (actual or potential) which regulate human conduct under the condition of conflict (Dan Nimmo). Kegiatan komunikasi yang dianggap komunikasi politik berdasarkan konsekuensinya (aktual maupun potensial) yang mengatur perbuatan manusia dalam kondisi konflik. Cakupan: komunikator (politisi, profesional, aktivis), pesan, persuasi, media, khalayak, dan akibat.

Communicatory activity considered political by virtue of its consequences, actual, and potential, that it has for the funcioning of political systems (Fagen, 1966).

Political communication refers to any exchange of symbols or messages that to a significant extent have been shaped by or have consequences for the political system (Meadow, 1980).

Komunikasi politik merupakan salah satu fungsi partai politik, yakni menyalurkan aneka ragam pendapat dan aspirasi masyarakat dan mengaturnya sedemikian rupa –”penggabungan kepentingan” (interest aggregation” dan “perumusan kepentingan” (interest articulation) untuk diperjuangkan menjadi public policy. (Miriam Budiardjo).

Jack Plano dkk. Kamus Analisa Politik: penyebaran aksi, makna, atau pesan yang bersangkutan dengan fungsi suatu sistem politik, melibatkan unsur-unsur komunikasi seperti komunikator, pesan, dan lainnya. Kebanyakan komunikasi politik merupakan lapangan wewenang lembaga-lembaga khusus, seperti media massa, badan informasi pemerintah, atau parpol. Namun demikian, komunikasi politik dapat ditemukan dalam setiap lingkungan sosial, mulai dari lingkup dua orang hingga ruang kantor parlemen.

Wikipedia: Political communication is a field of communications that is concerned with politics. Communication often influences political decisions and vice versa. The field of political communication concern 2 main areas: 1. Election campaigns – Political communications deals with campaigning for elections. 2. Political communications is one of the Government operations. This role is usually fullfiled by the Ministry of Communications and or Information Technology.

Aktor: Komunikator Politik

Komunikator Politik pada dasarnya adalah semua orang yang berkomunikasi tentang politik, mulai dari obrolan warung kopi hingga sidang parlemen untuk membahas konstitusi negara.

Namun, yang menjadi komunikator utama adalah para pemimpin politik atau pejabat pemerintah karena merekalah yang aktif menciptakan pesan politik untuk kepentingan politis mereka. Mereka adalah pols, yakni politisi yang hidupnya dari manipulasi komunikasi, dan vols, yakni warganegara yang aktif dalam politik secara part timer ataupun sukarela.

Komunikator politik utama memainkan peran sosial yang utama, teristimewa dalam proses opini publik. Karl Popper mengemukakan “teori pelopor mengenai opini publik”, yakni opini publik seluruhnya dibangun di sekitar komunikator politik.

Komunikator Politik terdiri dari tiga kategori: Politisi, Profesional, dan Aktivis.

Politisi adalah orang yang bercita-cita untuk dan atau memegang jabatan pemerintah, seperti aktivis parpol, anggota parlemen, menteri, dsb.;

Profesional adalah orang yang menjadikan komunikasi sebagai nafkah pencahariannya, baik di dalam maupun di luar politik, yang uncul akibat revolusi komunikasi: munculnya media massa lintas batas dan perkembangan sporadis media khusus (majalah internal, radio siaran, dsb.) yang menciptakan publik baru untuk menjadi konsumen informasi dan hiburan. Terdiri dari jurnalis (wartawan, penulis) dan promotor (humas, jurubicara, jurukampanye, dsb.).

Aktivis – (a) Jurubicara (spokesman) bagi kepentingan terorganisasi, tidak memegang atau mencita-citakan jabatan pemerintahan, juga bukan profesional dalam komunikasi. Perannya mirip jurnalis. (b) Pemuka pendapat (opinion leader) –orang yang sering dimintai petunjuk dan informasi oleh masyarakat; meneruskan informasi politik dari media massa kepada masyarakat. Misalnya tokoh informal masyarakat kharismatis, atau siapa pun yang dipercaya publik.

Proses Komunikasi Politik

Proses komunikasi politik sama dengan proses komunikasi pada umumnya (komunikasi tatap muka dan komunikasi bermedia) dengan alur dan komponen:

  1. Komunikator/Sender – Pengirim pesan
  2. Encoding – Proses penyusunan ide menjadi simbol/pesan
  3. Message – Pesan
  4. Media – Saluran
  5. Decoding – Proses pemecahan/ penerjemahan simbol-simbol
  6. Komunikan/Receiver – Penerima pesan
  7. Feed Back – Umpan balik, respon.

Saluran Komunikasi Politik

  1. Komunikasi Massa – komunikasi ‘satu-kepada-banyak’, komunikasi melalui media massa.
  2. Komunikasi Tatap Muka –dalam rapat umum, konferensi pers, etc.— dan Komunikasi Berperantara –ada perantara antara komunikator dan khalayak seperti TV.
  3. Komunikasi Interpersonal – komunikasi ‘satu-kepada-satu’ –e.g. door to door visit, temui publik, etc. atau Komunikasi Berperantara –e.g. pasang sambungan langsung ’hotline’ buat publik.
  4. Komunikasi Organisasi – gabungan komunikasi ‘satu-kepada-satu’ dan ‘satu-kepada-banyak’: Komunikasi Tatap Muka e.g. diskusi tatap muka dengan bawahan/staf, etc. dan Komunikasi Berperantara e.g. pengedaran memorandum, sidang, konvensi, buletin, newsletter, lokakarya, etc.

Referensi:

Prof. Onong Uchjana Effendy, M.A. Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi, Citra Aditya Bakti Bandung, 2003; Prof. Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia Jakarta, 1982; Dan Nimmo, Komunikasi Politik, Rosda Bandung, 1982; Gabriel Almond and G Bingham Powell, Comparative Politics: A Developmental Approach. New Delhi, Oxford & IBH Publishing Company, 1976; Jack Plano dkk., Kamus Analisa Politik, Rajawali Jakarta 1989.*

By ASM. Romli. Ikhtisar perkuliahan “Komunikasi Politik” Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Fisip Universitas Al-Ghiffari (Unfari) Bandung.

 

Interview with Cinta Laura

Posted in Budaya Pop on February 26, 2008 by emjaiz


Once upon a time…
Yes, akhirnya aku bisa wawancara dengan idola anak muda masa kini! Weits, siapa lagi kalo bukan Cinta Laura Kiehl, you damn right guys! Aduh aku grogi banget nih *mata kedip-kedip* apalagi ini wawancara pertama kali ma artis sejak aku keterima jadi wartawan infotainment Chek & Bechek. Baiklah, kita mulai ya…

Dimas : “Halo Cinta, dueh cantik banget nih…” *senyum lebar*
CL : *bibir mulai seperti cumi-cumi* “Thanks Diymash… So what can I banchu?”
Dimas: “Cinta, udah punya boyfriend baru belum nih?”
CL: “Hm beylumh… By teh way akhu gak suka dengan iscilah boyfriend.. Aku lebih suka disebut cheman dekat.. Cheman buat punching, running, lari lari kecil.”
Dimas: *duh pacaran aja ma anjing pelihar aan * “Oh gitu… Terus udah gak ma Darwin ya sekarang?”
CL: “Ichu bechul!”
Dimas: “Lho kenapa dulu bisa suka?” *wajah penasaran*
CL: “Kayrena Darwin itu smart, pinthar.”
Dimas: *du du du, sama aja kali jeng smart ma pintar* “Loh padahal dulu kalian tuh mesraaaa banget! Apalagi waktu itu sempet ngasi hadiah ultah ke dia, iya kan?”
CL: “Ichu bechul. Duylu semphet thingking mauh kasyih perfume, tapih kacha mama akhu, perfume ichu wanginya gak longlasting… Jadi mendingan kasi bracelet from platina.”
Dimas: *kepala udah mulai pusing* “Hm Cinta, maaf nih, kamu kok memang susah ya ngomong pakai bahasa Indonesia?”
CL: “Akhu bukannya cannot speak in Indonesya aan bahaawsaa, cuwwma prefer talk in english, its fun you know!”
Dimas: *senyap* “Oh I know… I know… Cerus… Eh terus Cinta, dulu jaman bulan puasa katanya suka berbuka dengan sushi atau puding, masih suka makan itu?”
CL: “Cool! Kamhu ingeth ajya. Chuuushyyyii sama phudding scrawberry my favorite food kharena vaicheminnya shama pruceinnya chukup, in my school ithu makhanannyha lhengkhap and enhak enhak bhanghet! Sebencar…. Guys.. I would like to eat sussccchhyyyiiii. . . Wanna?!” *Cinta berteriak ke temen-temen kru shootingnya*
Dimas: *sialan aku gak ditawarin* “Tapi Cinta, denger-denger kamu punya penyakit maag, kalo kambuh beli obat dimana dong?”
CL: “Chintah engga tauh yah soalnya sama mamah engga boleh belyi obathh warungh gethu seh …. I prefer beli di aphoteg. Taphi sempeth wakcu kambuh Chintah confused belyi obath.”
Dimas: “Lho kenapa?!”
CL: “Cause di luar ujy aan , becyegh, gak ada ojyegh….”
Dimas: *pengen ngelempar mic ke mukanya* “Oh gitu… Eits hampir lupa. Selamat ya, Cinta kan mau maen film perdana Oh Baby, seru banget sepertinya, jadi dancer kan ceritanya? Susah gak perannya?”
CL: “Akhu emanghh bissya denss jadi gak susyahh.”
Dimas: “Terus kok pake acara fitness segala buat persiapan, kenapa gitu?”
CL: “Mewrekha syih ghak syuruh akhu apha-apha, ghak syuruh akhu fitness, merekha bilhang badan akhu udah bagus, taphiy akhu aja yang puenghen, cause you know, maysa denser badhannya biasa aja, harusnya sesuatu speccciall dhong! Apalaghi salah sacu pemainnya disicu berocot bangeth capi cowok, so fantastic!, Boom, aku ghak mau kalah! Hihihi.” *CL tertawa dengan semangatnya*
Dimas: *gak tau mau ngomong apa lagi* “Terus Cin, gak capek fitness gitu?”
CL: “Aghak sedikit linyu-linyu capi sehabis training akhu gak ngerasa chapeck sayma sekali, I dont know mungkyin kareyna akhu dulhu memang athelete banget crus sering banget olah rayga, buat akhu iniy secelah habis training gak capheck sama sekaliy.”
Dimas: *semakin merasa menyesal* “Cerus… Eh terus kalo dah sixpack mau ngapain dong?”
CL: “Nanthi kalo udah dapath six pack akhu mau mancain sixpack aku and you know, jangan sampe makanannya ghak koncrol lagi, aku ghak mau, kareyna akhu mau always look really good, haha…” *mulut cumi-cuminya bergetar hebat*
Dimas: *tatapan ngeri* “Baiklah Cinta, makasih ya untuk waktu wawancaranya. Ada pesan-pesan buat penggemar di rumah?”
CL: “I just wanna say selamat caun baryu walau udah lewat.. Wish all your wishes come true… Yeahh… Rock on!”
Dimas: *aku menyesal menjadi wartawan infotainment… *

Note: Semua jawaban Cinta Laura dikompilasi dari interview nyata para wartawan infotainment yang luar biasa tabah. Buat Cinta Laura sayang, not hurt feeling ya darling, daku tetep penggemar beratmu, ini cuma iseng kok, cause its fun! Yeahh…

Seberapa Penting Etika dalam Iklan?

Posted in Periklanan on February 25, 2008 by emjaiz

Meskipun ada peraturan tentang etika periklanan namun iklan-iklan yang sudah beredar kerapkali tersandung masalah etika. Sebenarnya masih pentingkah etika dalam sebuah iklan?

Adhita Idris
Marketing Manager Colas and Teas PT Coca-Cola Indonesia

Etika buat saya itu menyangkut seperti apa cara menyampaikan produk itu ke masyarakat. Selama caranya baik dan dijalankan dengan manner menurut saya tidak apa-apa. Meskipun misal dengan menjatuhkan produk lain tapi berdasarkan riset dan fakta yang betul, kenapa nggak? Sebenarnya komunikasi iklan kan tergantung produk dan segmen apa yang ingin dituju, kalau misal targeted seperti bicara pengawet terus fokusnya pada orang yang tertarik pada hidup sehat gak papa. Tapi kalau massive pasti ada pro dan kontra, ada yang merasa perlu ataupun tidak.

Menurut saya aturan untuk etika itu perlu, sehingga ada rules dan regulasi sebagai batasan-batasan, dan selama juga dilaksanakan dengan tidak mencekal kreatifitas. Dengan peraturan supaya ada acuan juga buat kita yang mau beriklan. Mestinya tiap pengiklan dan biro iklan sudah tahu peraturan yang ada sebelum membuat iklan. Sehingga saat mereka ingin membuat suatu kreatifitas tidak mengalami pencekalan.

Hakim Lubis
Pengarah Kreatif Octocomm

Tidak semua orang aware bahwa banyak hal yang sebenarnya tidak boleh mereka gunakan. Baik itu aneka kata superlatif, disclaimer, hadiah langsung selama persediaan masih ada atau untuk 100 pengirim pertama, di luar negeri itu sudah tidak boleh. Harus dipisahkan antara yang superlatif dengan yang disclaimer. Orang masih banyak memakai itu karena tidak pernah ada tuntutan dari konsumen. Pada produk rokok dan obat-obatan sudah ada rambu-rambu dan pengawasnya. Sedangkan pada produk lain belum ada pengawasnya, sehingga orang bablas saja. Harusnya iklan-iklan Indonesia itu bisa sangat kreatif tanpa harus membodohi masyarakat. Saya kok lebih concern pada upaya kearah meningkatkan kualitas iklan. Walaupun memang iklan yang baik adalah bukan iklan yang dengan terang-terangan produk ini produk terbaik, namun iklan yang mampu menggiring target pasarnya bahwa merek ini adalah merek yang terbaik.

Huzna Zahir
Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia

Etika dibuat tentu karena ada kecenderungan yang salah dari iklan. Iklan biasanya kan lebih persuasif tentang produknya daripada memberikan unsur edukasi pada masyarakat. Untuk itu kita lebih perhatikan kebenaran informasi atau persepsi yang ditimbulkan dari produk itu. YLKI tidak punya program atau pengawasan khusus untuk etika ini, tapi kita lebih mendorong masyarakat atau kelompok seperti LSM untuk mengkritisi misal lewat media massa jika saat mereka merasa terganggu akan berani mengekpresikan. Sehingga masyarakat lebih pro-aktif dan masyarakat juga punya kekuatan. Seringkali etika itu dibilang regulasi tapi voluntary. Jadi lebih ke sanksi moral atau hanya sebagai teguran berupa surat peringatan. Etika itu sendiri menjadi tanggung jawab moral masing-masing. Bisa saja berargumen bahwa itu sebagai bentuk kreatif tapi harusnya pelaku usaha sensitif dan menyadari bahwa masyarakat kita tidak homogen. Badan pengawas etika sendiri kan pastinya dari perwakilan orang-orang periklanan, seharusnya itu bisa menjadi self control kalangan periklanan

COPYWRITING

Posted in Periklanan on February 25, 2008 by emjaiz
Dianggap bagian dr komponen iklan, Bagian dari trilogi Desain – Marketing – Media, Copy base VS Visual Base, gabungan antara sastrawi dengan intelektual.

Copywriting menjadi bagian tekstual dalam iklan.
Definisi iklan adalah:
• berita pesanan untuk mendorong, membujuk khalayak ramai agar tertarik pada barang dan jasa yg ditawarkan
• pemberitahuan kpd khalayak mengenai barang dan jasa yang dijual, dipasang di media massa seperti koran dan majalah, atau di tempat-tempat umum (Kamus besar bhs Indonesia)

What is Copywriting?
Benda abstrak berstruktur verbal yang membangunkan emosi dan membentuk imajinasi sehingga mempengaruhi pembaca atau pendengar untuk berbuat seperti yang diharapkan.
Karya tulis yang disusun secara kreatif dengan kata-kata kaya olahan sehingga keajaiban makna tercipta.

Kaya makna dan menggugah……
Artinya, struktur bagan kata dalam copy haruslah :
Menggugah, mencermati kebutuhan konsumen, memberi solusi dan memberikan perhatian
Informatif, kata yg digunakan jelas, bersahabat, rinci, dan komunikatif. Tak bertele-tele apalagi mengabaikan durasi
Persuasif, kalimat membuat konsumen nyaman, senang dan tenteram
Bertenaga, komposisi kata yg membimbing konsumen untuk menghargai waktu selama masa penawaran/promosi
Punya solusi, komposisi kata membantu konsumen memperoleh yang diinginkan secepat dan semudah mungkin.

Kesimpulan definisi Copywriting adalah:
- Pengertian copywriting selalu mengarah ke kegiatan beriklan (promotif)
- Copywriting identik dengan kemampuan membuat dan menghasilkan tulisan/teks untuk kepentingan beriklan.
- Posisi copywriting sangat penting dlm proses eksekusi sebuah iklan, krn didlmnya ada gambaran mengenai bentuk arahan, dan target yg akan dicapai

Bentuk naskah copywriting selalu punya kedalaman makna, baik harafiah maupun psikologis
Copywriting mengenal perpaduan gaya bahasa faktual dengan imajinasi dan memberikan nilai lebih.
Aspek emosional dlm copywriting seringkali diutamakan dibanding aspek rasional
Copywriting haruslah karya yang bertanggungjawab dari sisi aspek hukum.

Copywriting disusun berdasarkan:
• Siapa yang hendak menerima pesannya (TA, TM, Demografis, Psikografis, Behaverior, Geografis)
• Sesuaikan bahasa, dan kalimat pada TA-nya
• Apa yang menjadi inti dari pesan, susunlah tata urut dan bunyinya agar enak.
• Kekuatan copy ada pada kedalaman makna yang mempengaruhi aspek psikologis dan meyakinkan.

ADVERTISING

Posted in Periklanan on February 25, 2008 by emjaiz

Pingin jadi orang iklan ?
Syaratnya apa ?

• Kreatif segala hal (universal )
• Tidak perlu takut kalau gak bisa gambar
• Bisa membayangkan mimpi menjadi kenyataan
• Suka otak atik otak
• Berani dan Kritis serta analisis tajam.
• Bisa kerja team
• Tidak harus berbackground seni rupa/desain/komunikasi.
• Tahan bantingan (mental ).
• Punya sense marketing dan research tinggi.

Kalau sudah jadi orang iklan ?
Terus kerjaannya apa ?


BINA USAHA
• Mencari client baru
• Merumuskan Strategy product
• Membuat rekomendasi total IMC
• Mengadakan relationship dengan client
• Seakan menjadi “staff promosi” di Client.

BINA KREATIF
• Mencari Strategy eksekusi iklan
• Berusaha menjadi konsumen
• Dengar, Baca, lihat, analisis , tulis.
• Selalu brainstorming ide.
• Berpikir IDE TIDAK AKAN HABIS
• Imajinatif dan keluar pola.

BINA MEDIA
• Mengadakan research tentang perilaku konsumen
• Membuat perencanaan media placement
• Memberikan kontribusi ide perihal media concept
• Mengecek setiap placement di media

Full Service Agency seperti apa ?
Bentuk utama dari komunikasi pemasaran (IMC)


1. Penjualan perorangan (personal selling)
2. Iklan (Advertising)
3. Promosi penjualan (sales promotion)
4. Pemasaran sponsorship (sponsorship marketing)
5. Publisitas (Publicity) —- advertorial adv.
6. Point of Purchase (Komunikasi di tempat pembelian)

Perkembangan Biro Iklan di Indonesia
• JAKARTA masih menjadi barometer
• Biro Iklan Lokal masih kalah jauh dengan Biro iklan di Jakarta
• Penghargaan Ide di Jakarta masih lebih bagus dibanding kota lain
• Susana kompetitif di Jakarta lebih menjadi tertantang ( SDM)
• Beberapa billing terbesar dikuasai biro iklan Jakarta berbasis afiliasi luar.

Perkembangan Biro Iklan di daerah
• Banyak mengatasnamakan advertising tapi pola kerja bukan Advertising lagi.
• Kualitas dan kuantitas kalah hanya karena bersaing harga.
• Penghargaan ide masih kalah karena berpikir siapa murah dialah yang menang
• Merasa puas dengan kondisi lokal .(belum tertantang menyaingi Jakarta).

Biro Iklan Afiliasi:
- First Edition
- Euro RSCG Adwork
- Leo Burnett Kreasindo
- Lowe
- TBWA
- Ogilvy and Mather
- JWT Adforce
- Mc Cann Erickson
- Dentsu
- Grey
- Hokuhodo

Biro Iklan Non Afiliasi:
- Matari
- Hotline Ad
- MACS 909
- Fortune Indonesia
- Artek n’ Partners
- JC&K
- CCHQ
- Avicom
- Poliyama
- Satu Citra

Biro Iklan Lokal:
- Jawa Ad
- Tecma Solo
- Citra Nusa
- Mata Merah
- Petakumpet
- Mara Ad
- EnRGi
- Exist Comm