<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Blog Pak Jaiz</title>
	<atom:link href="http://emjaiz.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://emjaiz.wordpress.com</link>
	<description>Kom Banget!</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Oct 2009 03:19:49 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='emjaiz.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/14a5d60704efdb7925d90f14ef9a9199?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Blog Pak Jaiz</title>
		<link>http://emjaiz.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>ABOVE THE LINE (Media Lini Atas) Dan BELOW THE LINE (Media Lini Bawah)</title>
		<link>http://emjaiz.wordpress.com/2009/10/30/above-the-line-media-lini-atas-dan-above-the-line-media-lini-bawah/</link>
		<comments>http://emjaiz.wordpress.com/2009/10/30/above-the-line-media-lini-atas-dan-above-the-line-media-lini-bawah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 03:16:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emjaiz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Periklanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emjaiz.wordpress.com/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[ 

Above The Line (ATL) adalah aktifitas marketing/promosi yang biasanya dilakukan oleh manajemen pusat sebagai upaya membentuk brand image yang diinginkan, contohnya : iklan di Televisi dengan berbagai versi.
Sifat ATL merupakan media ‘tak langsung’ yang mengenai audience, karena sifatnya yang terbatas pada penerimaan audience.

 
Below The Line (Media Lini Bawah) adalah segala aktifitas marketing atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emjaiz.wordpress.com&blog=2472621&post=265&subd=emjaiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if !mso]&gt; &lt;!  v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} p\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} v\:textbox {display:none;} --> <!--[endif]--><!--[if !ppt]--><!-- .O 	{color:#006699; 	font-size:149%;} a:link 	{color:#CC99FF !important;} a:active 	{color:#EBF7FF !important;} a:visited 	{color:#F2DFFD !important;} --><!-- .sld 	{left:0px !important; 	width:6.0in !important; 	height:4.5in !important; 	font-size:103% !important;} --><!--[endif]--></p>
<div>
<div>Above The Line (ATL) adalah aktifitas marketing/promosi yang biasanya dilakukan oleh manajemen pusat sebagai upaya membentuk brand image yang diinginkan, contohnya : iklan di Televisi dengan berbagai versi.</div>
<div>Sifat ATL merupakan media ‘tak langsung’ yang mengenai audience, karena sifatnya yang terbatas pada penerimaan audience.</div>
</div>
<div><!--[if !mso]&gt; &lt;!  v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} p\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} v\:textbox {display:none;} --> <!--[endif]--><!--[if !ppt]--><!-- .O 	{color:#006699; 	font-size:149%;} a:link 	{color:#CC99FF !important;} a:active 	{color:#EBF7FF !important;} a:visited 	{color:#F2DFFD !important;} --><!-- .sld 	{left:0px !important; 	width:6.0in !important; 	height:4.5in !important; 	font-size:103% !important;} --><!--[endif]--></p>
<div>Below The Line (Media Lini Bawah) adalah segala aktifitas marketing atau promosi yang dilakukan di tingkat retail/konsumen dengan salah satu tujuannya adalah merangkul konsumen supaya aware dengan produk kita, contohnya : program bonus/hadiah, event, pembinaan konsumen dll.</div>
<div>
<div>
<div>Semua aktifitas ini biasanya dilakukan oleh kantor perwakilan di daerah yang menjadi area pemasarannya. Pada intinya aktifitas BTL selalu bertujuan untuk mendukung dan memfollow up aktifitas ATL.</div>
<div>Sifat BTL merupakan media yang ‘langsung’ mengena pada audience karena sifatnya yang memudahkan audience langsung menyerap satu produk/pesan saja.</div>
</div>
</div>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emjaiz.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emjaiz.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emjaiz.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emjaiz.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emjaiz.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emjaiz.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emjaiz.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emjaiz.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emjaiz.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emjaiz.wordpress.com/265/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emjaiz.wordpress.com&blog=2472621&post=265&subd=emjaiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emjaiz.wordpress.com/2009/10/30/above-the-line-media-lini-atas-dan-above-the-line-media-lini-bawah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1890794f408bb1a2d48bf2b2f63e0cfe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emjaiz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Below The Line ( BTL)</title>
		<link>http://emjaiz.wordpress.com/2009/10/30/below-the-line-btl-2/</link>
		<comments>http://emjaiz.wordpress.com/2009/10/30/below-the-line-btl-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 03:09:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emjaiz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Periklanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emjaiz.wordpress.com/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[Below The Line ( BTL) adalah segala aktifitas marketing atau promosi yang dilakukan di tingkat retail/konsumen dengan salah satu tujuannya adalah merangkul konsumen supaya aware dengan produk kita, contohnya : program bonus/hadiah, event, pembinaan konsumen dll. Semua aktifitas ini biasanya dilakukan oleh kantor perwakilan di daerah yang menjadi area pemasarannya. Pada intinya definisi below the [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emjaiz.wordpress.com&blog=2472621&post=261&subd=emjaiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Below The Line ( BTL) adalah segala aktifitas marketing atau promosi yang dilakukan di tingkat retail/konsumen dengan salah satu tujuannya adalah merangkul konsumen supaya aware dengan produk kita, contohnya : program bonus/hadiah, event, pembinaan konsumen dll. <span id="more-261"></span>Semua aktifitas ini biasanya dilakukan oleh kantor perwakilan di daerah yang menjadi area pemasarannya. Pada intinya definisi below the line adalah bentuk iklan yang tidak disampaikan atau disiarkan melalui media massa, dan biro iklan tidak memungut komisi atas penyiarannya/pemasangannya. Kegiatan promosi <em>below the line</em> suatu <em>brand</em> paling banyak dilakukan melalui beragam <em>event</em>. Dengan event ini, konsumen akan berhubungan langsung dengan <em>brand</em>, sehingga bisa terjadi komunikasi antara <em>brand</em> dengan konsumen. Beragam pendekatan dalam melakukan <em>brand activation</em> ini sudah banyak dilakukan.</p>
<p>JENIS-JENIS MEDIA LINI BAWAH</p>
<ol>
<li>LITERATUR      PENJUALAN</li>
</ol>
<p>Banyak barang dan jasa yang bisa dijual dengan lebih mudah kalau konsumen diberi tulisan/literatur yang secara lebih rinci menjelaskan kegunaan, karakteristik dan berbagai aspek lainnya dari produk yang bersangkutan. Tulisan yang membuat aneka informasi mengenai produk itulah yang disebut sebagai literatur penjualan. Cara penawaran literature ini bisa lewat iklan, dikirim lewat pos dengan disertai produknya sendiri (misalnya pada bungkusannya atau kemasannya. Atau bisa juga disediakan di point of salenya). Bentuk-bentuk literature penjualan itu sendiri cukup bervariasi, antara lain:</p>
<ul>
<li>Leaflet, berwujud sehelai kertas dari bagan yang agak kaku (agar tidak mudah robek,ditekuk, atau dilipat)</li>
<li>Folder, seperti tersirat dari namanya, folder adalah selembar bahan cetakan yang bisa jadi ukurannya cukup besar yang penampilannya diperingkas dengan cara melipat folder menjadi dua seperti map atau buku agar mudah dibawa-bawa. Atau bisa juga dilipat dengan gaya corcentina sehingga membentuk beberapa halaman terpisah tanpa perlu dipotong.</li>
<li>Brosur atau booklet. Bila literature berjumlah kelipatan empat halaman, maka literature penjualan tersebut bisa dijilid dengan semacam penjepit yang sederhana, sementara halaman-halaman tunggal dapat dijilid dengan cara penjilidan seperti biasa, dimana sisi kiri dilem dan kemudian diberi cover agar lebih kuat dan indah.</li>
<li>Broadsheet, bentuk literature ini sebenarnya sekedar merupakan jenis lain dari folder yang tidak dilipat dan berukuran sama dengan sehalaman surat kabar. Peta, atlas dan poster-poster kecil biasa dicetak dengan ukuran ini. Istilah ini juga dipakai untuk menyebut halaman surat kabar yang berukuran besar (normal), guna membedakannya dengan ukuran halaman tabloid.</li>
<li>Catalog. Adalah sejenis brosur yang menerangkan dan kadang-kadang ditambah dengan ilustrasi tentang berbagai produk yang ditawarkan perusahaan dengan harganya. Ukurannya bermacam-macam mulai dari ukuran saku sampai yang sebesar buku telepon, tergantung keperluan bisnisnya.</li>
<li>Jadwal perjalanan. Literature penjualan ini juga tergolong brosur, dan ukurannya bisa menyerupai sebuah buku saku yang cukup tebal sepertiu jadwal penerbangan atau bisa juga berupa folder-folder kecil seperti jadwal untuk bis dan kereta api. Pada umumnya jadwal yang berisi catatan keberangkatan dan kedatangan kereta api atau penerbangan seukuran buku tulis.</li>
<li>Kartu pos berwarna. Publisitas yang bermanfaat bisa didapat dengan menghadiahkan kepada para pelanggan kartu pos yang menarik. Hal ini sudah lazim dilakukan oleh menejemen hotel-hotel, maskapai penerbangan dan lain-lain.</li>
<li>Peralatan tulis menulis. Amplop-amplop dan kop surat yang ditempatkan di kamar-kamar hotel tidak saja berguna sebagai salah satu layanan hotel, namun benda-benda tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai wahana iklan. Disitu dapat dituliskan nama produk-produk atau jasa yang tersedia, atau sekedar daftar alamat dan nomor telepon pihak perusahaan. Cara sederhana ini sering berhasil mengundan datangnya pesanan.</li>
<li>Sisipan/stuffer. Ini adalah leaflet-leaflet yang ditempatkan atau disisipkan dalam kotak atau kemasan produk yang bersangkutan. Isinya adalah petunjuk-petunjuk tentang bagaimana cara menggunakan suatu produk atau kegunaan-kegunaan mengiklankan produk-produk lain dari suatu perusahaan.</li>
<li>Agenda/ catatan harian kecil, baik buku catatn harian atau diary meja maupun yang berukuran saku memiliki iklan yang lama, karena diary dipakai sepanjang tahun dan diary baru atau diary yang diisi kembali bisa diberikan setiap tahun seperti untuk hadiah tahun baru. Selain sebagai hadiah keneng-kenangan, ini merupakan wahanaiklan yang sederhana akan tetapi cukup efektif.</li>
<li>Catatan nomer telepon, bisa berupa kertu-kartu gantung atau buku pencatatseukuran saku yang tampak serasi jika ditempatkan disamping telepon.</li>
<li>Kartu jaminan. Kartu ini lazim dipasang menyertai berbagai produk, berisikan petunjuk-petunjuk yang bersangkutan termasuk cara penggunaannya atau perawatannya.</li>
<li>Kartu-kartu garansi. Selain untuk memberi nomor register penjualan yang dibutuhkan sebagai garansi, kartu-kartu ini juga bisa digunakan sebagai wahana untuk mengumpulkan detil-detil pembelian at5au aneka informasi lainnya dari konsumen dalam rangka suatu riset.</li>
<li>Daftar harga dan formulir pemesanan. Kedua jenis literature penjualan ini bisa disatuikan atau dibuat terpisah. Formulir-formulir pemesanan harus dirancang sedemikian ruapasehingga mudah diisi, dan informasi lainnya seperti jumlah pemesanan/order atau jumlah pembayaran, serta alamat lengkap si pemesan harus tertera jelas.</li>
</ul>
<ol>
<li>BENDA-BENDA      PAJANGAN DI TEMPAT PENJUALAN (POINT OF SALES DISPLAY MATERIAL)</li>
</ol>
<p>Yang dimaksud dengan benda pajangan adalah benda-benda yang sengaja dirancang untuk menarik perhatian pengunjung, serta mempertinggi kemungkinan terjadinya penjualan. Pajangan tersebut bisa juga menjadi semacam pertanda bahwa suatu tempat atau pihak perusahaan tertentu merupakan pemasok produk tersebut.</p>
<p>Benda-benda pajangan cukup bervariasi, di antaranya:</p>
<ul>
<li>Mobil atau alat peraga bergerak. Mobil ini biasanya dipasangi dengan potongan-potongan pajangan yang diikat pada semacam kawat yang merentang dari atap took sehingga bila tertiup angina ia berkibar-kibar. Mobil-mobil semacam ini banyak dipakai oleh supermarket-supermarket yang ruang pajangnya terbatas.</li>
<li>Poster. Poster berukuran crown atau double crown biasanya selalu ada di ruang-ruang pajang, di dinding dekorasi, pintu-pintu serta jendela-jendela toko. Selain poster-poster bergambar dan berwarna ada pula poster yang dibuat dari kain sutra yang mengkilap warnanya, yang sering dipakai barbagai took untuk mengumumkan adanya suatu penawaran khusus.</li>
<li>Stiker. Merupakan salah satu bentuk pajangan tertua, yang masa bertahannya sangat lama. Bentuknya adalah potongan-potonganh kertas yang bisa ditempel di sudut-sudut jendela.</li>
<li>Contoh-contoh kemasan. Kotak, bungkusan atau botol kosong yang serupa dengan produk aslinya juga berguna untuk pajangan di jendela, terutama untuk aneka produk yang mudah rusak jika dibiarkan terlalu lama dipajang, atau produk yang terlalu banyak memakan tempat jika dipajang secara utuh.</li>
<li>Produk sisa. Banyak supermareket mempunyai tong-tong yang dihiasi dengan nama-nama produk dan diisi dengan produk sisa yang bermerek yang ditempatkan di dekat kasir untuk menarik minat pembeli.</li>
<li>Stand kasa. Stand semacam ini, baik yang berdiri sendiri atau dipasang di atas meja counter, atau digantung di meja kasir, berisi suatu produk tertentu yang dijual secara swalayan. Stand tersebut harus dipasangi papan nama pabrik pembuatnya agar para pengecer tidak mengisinya dengan produk lain yang justru merupakan saingan mereka.</li>
<li>Kartu pajangan. Kartu-kartu semacam ini baik yang diikat maupun yang digantung, terbuat dari kertas atau logam, gampang dibawa jika si pengecer memiliki ntoko yang berpindah-pindah atau temporer. Krtu tersebut bertahan lama terutama yang bahannya kuat ada yang dipajang secara permanent, ketakanlah di meja resepsionis hotel, misalnya kertu-kartu kredit pajangan.</li>
<li>Kotak-kotak dispenser. Mirip dengan kartu pajangan, kotak dispenser sifatnya portable dan bisa dipasang secara permanent kalau leaflet-leaflet yang ada di dalamnya selalu dibutuhkan orang. Kotak dispenser seperti ini sering dipakai untuk memajang prospectus-prospectus asuransi, leaflet atau brosur wisata, dan formulir resmi.</li>
<li>Jam dinding. Inipun merupakan pajangan yang popular permanent karena setiap kali orang melihat jam, maka pada waktu yang bersamaan akan terbaca pula nama si pemasang iklan</li>
<li>Tokoh-tokoh iklan. Johnie walker, Ronald McDonald, Michelin Maa, Kelinci Enigizer merupakan tokoh-tokoh yang dasawarsa ini digunakan menjadi pajangan. Ada yang berupa patung atau potongan karton. Tokoh pajangan milik Michelin bahkan muncul dalam berbagai bentuk patung karet. Ada statis ada pula yang bergerak.</li>
<li>Model. Kerena bentuknya tiga dimensi dan berskala tertentu, maka model sifatnya anat realistis dan cocok untuk digunakan sebagai pajangan terutama barang-barang yang aslinya terlalu besar ataui yang mustahil dipajang di etalase. Misalnya model pesawat terbang.</li>
<li>Model bergerak. Model yang aktif biasany6a menarik perhatian sehingga ada saja orang yang berhenti dan mengamatinya.</li>
<li>Pajangan berlampu. Seperti halnya lampu hiasan yang berkedap-kedip atau berganti-ganti warna, symbol atau pajangan berlampu yang dipasang pada sebuah jendela akan menarik perhatian, khususnya bagi orang yang berlalu-lalang di depan toko atau di jalan raya setelah hari gelap. Perhatian akan tetap tercurah sekalipun tokonya tutup.</li>
<li>Kartu/ kotak dispenser. Ada dispenser yang ditempel secara utuh di dinding seperti kartu-kartu yang dipakai untuk mengambil kacang goreng, dan ada yang dipajang, di gantungan, dan berbentuk balon, kantong atau sachet untuk barang-barang sep[erti mainan, pisau cukur, kaset musik, barang-barang pandai besi, atau bolpen. Gantungan bisa dipasang di dinding atau took atau stand khusus atau fitting yang disediakan oleh pabrik. Dengan demikian dispenser merupakan salah satu bahan pajangan yang permanent dan bersifat swalayan.</li>
</ul>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emjaiz.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emjaiz.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emjaiz.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emjaiz.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emjaiz.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emjaiz.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emjaiz.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emjaiz.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emjaiz.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emjaiz.wordpress.com/261/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emjaiz.wordpress.com&blog=2472621&post=261&subd=emjaiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emjaiz.wordpress.com/2009/10/30/below-the-line-btl-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1890794f408bb1a2d48bf2b2f63e0cfe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emjaiz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERSPEKTIF LAIN SEJARAH PERIKLANAN INDONESIA</title>
		<link>http://emjaiz.wordpress.com/2009/10/08/perspektif-lain-sejarah-periklanan-indonesia/</link>
		<comments>http://emjaiz.wordpress.com/2009/10/08/perspektif-lain-sejarah-periklanan-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 05:28:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emjaiz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Periklanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emjaiz.wordpress.com/2009/10/08/perspektif-lain-sejarah-periklanan-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[ 
Oleh : Tritama dkk
Berawal dari Gerobak Sapi
Pada tahun 1930an, banyak poster dan papan reklame ditempel pada panel samping gerobak sapi yang hilir mudik mengangkut barang. Pada masa itu, kebanyakan papan reklame dicetak diatas lembar plat seng atau logam yang cukup tebal. Banyak pula yang dilapis enamel agar tahan lama. Setelah tahun 1948, ketika bahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emjaiz.wordpress.com&blog=2472621&post=227&subd=emjaiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong> </strong></p>
<p>Oleh : Tritama dkk</p>
<p><strong>Berawal dari Gerobak Sapi</strong></p>
<p>Pada tahun 1930an, banyak poster dan papan reklame ditempel pada panel samping gerobak sapi yang hilir mudik mengangkut barang. Pada masa itu, kebanyakan papan reklame dicetak diatas lembar plat seng atau logam yang cukup tebal. Banyak pula yang dilapis enamel agar tahan lama. Setelah tahun 1948, ketika bahan ”ajaib” yang bernama scothlite ditemukan banyak pula papan reklame yang menggunakan scothlite tadi karena mampu memantulkan cahaya dengan efek mengagumkan. Plat-plat seng reklame itu kini merupakan kolekters item yang berharga di pasar benda-benda antik. Ketika itu, produk yang paling banyak diiklankan melalui media luar ruang bergerak (moving outdoor media) antara lain adalah produk-produk ban sepeda dari goodyear dan michelin, produk sabun dan tapal lidi dari unilever, limun (soda pop) merek regional, dan produk rokok dari berbagai produsen, termasuk cerutu impor. Media opportunity pada waktu itu memang sangat terbatas, tetapi orang-orang periklanan sudah sangat kreatif menggunakan setiap peluang yang ada-termasuk media tradisional.<span id="more-227"></span></p>
<p>Belum terbayangkan ketika itu bahwa jauh di kemudian hari kreativitas iklan telah melahirkan berbagai media untuk menempatkan iklan diluar ruang. Transit advertising telah menjadi sub bisnis besar dalam periklanan. Sisi-sisi bus dan kendaraan umum dipasangan panel iklan, atau spanduk yang ditarik pesawat terbang rendah, bahkan penutup velg roda (hubcaps) maupun lampung punggung taksi. Tetapi, gajah di thailand yang sejak dulu sering ”ditempeli” papan iklan, sampai di zaman modern ini pun masih menjadi media iklan yang efektif. Surat kabar, tentu saja, merupakan media yang juga populer di indonesia sejak pertengahan awal abad ke 19. tetapi, berdasarkan kriteria umumnya sebetulnya iklan surat kabar sudah hadir di indonesia sejak tahun 1621 ketika gubernur jenderal Jan Pieterszon Con (1619-1629) menerbitkan Memorie De Nouvelles pamflet informasi semacam surat kabar yang memuat berbagai berita dari pemerintah hindia belanda, khususnya yang menyangkut mutasi dan promosi para pejabat penting di kawasan ini. Pamflet ini berupa tulisan indah (silografi) yang diperbanyak dengan mesin cetak temuan Johannes Gutenberg (1445).</p>
<p>Berita-berita yang dimuat itu sebetulnya merupakan iklan karena pemuatannya di Memorie De Nouvelles sepenuhnya di biayai oleh pemerintah hindia belanda. Sekalipun sangat berbau perbenturan kepentingan (conflict of interest, bahasa masa kini = KKN), tetapi sang gubernur jenderal Con adalah juga penerbit media itu dan sekaligus memiliki reclame Bureau yang megatur pemuatan ”berita di pamflet itu”. Con juga memakai Memorie de Nouvelles untuk memuat ”berita dengan pesan khusus ” untuk melemahkan daya saing peniaga portugis di kawasan maluku. Tentu saja, ada VOC dibelakang siasat perang dagang itu. Pada tahun 1744, terbitlah surat kabar pertama yang memakai teknologi cetak tinggi, dengan (plat cetak dari timah) di nusantara. Namanya : Bataviaasche Nouvelles. Tetapi, surat kabar yang juga disponsori oleh pemerintah hindia belanda pada masa gubernur Jenderal Gustaav Willem Baron Van Imhovv itupun sebetulnya lebih merupakan lembaran iklan karena memang lebih banyak menampilkan iklan dan dibiayai hampir sepenuhnya oleh pendapatan iklan pula. Maklum, surat kabar pada waktu itu hanya bertiras paling banyak hanya 2500 eks. Sehingga penghasilan sirkulasinya tentulah sangat sedikit.</p>
<p>Dari berbagai surat kabar yang terbit di jakarta, bandung, semarang, surabaya, makasar, manado, dan medan pada pertengahan abad ke 19, dapat dilihat hadirnya berbagai iklan barang dan jasa yang memenuhi halaman-halaman media cetak. Beberapa nama koran besar di masa itu antara lain adalah: Bataviaasch Nieuwsblad, Nieuws van de Dag, Java Bode (batavia), Preanger Bode (Bandung), De Locomotief (semarang, semula Samarangsche Nieuws en Advertentieblad), Nieuwe Vorstenlanden (solo), Soerabaiasche Courant (Surabaya, semula Oostpost), Makassararsche Courant (makasar), Tjahaja Siang (manado), Sumatra Post (Medan), dan Soematra Bode (padang).</p>
<p>Selain itu, telah mulai hadir pula berbagai surat kabar dalam bahasa melayu (sebelum kemudian menjadi bahasa indonesia sejak 1928.) surat kabar berbahasa melayu yang populer pada masa itu antara lain adalah Medan Moeslimin, Medan Prijaji, Sinar de Jawa, Sinar Terang, dan Soerat Kabar Minggoean. Kebijaksanaan kontrol informasi yang diterapkan sangat ketat oleh pemerintah hindia belanda pun membuat surat kabar tidak dapat menjalankan fungsinya secara penuh sebagai lembaga pemberita. Peran pers indonesia sebagai alat politik baru muncul pada awal abad ke 20 seiring dengan kegerakkan kebangkitan nasional dan lahirnya ordonasi pers yang mengatur pembredelan surat kabar.</p>
<p>Di zaman ”kuda gigit besi” itu, ikaln-iklan juga ramai diudarakan melalui radio, diproyeksikan di gedung bioskop dan ditampilkan melalui pertunjukan keliling (mobil propaganda) mirip tukang obat yang hingga kini masih banyak dijupai di berbagai kota kecil. Iklan radio sebetulnya mash merupakan sebuah novelty pada  awal bad ke-20 setelah radio commercial pertama dikumandangkan oleh stasiun WEAV di New York City pada 28 Agustus 1922. Sebuah perusahaan real estate di Quinsboro membayar US  $50 untuk penyuaran pesan komersial selama 5 hari.</p>
<p align="center">Adventertie poenza kaperloean soedah kentara , kerna advertentie perloenja boeat perkenalken barang-barang dagangan kita ada publiek. Kaloe barang jang kita dagangken tidak dikenal, bagaiman bisa dapatken pembeli</p>
<p align="center">
<p align="center">Liem Kha Tong</p>
<p align="center">
<p>Sebelum iklan hadir di radio, pesan komersial sudah lebih dulu hadir melalui saluran telepon. Pada tahun 193, perusahaan telepon di Hongaria ”menjual spot 12 detik di antara musik dan berita yan dipanarkan lewat telepon dengan tarif sekitar US $0.50. Perusahaan telepon AT&amp;T di Amerika Serikat juga pada awal abad ke-20 menerima pesan-pesan komersial yag dipancarkan melali cara call broadcasting ini.</p>
<p>Di Indonesia, radio sudah dikenal sejak awal abad ke-20. Tidak lama setelah Guglielmo Marconi menemukan gelombang suara dan mengembangkannya menjadi alat komunikasi yang bernama radio telegrafik, dan keudian berkembang lagi menjadi pemancar dan penerima gelombang radio. Radio Nederland WERELDOMROEP yang memancarkan siarannya ke seluruh dunia sejak taun 1920-an. Merupakan pemancar yang paling digemari kaum elite, khususnya orang-orang belanda di Indonesia pada waktu itu.</p>
<p>Akan tetapi, radio swasta baru muai hadir cikal bakalnya di Indonesia sejak akhir tahun 1960-an, yitu sejak tumpasnya pemberontakan G30 S/PKI. Sebelumnya, di Indonesia hanya dienal RRI yang telah mengudara sejak tahun 1945. RRI sendiri dapat dirunut sejarahnya sejak stasiun radio bentukan pemerintah Hindia Belanda yang dikendalikan oleh tentara pendudukan jepang.</p>
<p>Pada awalnya, beberapa mahasiswa di Bandung secara iseng-iseng mengudara dengan pemancar sederhana berkekuatan rendah. Pada waktu itu mereka menyebutnya sebaga radio amatir sebuah istilah yang salah kaprah kaena engertian amateur radio menjeaskan kegiatan yang berbeda dengan teknologi radio dua arah.</p>
<p>Kata “amatir” disini agaknya dipakai sebagai antonym dari “professional.” Stasiun-stasiun radio “amatir” ini meruakan bagian dari perlawanan politik kaum muda terhadap sisa-sisa PKI. Sebelumnya, mereka juga telah melakukan perlawanan dengan membentuk lascar dan batalyon, seperti LAskar Arif Rachman Hakim yang merupakan  onderboue dari KAMI. Maka, lahirlah radio ARH dan radio-radio semacam itu di Indonesia.</p>
<p>Gerakan itu dengan  cepet menyebar ke Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Radio Prambors kini telah mengembangkan jejarinnya dengan beberapa anak perusahaan stasiun radio yang masing-masing memiliki pasar khas di jalan Borobudur, Jakarta Pusat, juga dapat dirunut sejarahnya pada periode itu.</p>
<p>Kehadiran radio-radio ”Amatir” itu segera mendapat lirikan para pengiklan yang memang sedang membutuhkan media alternatif. Salah satu perintis pengguna radio ”amatir” di Indoesia sebagai  media iklan adalah Ajino  moto. Embanjirnya iklan di radio kemudian meningkatkan profesionalisme para pengelola radio ”amatir” apalagi karena pemerintah kemudian mengeluarkan peraturan pemerintah no.55 tahun 1970 yang ewajibkan semua stasiun radio siaran niaga dipayungi dalm wadah badan hukum berbentuk PT. Sejak saat itu, istilah ”radio amatir” berubah menjadi  ”radio siaran swasta niaga”.</p>
<p><strong>3.2 </strong><strong>Perintis Periklanan Indonesia</strong></p>
<p>Sejarah memang membuktikan bahwa iklanlah yang mengembuskan nafas awal bagi kehidupan surat kabar di Indonesia. Pada masa-masa awal keidupan pers Indonesia dan keadaan ini berlanjut hingga awal abad ke-20 surat kabar tidak lain adalah <em>advertentieblad </em>(media iklan) belaka. koran (dari bahasa Belanda: <em>het krant</em>, dan dari bahasa perancis: <em>courant</em> ), sebagian besar isi beritanya adalah iklan tentang perdagangan, pelelangan, dan pengumuman resmi Pemerintah Hindia Belanda. Sesuai dengan khalayaknya, iklan disurat kabar menampilkan produk-produk yang merupakan konsumsi kelas atas. Misalnya, sebuah toko P&amp;D (<em>provisien en dranken</em>= kebutuhan makanan dan minuman) yang mengumumkan datangnya kapal dari Negeri Belanda membawa mentega dan stok keju baru. Cerutu dan bir juga merupakan komoditas impor di masa itu, dan sering muncul diiklankan di surat kabar. Pada masa itu, mobil malah jarang muncul di iklan surat kabar. Mungkin karena masih merupakan <em>seller’s market</em> dan pembeli mobil malah harus antre sebelum mobil yang dipesan didatangkan dari negri jauh. Berbeda sekali dengan kondisi pasar kendaraan bermotor yang sangat kompetitif di masa sekarang.</p>
<p>Pada awal abad ke-20 perusahaan terbesar pada saat itu, Aneta, mendatangkan tiga orang tenaga spesialis periklanan dari Negeri Belanda. Mereka adalah: F. Van Bemmel, Is van Mens, dan Cor van Deutekom. Mereka didatangkan atas sponsorship BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij, perusahaan minyak terbesar saat itu) dan General Motors yang perlu mempromosikan produk-produk mereka. Van Bemmel kemudian ditawari pekerjaan oleh pemilik surat kabar <em>De Locomotief</em> di Semarang unuk mendirikan sebuah perusahaan periklanan. Tidak lama kemudian, Van Bemmel pun hengkang dari perusahaan yang dirintisnya itu, dan kemudian mendirikan sendiri sebuah perusahaan periklanan bernama NV Overzeesche Handelsvereniging untuk menangani berbagai produk impor seperti mobil dan sepeda. Van Bemmel hanya perlu bekerja selama 10 tahun di Indonesia, dan pulang kembali ke Negeri Belanda untuk membangun sebuah Bank dari hasil keuntungan yang diraupnya selama berusaha di Indonesia. Pada masa perintisan periklanan Indonesia, hampir semua perusahaan periklanan merupakan afiliasi perusahaan media sesuatu yang di masa sekarang justru dianggap sebagai perbenturan kepentingan. Pemilik surat kabar <em>Java Bode</em>, misalnya, juga memilki sebuah perusahaan periklanan HM van Drop yang diawaki oleh seorang bernama C.A Kruseman. Ia dianggap sebagai salah seorang perintis dalam periklanan di Indonesia.</p>
<p>Menjelang akhir abad ke-19 perusahaan-perusahaan periklanan yang dimiliki dan dikelola oleh Cina keturunan mulai bermunculan. Resesi ekonomi yang melanda dunia tahun 1890 rupanya berdampak sangat buruk bagi dunia usaha. Termasuk banyak percetakan pers milik orang-orang Belanda. Peluang inilah yang ternyata mampu dimanfaatkan oleh kelompok Cina keturunan. Pelopor periklanan dari kelompok ini adalah <strong>Yap Goan Ho</strong>, yang memiliki perusahaan periklanan sendiri di Batavia. Yap Goan Ho sebelumnya adalah seorang copywriter di perusahaan periklanan De Locomotief. Perusahaan periklanannya diberi nama Yap Goan Ho, mulanya dikontrak olah suratkabar berbahasa Melayu, Sinar Terang (terbit 1888-1891). Perusahaan periklanan ini hanya bertahan tiga tahun, akibat bangkrutnya surat kabar Sinar Terang.</p>
<p>Iklan-iklan yang ditangani Yap Goan ho kebanyakan untuk produk buku. Khususnya yang diterbitkan untuk masyarakat Cina. Setelah ditutupnya Sinar Terang, Yap Goan Ho kembali berusaha mengembangkan sendiri perusahaan periklanannya. Untuk itu dia mengumpulkan modal dari bekerja mencari iklan bagi beberapa suratkabar. Dia mengkhususkan diri pada iklan-iklan pelelangan barang milik para pejabat Belanda. Kebanyakan barang-barang milik para pejabat yang akan mengakhiri masa jabatannya di Hindia Belanda. Iklan-iklan pelelangan ini utamanya ditujukan pada khalayak pribumi, dan sebagian besar dimuat di suratkabar De Locomotief. Tokoh Cina keturunan lain adalah<strong> Liem Bie Goan</strong>. Seperti juga Yap Goan Ho, perusahaan periklanan Liem Bie Goan juga dikontrak oleh suratkabar. Suratkabar yang mengontraknya adalah Pertja Barat yang terbit di Padang tahun 1890-1912. Iklan yang menonjol dari perusahaan periklanan ini adalah produk pecah belah. Khalayak sasarannya adalah penduduk Eropa yang tinggal di Hindia Belanda.</p>
<p>Dari luar Jawa tercatat juga nama <strong>Kadhool</strong> sebagai tokoh lain periklanan. Seperti Yap Goan Ho, dia juga mantan penulis naskah di perusahaan periklanan De Locomotief. Kadhool sekolah di Hwee Koan, Cina. Perusahan periklanannya bernama Firma Tie Ping Goan, namun dikelola dan dimiliki sendiri oleh Kadhool. Tidak ada catatan mengapa nama perusahaan periklanan ini tidak menggunakan namanya. Di duga, Tie Ping Goan adalah nama lain dari Kadhool. Iklan-iklan Tie Ping Goan umumnya dipesan oleh suratkabar Tjaja Sumatra yang terbit dari tahun 1899-1933 di Sumatera Timur (sekarang Riau). Produk-produk yang ditangani perusahaan periklanan Kadhool kebanyakan hotel-hotel di sekitar Bandung. Bagi masyarakat Belanda masa itu, daerah Bandung dikenal sebagai Parisj van Java (Paris-nya Pulau Jawa), sehingga menjadi tempat peristirahatan sangat bergengsi bagi para pengusaha perkebunan Eropa yang tinggal di Sumatera. Tie Ping Goan bertahan hingga terjadinya depresi ekonomi tahun 1930. Rintisan yang banyak dilakukan oleh kelompok Cina keturunan ini, menurut F. Wiggeres yang menulis dalam Pemberita Betawi, 1909, karena merekalah yang sangat mementingkan perdagangan. Untuk dapat lebih berhasil, kata Wiggeres pula, perdagangan tidak bisa lepas dari kebutuhan periklanan. Orang pribumi yang memiliki percetakan dan suratkabar, baru pada tahun 1906 dengan munculnya NV Medan Prijaji. Tiras suratkabar yang dipimpin oleh <strong>RM Tirto Adisoerjo</strong> ini utamanya beredar di Batavia, Bogor dan Bandung. Suratkabar ini sebenarnya punya misi politik, karena banyak memuat berita-berita tentang kebobrokan sistem kolonial. Dia sekaligus memberi juga perlindungan hukum bagi kaum pribumi. Namun untuk menjaga kelangsungan hidupnya, ia memerlukan juga perusahaan periklanan. Orang yang mengelola perusahaan periklanan Medan Prijaji adalah Raden Goenawan.</p>
<p>Raden Goenawan, lulusan HIS (Holland Inlandsche School), Batavia, menjadi teman dekat Tirto Adisoerjo sejak di sekolah itu. Selain dalam jabatan tersebut, Adisoerjo dan Raden Goenawan juga merangkap bersama-sama menangani bidang percetakan Medan Prijaji. Suratkabar ini mereka beri nama kecil Surat Kabar Minggoean dan Advertentie.Raden Goenawan juga pernah bekerja di perusahaan periklanan NV Soesman’s yang berkedudukan di Batavia. NV Soesman’s banyak mengiklankan penyediaan tenaga kerja pendatang dari Jawa ke Sumatera Timur.</p>
<p><strong> Raden Goenawan</strong> mengelola perusahaan periklanan Medan Prijaji sejak berdirinya tahun 1906. Meskipun hanya mampu bertahan hingga tahun 1912, Medan Prijaji tercatat memperoleh keuntungan sebesar f.75.000 pada tahun terakhir hidupnya.</p>
<p>Tokoh periklanan pribumi yang sangat patut diperhitungkan adalah <strong>Tjokroamidjojo</strong>. Dia memimpin NV Handel Maatschppij dan Drukkerij “Serikat Dagng Islam”, Semarang, yang menerbitkan suratkabar Sinar Djawa. Suratkabar ini merupakan suratkabar pribumi yang dapat bertahan agak lama (1914-1924). Karir Tjokroamidjojo dimulai dengan bekerja sebagai pembantu redaksi di suratkabar De locomotief pada tahun 1906. Kemudian menjadi penulis naskah iklan di suratkabar Pemberita Betawi. Pada tahun 1908 dia mendirikan perusahaan batik di Pekalongan. Dari hasil perusahaan batik ini, dia membeli perusahaan penerbitan dan percetakan di Semarang. Perusahaan periklanan Sinar Djawa tercatat sebagai satu-satunya perusahaan periklanan di Hindia Belanda yang mempunyai “agen besar” (perwakilan) untuk benua Eropa dan Amerika. Perwakilan ini berkedudukan di Societie Europeenne de Publicitie, 10 Rue de la Victoire, Paris. Fungsi perwakilan ini pun cukup efektif dan bersifat timbal-balik. Yang utama adalah untuk menangani komoditas impor dari Eropa dan Amerika. Namun juga untuk mengiklankan tour keliling Jawa dengan kereta api, ataupun hotel-hotel Eropa di Hindia Belanda. Laba usaha Sinar Djawa mengalami pasang surut. Merosot pada tahun 1915-1916, akibat terkena dampak Perang Dunia I, sehingga hanya mencapai f. 25.000 pada periode ini. Padahal pada tahun sebelumnya telah mencapai f. 45.000. Sepanjang kepemimpinan Tjokroamidjojo hingga tahun 1924, Sinar Djawa berhasil menggaet total keuntungan senilai f. 200.000,-.</p>
<p><strong> </strong><strong>M.Sastrositojo </strong>adalah pemilik dan pengelola perusahaan periklanan NV Medan Moeslimin. Perusahaan periklanan ini mengkhususkan diri pada iklan-iklan produk buku, terutama buku-buku yang dicetak oleh Albert Rusche &amp; Co.. Buku-buku yang diiklankannya pun khusus beraksara Jawa. Kebijaksanaan mengkhususkan pada iklan-iklan buku ini dilakukan, untuk menyesuaikan diri dengan suratkabar Medan Moeslimin yang memang dikhususkan untuk pembaca orang Jawa yang baru melek huruf. Itu pun terbatas pada bacaan yang menggunakan aksara Jawa. Misi yang diemban Medan Moeslimin tampaknya tidak dapat sepenuhnya ditunjang dari penghasilan usaha periklanan. Karena tercatat adanya dukungan keuangan dari beberapa perusahaan batik di Solo. Salah satu pendukung utama keuangannya adalah perusahaan batik milik Hadji Misbach. M. Sastrositojo adalah lulusan HIS, yang kemudian magang selama 2 tahun di perusahaan periklanan NV Doenia Bergerak, sebagai penulis naskah iklan.</p>
<p><strong>3.3    Perusahaan Periklanan Perintis</strong></p>
<p>Salah satu perusahaan <em>consumer products </em>yang aktif beriklan pada masa itu adalah Unilever-amalgamasi perusahaan Margarine Union (Belanda) dan Lever Brothers (Inggris)- yang sejak tahun 1933 telah membangun pabrik sabun di Bacherachtsgracht, Batavia (sekarang Angke, Jakarta Barat). Setelah berdirinya pabrik sabun itu,Unilever juga membangun pabrik margarin. Sebelumnya, produk-produk Unilever diimpor langsung dari Negeri Belanda. Hadirnya Unilever juga kemudian membawa masuknya cikal bakal Lintas (singkatan dari Lever International Advertising Services) ke Nusantara. Semula, Lintas adalah divisi periklanan dari Lever Brothers, sebelum kemudian berdiri sendiri menjadi perusahaan periklanan independen. Apa yang dilakukan Lintas yang berlogo bola dunia pada masa-masa awal itu sebetulnya tidak lain adalah melakukan adaptasi bentuk-bentuk iklan yang telah mereka luncurkan terhadap produk-produk serupa di bagian dunia lainnya, serta melakukan <em>media placement</em>. Perlu dicatat bahwa Lintas pada saat itu sudah memiliki keberanian membuat iklan dalam bahasa daerah. Misalnya, iklan Margarine Blue Band dalam bahasa Sunda memakai judul ”<em>Pamoeda Sehat&#8230; Rajat Kiat</em>” (Pemuda Sehat&#8230;Rakyat Kuat), dengan <em>tagline ”Blue Band Mengandoeng Seueur Vitamin”</em> (Mengandung Banyak Vitamin).</p>
<p>”Model organisasi” seperti Lintas itulah yang agaknya kemudian ditiru oleh beberapa usahawan di Batavia dan kota-kota besar Indonesia lainnya. Sebelum masa kemerdekaan Republik Indonesia, beberapa perusahaan periklanan (ketika itu disebut <em>reclamebureau</em> atau a<em>dvertentiebureau</em>) sudah beroperasi di Indonesia. Hingga masa pendudukan Jepang, beberapa perusahaan periklanan ynag terkenal di Jakarta adalah, antara lain:</p>
<p>-          A de la Mar, di Koningsplein (sekarang Jalan Medan Merdeka Utara, dekat Istana Merdeka),</p>
<p>-          Aneta (sebagai bagian dari kantor berita bernama sama), di Passer Baroe (sekarang Museum LKBN Antara di Jalan Antara),</p>
<p>-          Globe, di Jalan Kali Besar Timur,</p>
<p>-          IRAB (Indonesia Reclame en Advertentiebureau), semula berkantor di Molenvliet (sekarang Jalan Hayam Wuruk), tetapi kemudian pindah ke Asem Reges (kemudian menjadi Sawah Besar, sekarang Jalan KH Samanhudi),</p>
<p>-          Preciosa, di Gang Secretarie (kantor Sekretariat Negara sekarang, Jalan Veteran IV ),</p>
<p>-          Elite</p>
<p>Hampir semua perusahaan periklanan itu dipimpin oleh orang-orang Belanda, kecuali IRAB dan Elite yang diselenggarakan oleh kaum Bumiputra. Pada masa pendudukan Jepang, terjadi perubahan lanskap periklanan Indonesia. Karena banyak warga Belanda yang mengungsi-sebagian lagi ditawan maka kondisi vakum itu diisi dengan munculnya berbagai perusahaan periklanan baru milik kaum pribumi. Sayangnya, tidak cukup catatan tentang kehadiran perusahaan periklanan yang dijalankan etnis Tionghoa. Padahal, dari mulut ke mulut kita sering mendengar bukti-bukti peran mereka dalam perintisan periklanan Indonesia. Yang jelas, etnis Tionghoa sangat berperan dalam menumbuhkan dunia persuratkabaran di Indonesia, sehingga dengan demikian dapat dilihat pula keterlibatan mereka dalam periklanan secara langsung maupun tidak. Sekalipun kebanyakan perusahaan periklanan baru itu berukuran kecil, tetapi tercatat lima perusahaan periklanan yang berskala cukup besar, yakni Elite, RAB, Korra, Pikat, Tandjoeng. Selama masa pendudukan Jepang, merosotnya aktivitas ekonomi ikut mengkerdilkan dunia periklanan Indonesia.  Setelah proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, kepercayaan kepada Republik yang muda ini tampak dengan kembali bergairahnya kehidupan perekonomian. Sayangnya, kecenderungan itu tidak berlangsung lama karena Belanda mulai menggelar aksi militernya terhadap Indonesia. Keadaan perekonomian pun redup kembali. Pemerintah Republik Indonesia sempat hijrah ke Yogyakarta selama empat tahun. Keadaan ini berakhir setelah dicapainya kesepakatan pengakuan kedaulatan dalam KMB pada akhir tahun 1949.</p>
<p>Kembalinya Pemerintah Republik Indonesia ke Jakarta menandai kebangkitan baru perekonomian Indonesia. Perusahaan-perusahaan nasional mulai bertumbuhan, seiring dengan masuknya kembali beberapa perusahaan multinasional. Perusahaan-perusahaan Belanda yang semula mengungsi, pun kembali lagi melakukan usahanya. Salah satunya adalah Unilever. Era baru itu juga disambut oleh Unilever dengan meluncurkan berbagai produk baru. Dunia periklanan seakan berdarah kembali.  Beberapa perusahaan periklanan yang tercatat hadir di Jakarta pada masa itu antara lain adalah: Azeta, Contact, Cotecy, De Unie, Elite, IRAB, Studi Berk, dan Titi. Pada awal dasawarsa 1950’an yang paling banyak ditempatkan di dunia cetak adalah iklan obat-obatan. Sayangnya, menjamurnya iklan obat-obatan itu tidak dibarengi dengan etika dan tanggung jawab para insan periklanan. Banyak obat-obatan yang diiklankan itu sebetulnya diragukan manfaatnya, atau malah membahayakan kesehatan penggunanya. Keadaan yang nyaris lepas kendali ini akhirnya ditata dengan terbitnya ketentuan Menteri Kesehatan pada tahun 1954 yang mengatur keharusan untuk mendapatkan lisensi manfaat dan keselamatan obat sebelum dipasarkan, dan ketentuan agar iklan obat harus menjelaskan manfaat obat secara jelas.</p>
<p><strong>3.4   Kebangkitan Asosiasi Periklanan Indonesia</strong></p>
<p>Menurut catatan, pada tahun 1951, istilah periklanan pertama kali diperkenalkan oleh seorang tokoh pers indonesia, Soedarjo Tjokrosisworo, untuk menggantikan istilah reklame atau advertensi yang ke belanda-belandaan. Senapas dengan semangat kebangsaan itu, sebuah biro reklame di bandung yang sebelumnya bernama Medium, juga mengubah nama menjadi Balai Iklan. Atas prakarsa beberapa perusahaan periklanan yang berdomisili di Jakarta dan Bandung, pada awal September 1949 dilembagakan sebuah asosiasi bagi perusaaan-perusahaan periklanan. Asosiasi ini diberi nama Bond van Reclamebureaux in Indonesia atau dalam bahasa indonesia Perserikatan Biro Reklame Indonesia (PBRI). Nama asosiasi yang masih menggunakan bahasa Belanda ini tidak lain karena mayoritas anggotanya adalah memang perusahaan-perusahaan periklanan yang dimiliki oleh orang Belanda.</p>
<p>Sebelas perusahaan periklanan tercatat sebagai anggota PBRI, yaitu: Budi Ksatria, Contact, De Unie, F. Bodmer, Franklijn, Grafika, Life, Limas, Lintas, Rosada, dan Studio Berk. Akan tetapi, kehadiran PBRI dianggap hanya mewakili perusahaan-perusahaan periklanan besar khususnya yang dimiliki atau dikuasai oleh orang-orang Belanda. Perusahaan-perusahaan periklanan kecil merasa bahwa aspirasi mereka tidak memukau jalan untuk disampaikan ke dalam PBRI. Suasana seperti itu kemudian memicu lahirnya sebuah asosiasi perusahaan periklanan nasional yang dimliki dan diawaki oleh orang-orang Indonesia. Serikat Biro Reklame Nasional (SBRN) dibentuk pada tahun 1953, dan sertamerta menjadi organisasi tandingan bagi PBRI. Tidak jelas mengapa semangat nasionalisme di dalam SBRN tidak memunculkan istilah iklan yang sudah dikenal sejak dua tahun sebelumnya, dan masih menggunakan istilah biro reklame yang berbau Belanda. Anggota SBRN yang tercatat adalah 13 perusahaan periklanan: Azeta, Elite, Garuda, IRAB, Kilat, Kusuma, Patriot, Pikat, Reka, Lingga, Titi, dan Trio. Tidak semua perusahaan perilanan bersedia bergabung ke dalam asosiasi. Contonya adalah Medium yang telah bertukar nama menjadi Balai Iklan. Ia memilih untuk tidak bergabung dengan salah satu dari dua asosiasi tersebut. Tjetje Senaputra, pemiliknya berdalih bahwa Balai Iklan tidak menangani iklan <em>display</em> dan karena itu tidak menganggap perusahaan sebagai <em>full-service agency</em>. Balai Iklan memang mengkhususkan diri pada iklan-iklan klasika berukuran kecil tentang lowongan kerja dan berita keluarga.</p>
<p>Ada pula dugaan bahwa terbentuknya SBRN diilhami oleh keterbelahan penerbit surat kabar yang juga memiliki dua asosiasi, yaitu: Perserikatan Persuratkabaran Indonesia (PPI), dan Serikat Penerbit Suratkabar (SPS), PPI merupakan kelanjutan dari Verenigde Dagblad Pers di masa Hindia Belanda. Tentu saja keterbelahan perusahaan-perusahaan periklanan itu membuat prihatin F. Berkhout, Ketua PBRI pada saat itu. Ia kemudian menghubungi beberapa pimpinan SBRN dan mnawarkan dibentuknya fusi atau peleburan dari kedua asosiasi tersebut. Bila tujuannya sama, mengapa harus memakai dua kendraan yang justru menyulitkan pembinaan ke luar maupun ke dalam, di samping juga tidak mencuatkan kesan persatuan.</p>
<p>Gagasan fusi itu tampaknya diterima secara umum oleh kedua belah pihak. Orang-orang Belanda yang semula menguasai berbagai posisi dan fungsi di PBRI sepakat untuk mengundurkan diri agar digantikan oleh orang-orang Indonesia. Tetapi fusi itu secara organisatoris ternyata tidak pernah menjadi kenyataan. Dalam tubuh SBRN terjadi perpecahan, sehingga semua anggotanya mengundurkan diri dan bergabung ke dalam PBRI. Baru pada tahun 1956, melalui forum rapat umum anggota, secara aklamasi Muhammad Napis dikukuhkan sebagai ketua PBRI. Pada tahun 1957, PBRI menyelenggarakan Kongres Reklame seluruh Indonesia yang pertama. Dalam kongres tersebut, kata ”perserikatan” diubah menjadi ”persatuan”.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>3.5   Awal Artis Memasuki Periklanan Indonesia</strong></p>
<p>Iklan sebgai salah satu alat pemasaran yang ampuh langsung saja berdenyut dengan nafas baru yang segar. Beberapa perusahaan periklanan muncup pada masa ini. Demikian juga media untuk beriklan. Dan periklanan pun menjadi marak. Dasawarsa 1970an juga ditandai dengan tampilanya selebritis Indonesia sebagai bintang iklan. Sabun Lux produksi Unilever boleh jadi merupakan <em>trendsetter</em> di bidang itu. Sejak dasawarsa 1950an, Lux sudah memakai slogan ”dipakai oleh 9 dari 10 bintang-bintang film”. Lux diidentifikasikan dengan bintang-bintang film rupawan berkelas dunia, antara lain : Sophia Loren.</p>
<p>Pada dasawarsa 1970an, slogan itu diubah sedikit menjadi ”sabun kecantikan bintang-bintang film”. Unilever juga mulai memakai bintang-bintang film Indonesia untuk menjadi duta produknya. Widyawati, bintang film populer berpribadi lembut dengan kecantikkan memukau, tampil sebagai <em>spokesperson</em> Lux. Beberapa bintang film papan atas pun silih berganti tampil sebagai <em>”The Lux Lady”</em>. Salah satu yang legendaris adalah Christine Hakim, bintang film temuan Teguh Karya. Produk detergen bermerk <em>rinso</em> pun memilih Krisbiantoro sebgai duta produk. Kris adalah seorang penyanyi merangkap <em>master of ceremony</em> yang kocak dan menjadi <em>presenter</em> berbagai program televisi populer pada saat itu. Popularitas Krisbiantoro pun serta merts menjadi tuas yang ampuh untuk mendongkrak popularitas rinso.level International Advertising Services (Lintas) perusahaan periklanan yang menganai produk-produk Unilever tidak hanya menumpang popularitas selebritis, melainkan juga melahirkan bintang-bintang baru. Robby Sugara, misalnya, ”hanyalah” seorang <em>head waiter</em> di sebuah restoran ketika terpilih menjadi bintang <em>”The Brisk Man”</em>. Kehidupannya pun melejit seperti meteor.</p>
<p><strong>3.6   Kelahiran Periklanan Modern Indonesia</strong></p>
<p>Berbagai merk internasional mulai bermunculan di Indonesia dan dengan garangnya berupaya meraup pangsa pasar sebesar-sebesarnya. Coca cola, Toyota, Mitsubishi, Fuji Film, American Express, Citibank, adalah sebagian dari nama-nama besar yang mulai membanjiri pasar Indonesia. Pada saat yang sama, muncul pula <em>local brands</em> yang dipicu oleh kemudahan mendapatkan kredit penanaman modal dari lembaga-lembaga perbankan yang juga sedang bertumbuh pesat. Salah satu sektor yang paling hidup pada dasawarsa 1970an itu adalah industri farmasi dengan berbagai jenis obat baru yang diluncurkan pada saat itu antara lain adalah Bodrex-obat sakit kepala yang populer hingga saat ini. Begitu populernya nama Bodrex bahkan sampai dijadikan ikon jurnalistik Indonesia untuk menyebut wartawan yang datang tak diundang.</p>
<p>Suasana baru di dunia usaha itu memicu berbagai kelahiran perusahaan periklanan. Tentu saja, yang pertama kali muncul justru perusahaan-perusahaan periklanan yang secara ilmiah terbawa oleh masuknya perusahaan multinasional ke Indonesia. Contohnya adalah Olgilvy &amp; Mather yang berkibar di Jakarta dengan nama IndoAd di bawah pimpinan Emir Muchtar, karena hadirnya klien-klien O&amp;M di Indonesia, seperti: American Express, dll. Sebelumnya O&amp;M lahir di Indonesia dengan nama SH Benson, kemudian berubah menjadi Olgivy &amp;Mather. Perubahan nama O&amp;M menjadi IndoAd terkait Peraturan Menteri Perdagangan pada tahun 1970 yang melarang perusahaan periklanan asing di Indonesia. Contoh lain adalah McCann Erickson yang dibawa oleh Coca cola dan kemudian mengibarkan bendera Perwanal Utama di bawah pimpinan Savrinus Suardi.</p>
<p>Sementara itu, perusahaan-perusahaan periklanan nasional  lama pun mendapat angin dari transformasi ekonomi yang terjadi. Perusahaan itu antara lain: Bhineka yang dipimpin oleh tokoh lama Muhammad Napis, dan InterVista yang dipimpin oleh Nuradi seorang mantan diplomat yang beralih ke dunia periklanan. InterVista adalah sebuah fenomena yang perlu dicatat secara khusus dalam sejarah periklanan Indonesia, khususnya karena Nuradi, pendirinya, dianggap sebagai perintis periklanan modern Indonesia. Setelah Proklamasi kemerdeaan Indonesia, Nuradi diangkat menjadi pegawai Departemen Luar  Negri, Nuradi bertugas sebagai jurubahasa yang mendampingi Presiden Soekarno. Sebagai karyawan Departemen Penerangan, tugas Nuradi adalah penyiar siaran bahasa Inggris di RRI. Pada tahun 1950, Nuradi ditunjuk untuk menjalankan misi khusus Uni soviet, dan kemudian menjadi anggota Perwakilan Tetap Republik Indonesia di Markas Besar Perserikatan Bangsa-bangsa di New York selama di Amerika Serikat, Nuradi juga sempat menyelesaikan studi di Harvard University.</p>
<p>Perintis periklanan yang bernama Nuradi ini. Lahir di Jakarta, tanggal 10 Mei 1926. Seperti juga banyak pelaku periklanan modern, Nuradi pun tidak memperoleh pendidikan formal di bidang periklanan. Tahun 1946-1948 ia masuk Fakultas Hukum, Universitas Indonesia (darurat). Kemudian masuk Akademi Dinas Luar Negeri Republik Indonesia (1949-1950). Tahun-tahun berikutnya dia banyak mengenyam pendidikan di Amerika Serikat. Dia menjadi orang Indonesia pertama yang diterima di Foreign Service Institute, US State Department, Washington DC. Selanjutnya belajar penelitian sosial di New School, New York (1952-1954) dan menyelesaikan studi bidang administrasi publik di Harvard University, Cambridge,  Massachusetts. Kemudian selama setahun belajar bahasa di Universitas Sorbone dan Universitas Besancon, Perancis.Tahun 1945, dia juga dikenal sebagai orang pertama diangkat sebagai pegawai negeri di Departemen Luar Negeri dan di Departemen Penerangan. Yang terakhir ini, karena ia juga menjadi penyiar siaran Bahasa Inggris di Radio Republik Indonesia. Antara tahun 1946-1950, dia menjadi juru bahasa pribadi untuk Bung Karno, Bung Hatta dan Ir. Juanda dan tahun 1949 sempat menjadi kepala bagian penerjemah pada delegasi Indonesia ke Konperensi Meja Bundar di Den Haag, Negeri Belanda. Tahun 1950 dia ditunjuk untuk menjalankan misi khusus ke Uni Soviet dan menjadi anggota perwakilan tetap Indonesia di markas PBB, New York. Karier sebagai pegawai negeri telah membawanya terlibat dalam banyak lagi tugas sebagai anggota delegasi, baik untuk kepentingan nasional, maupun internasional. Dia mengundurkan diri dari Dinas Luar Negeri pada tahun 1957, untuk bergabung dengan Perwakilan PRRI Sementara untuk Singapura dan Hongkong.</p>
<p>Perjalanan hidup Nuradi di dunia periklanan dimulai ketika tahun 1961-1962 mengikuti Management Training Course di SH Benson Ltd., London, perusahaan periklanan terbesar di Eropa saat itu. Sedangkan pengalaman praktek periklanan diperolehnya melalui cabang perusahaan tersebut di Singapura. Sekembalinya ke Jakarta (1963) dia mendirikan perusahaan periklanannya sendiri, InterVista Advertising Ltd..</p>
<p>Pada awalnya, Nuradi hanya mengiklankan produk-produk milik ayahnya (Hotel Tjipajung) dan kenalannya (PT Masayu, agen alat-alat berat). Ia juga membuat iklan untuk usaha milik Judith Wawaruntu, sahabatnya yang secara timbal balik menjadi pembuat gambar untuk iklan-iklan Intervista. Ketika menangani klien Lambretta, merek <em>Scooter</em> masa lalu, Nuradi untuk pertama kali membuat slide untuk iklan di Bioskop. Terobosan ini merupakan awal dari gebrakkan-gebrakkan Nuradi selanjutnya. Pada dasawarsa 1970an, InterVista telah mampu membuat film iklan produksi dalam negri, bahkan memperkerjakan seorang sutradara pribumi untuk menanganinya secara khusus. Tidak heran bila dalam waktu singkat InterVista mendapat kepercayaan dari nama-nama besar seperti, Indomilk, Anker Bir, berbagai merek rokok keluaran British American Tobacco, Vespa dan lain-lain. Beberapa karya iklan InterVista di masa itu, selalu mengundang decak kagum dan menjadi pengingat (mnemonic) dibenak masyarakat, misalnya: Ini Bir Baru, Ini Baru Bir (Anker), Indomilk&#8230;..sedaaap, Makin Mesra dengan Mascot (rokok).</p>
<p>Awal dasawarsa 1970an juga ditandai oleh lahirnya berbagai perusahaan periklanan ketika itu lebih umum disebut biro iklan seperti: Libelle pimpinan Yo Wijayakusumah, Trinanda Chandra pimpinan Abdoel Moeid Chandra (juga pemilik radio swasta niaga dengan nama sama), Prima Advera pimpinana Usamah, AdForce pimpinan Sjahrial Djalil, Fortune pimpinan Indra Abidin bekerja sama dengan Mochtar Lubis, Hikmad &amp; Chusen pimpianan H. Hamid Moerni, Metro pimpinan Henry Saputra, Rama Perwira, dan lain-lain.<strong> </strong></p>
<p><strong>3.7 </strong><strong>Berdirinya PPPI</strong></p>
<p>Popularitas The Jakarta Admen Club bahkan melebihi organisasi resmi yang sebetulnya lebih dulu terbentuk pada tahun 1972, yaitu Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI)</p>
<p>Seperti telah dikemukakan pada Bab 1, asosiasi perusahaan periklanan yang pertama berdiri di Indonesia pada tahun 1949 dengan nama Bond van Reclame Bureaux in Indonesia atau dalam bahasa Indonesia disebut Persatuan Biro Reklame Indonesia (PBRI). Nama resminya justru yang berbahasa Belanda, karena pada waktu itu sebagian besar pelaku di industri periklanan adalah orang-orang Belanda maupun keturunan Belanda. Demikian juga para pengurusnya adalah orang-orang belanda dan keturunannya. Baru setelah PBRI diketuai oleh orang Indonesia, Muh.Napis,maka pada tahun 1957 diputuskan perhgantian namanya resmi menjadi PBRI. Dengan nama baru itu juga dilekukan penyesuaian istilah dari “perserikatan” menjadi “persatuan”.</p>
<p>Napis adalah seorang tokoh periklanan Indonesia yang ternyata berhasil memimpin PBRI secara terus-menerus hingga memasuki dasawarsa 1970-an. Napis sendiri ternyata sudah jenuh menjadi Ketua PBRI selama belasan tahun, dan menganggap bahwa situasi seperti itu dapat mengarah kepada hal-hal yang tidak demokratis.</p>
<p>Pada tahun 1971, Napis menyelenggarakan referendum di antara anggota PBRI untuk memilih ketua yang baru, di samping juga meminta usulan perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, serta usulan perubahan kebijakan dan strategi. Namun, ternyata referendum itu tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Napis tetap secara aklamasi diterima sebagai ketua PBRI.</p>
<p>Pada tahun 1972, Pemerintah Republik Indonesia tiba-tiba merasa perlu untuk mengatur industri periklanan. Harsono yang ketika itu menjabat sebagai Direktur Jenderal Pembinaan Pers dan Grafika (Dirjen PPG) Departemen penerangan, memprakarsai diselenggarakannya Seminar Periklanan-forum nasional resmi pertama yang diselenggarakan di Indonesia untuk membicarakan arah industri periklanan. Seminar ini diseenggarakan di restoran Geliga, Jalan wahid Hasyim, Jakarta Pusat, dengan ketua penyelenggaraan H.G. Rorimpandey, Ketua Umum Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) yang ketika itu juga Pemimpin Umum Harian <em>Sinar Harapan.</em></p>
<p>(catatan penulis: sebetulnya, Christianto Wibisono yang ketika itu menjadi Direktur Majalah Tempo pada tahun 1971 telah menyelenggarakan sebuah seminar periklanan untuk mendiskusikan dalam menyikapi masuknya elemen asing ke dalam industri perikalanan Industri Indonesia. Tetapi, lingkup seminar ini masih bersifat terbatas di tataran pelaksana periklanan-bukan pengambil keputusan di tingkat asosiasi dan regulator).</p>
<p>Dalam kesempatan itu pemerintah menyatakan bahwa PBRI adalah satu-satunya wadah perusahaan periklanan yang diakui Pemerintah Republik Indonesia. Pernyataan ini tampaknya didorong oleh kenyataan telah hadirnya berbagai perusahaan periklanan yang disponsori pihak asing, dan tidak merasa berkepentingan untuk menjadi anggota PBRI. Sekalipun pada tahun 1970 Menteri Perdagangan Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo telah menerbitkan surat keputusan yang melarang kehadiran perusahaan periklanan asing di Indonesia, namun kenyataannya praktik “Ali Baba” tetap menghadirkan banyak negara asing di industri periklanan Indonesia. Pernyataan Pemerintah itu membuat hampir semua perusahaan periklanan yang baru didirikan sekitar 1970-an kemudian mendaftar-kan diri menjadi anggota PBRI.</p>
<p>Seminar periklanan itu juga memuncukan napas dan harapan baru akan munculnya generasi modern periklanan Indonesia. Keinginan untuk berorganisasi secara serius pun mulai tampak hidup. Napis pun semakin berharap bahwa penggantinya akan segera muncul.</p>
<p>Kebetulan, pada tahun 1972 itu juga berlangsung Asian Advertising Congress (AAC) VIII di Bangkok. Masih dengan semangat Seminar Periklanan, beberapa tokoh periklanan Indonesia pun segera berangkat menghadiri kongres tersebut. Mereka antara lain adalah: Christian Wibisono, Ken Sudarto, Sjahrial Djalil, Ernst Katoppo, Abdul Moeid Chandra, Jacoba Muaja, Usamah, dan Yo Wijayakusumah. Tidak tanggung-tanggung, delegasi Indonesia pada waktu itu secara nekat juga menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah AAC IX pada tahun 1974. hebatnya lagi, usulan itu ternyata diterima. Pertumbuhan pesat industri periklanan Indonesia tentulah menjadi faktor pembobot yang menghasilkan keputusan itu.</p>
<p>Semangat untuk menjadi tuan rumah Aac IX itulah yang membuat insan periklanan Indonesia semakin membulatkan tekad untuk berorganisasi secara rapi. Pada tanggal 20 Desember 1972, bertempat di restoran Chez Mario milik Muhammad Napis di jalan Ir. H. Juanda III/23, jakarta Pusat, diselenggarakan Rapat Anggota PBRI.</p>
<p>Rapat itu juga dihadiri Direktur Bina Pers dari Direktorat Jenderal Pembinaan Pers dan Grafika Departmen Penerangan, Drs. Tjoek Atmadi. Rapat itu mengagendakan pemilihan pengurus baru, serta membahas kemungkinan dibentuknya sebuah asosiasi periklanan dengan visi dan lingkup yang lebih luas.</p>
<p>Abdul Maeid Chandra, seorang putra Madura aktivis PBRI yang memiliki stasiun radio Trinanda Chandra dan perusahaan perilanan dengan nama yang sama, akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum. Di jajaran pengurus tercatat beberapa orang tokoh periklanan Indonesia, seperti: Savrinus Suardi, Usamah, Sjahrial Djalil, dan Yo Wijayakusumah. Mereka adalah muka-muka baru yang sebelumnya bukan merupakan aktivis PBRI.</p>
<p>Rapat Anggota juga menyepakati pembubaran PBRI dan pembentukan asosiasi yang baru dengan nama Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI).  Dengan pembentukan PPPI, secara resmi hilang pula istilah ”biri reklame” yang berbau kebelanda-belandaan, digantikan dengan istilah yang lebih sesuai dengan tuntutan zaman: ”perusahaan periklanan”. Desakan untuk mengganti istilah ”biro reklame” juga didasari pada kenyataan bahwa tukang pembuat stempel di pinggir jalan pun menyebut diri mereka sebagai biro reklame.</p>
<p>Pada saat didirikan, PPPI beranggotakan 30 perusahaan periklanan. Sahrial Djalil AdForce menyumbangkan logo bagi asosiasi yang baru itu. PPPI juga segera merumuskan Anggaran Dasar serta Anggaran Rumah Tangga yang baru untuk menampung aspirasi periklanan modern.</p>
<p>Sumber : &#8220;Rumah Iklan&#8221; Bondan Winarno, 2002</p>
<p><strong> </strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emjaiz.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emjaiz.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emjaiz.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emjaiz.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emjaiz.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emjaiz.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emjaiz.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emjaiz.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emjaiz.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emjaiz.wordpress.com/227/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emjaiz.wordpress.com&blog=2472621&post=227&subd=emjaiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emjaiz.wordpress.com/2009/10/08/perspektif-lain-sejarah-periklanan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1890794f408bb1a2d48bf2b2f63e0cfe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emjaiz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>VERSI LAIN SEJARAH PERIKLANAN DUNIA</title>
		<link>http://emjaiz.wordpress.com/2009/10/08/versi-lain-sejarah-periklanan-dunia/</link>
		<comments>http://emjaiz.wordpress.com/2009/10/08/versi-lain-sejarah-periklanan-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 05:24:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emjaiz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Periklanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emjaiz.wordpress.com/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Tritama dkk

 
Masa sebelum ditemukannya mesin cetak
 “ Commercial message and political campaign displays have been found in the ruins of ancient Arabia. Egyptians used papyrus to create sales messages and wall posters, while lost-and-found advertising on papyrus was common in Ancient Greece and Ancient Rome. Wall or rock painting for commercial advertising [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emjaiz.wordpress.com&blog=2472621&post=225&subd=emjaiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:left;"><strong>Oleh : Tritama dkk<br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Masa sebelum ditemukannya mesin cetak</strong></p>
<p><em> </em><em>“ Commercial message and political campaign displays have been found in the ruins of ancient Arabia. Egyptians used papyrus to create sales messages and wall posters, while lost-and-found advertising on papyrus was common in Ancient Greece and Ancient Rome. Wall or rock painting for commercial advertising is another manifestation of an ancient advertising form, which is present to this day in many parts of Asia, Africa, and South America.”</em></p>
<p><em> (Pesan komersial dan publikasi kampanye politik sudah ditemukan dalam reruntuhan bangsa Arab kuno. Orang-orang mesir menggunakan papyrus untuk membuat pengumuman mengenai barang-barang yang di jual dan membuat poster yang ditempelkan di dindng, saat iklan mengenai ‘lost and found’ mulai marak di Yunani dan Romawi kuno. Lukisan dinding dan batu untuk iklan komersial merupakan manifestasi lain dari bentuk periklanan kuno, dimana hal itu menunjukkan kehadiran iklan masa lalu di bagian Asia, Afrika, dan Amerika Selatan.)<span id="more-225"></span></em></p>
<p>Para arkeolog meyakini, <em>advertising</em> sudah ada sejak zaman dulu. Advertising dilakukan dalam berbagai bentuk “mempublikasikan” berbagai peristiwa (event) dan tawaran (offers). Metode iklan pertama yang dilakukan oleh manusia sangat sederhana. Pemilik barang yang ingin menjual barangnya akan berteriak di gerbang kota menawarkan barangnya pada pengunjung yang masuk ke kota tersebut. Iklan sudah dikenal manusia dalam bentuk pesan berantai (word of mouth) yang bentuknya pengumuman-pengmuman. Pesan berantai itu disampaikan dari mulut ke mulut untuk membantu kelancaran proses jual-beli.</p>
<p>Pesan iklan dalam bentuk tertulis mulai ditemukan pada masa Babylonia 3000 SM berupa kepingan tanah liat (clay tablet) bertuliskan prasasti tentang dealer salep (ointment dealer), juru tulis (scribe) dan pembuat sepatu.</p>
<p>Peninggalan Mesir dan Yunani Kuno berupa pengumuman-pengumuman di dinding dan naskah di daun papirus, memberikan pengumuman tentang datangnya kapal pembawa anggur, rempah-rempah, logam, barang-barang dagangan baru, acara-acara  (pertarungan gladiator) yang bakal digelar, budak yang lari dari tuannya. Orang-orang Roma mengecat dinding untuk mengumumkan perkelahian gladiator. Iklan pada jaman ini hanya berupa surat edaran. Karena masih banyak yang buta huruf, pengumuman-pengumuman itu dibacakan oleh tukang teriak (town crier) yang biasa didampingi pemain musik.</p>
<p>Terakota Yunani dan Romawi Kuno sudah digunakan untuk mengumumkan lost &amp; found. Di reruntuhan kota Pompeii terdapat tanda-tanda di terakota yang mengiklankan apa ynag dijual di toko : danging sapi (row of hams), sapi penghasil susu, kulit untuk sepatu. Disaping itu juga ditemukan bukti-bukti adanya pesan-pesan politik.</p>
<p>Orang-orang Ponosea melukis gambar untuk mempromosikan perangkat keras mereka di batu-batu besar di sepanjang jalur parade. Di Pompei misalkan, banyak lukisan seorang tokoh politisi dan meminta dukungan suara dari masyarakat. Di Perancis, <em>traditional advertising</em> sudah marak tahun 550 Sebelum Masehi untuk mengiklankan kaum negro sebagai budak.</p>
<p>Pada zaman Julius Caesar di eropa banyak toko dan penginapan yang sudah pakai tanda, papan nama, atau simbol, untuk membantu mereka yang buta huruf. Misalnya penginapan dengan simbol Man in The Moon, Three Squirrels, Hole in The Wall.</p>
<p>Untuk ribuan tahun-tahun awal, orang beriklan untuk mempromosikan dua hal, tempat dan jasa. Iklan di bawah ini adalah contoh pertama. Begitu juga plang di depan kedai minum dan penginapan (taverns and inns)</p>
<p>Daniel Mannix, dalam bukunya yang bercerita tentang olah raga kuno Roma, “ Those About to Die “, mencatat sebuah iklan yang ditemukan di sebuah kuburan tua (tombstone) :</p>
<p align="center">“ Weathre permitting, 30 pair of gladiators, fumished by A.</p>
<p align="center">Clodius flaccus, together with substitutes in case any get</p>
<p align="center">Killed too quickly, will fight may 1 st, 2 nd and 3 rd at the</p>
<p align="center">Circus Maximus.The fights will followed by a big wild beast</p>
<p align="center">Hunt. The famos gladiator paris will fight. Hurrah for</p>
<p align="center">Paris! Hurrah for the generous flaccus, who is running</p>
<p align="center">for Duumvite!” (Below this is an ad for the copywriter.</p>
<p align="center">“ Marcus wrote this sign by the light of the moon. If you</p>
<p align="center">Hire Marcus, he ‘ll work day and night to do a good job. “)</p>
<p align="center">(Mannix,p.28).</p>
<p align="center">
<p>Demikian pula berbagai gambar di batu cadas(rock paintings) di berbagei situs lama di Asia, Afrika, dan Amerika Latin menunjukkan kehadiran “iklan” di masa lalu.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.2 Masa setelah ditemukannya mesin cetak</strong></p>
<p>Penemuan mesin cetak Gutenberg 1450 meningkatkan angka melek huruf sehingga merangsang orang untuk berbisnis iklan. Periklanan jadi bisnis massal. Bentuk awalnya berupa poster,handbill (selebaran), dan iklan baris (classified) di surat kabar.</p>
<p><strong>1472</strong> William Caxton di London mencetak iklan berbahasa Inggris pertama berupa selebaran (handbill) berisi tuntunan keagamaan tentang perayaan paskah (rules for the guidance of the clergy at easter). Versi lain mengatakan iklannya berupa penjualan injil (prayer book). Awal abad 16 dan 17 yang banyak ditampilkan adalah iklan tentang budak belian, kuda buku, obat.</p>
<p>Sebagai bentuk printed advertising, periklanan berkembang di awal abad 15-16. Beberapa waktu kemudian mulai muncul metode iklan dengan tulisan tangan dan dicetak di kertas besar yang berkembang di Inggris. Iklan pertama yang dicetak di Inggris ditemukan pada Imperial Intelligencer Maret 1648.</p>
<p><strong>Pada tahun 1622 </strong>Surat kabar terbit di Inggris terbit untuk pertama kalinya,The Weekly News kemudian disusul The Tattler yang terbit tahun 1709 dan The Spectator yang terbit pada 1711. Ketiga Koran ini merupakan media cetak yang membawa lembaran iklan secara piggy-back.</p>
<p><strong>Pada tahun 1655</strong> istilah iklan (advertisement) muncul pertama kali dalam injil untuk menunjuk istilah “peringatan”/“pemberitahuan” (warning/ notification).<strong> </strong></p>
<p><strong> Pada tahun 1660</strong> mulai istilah itu dipaka untuk keperluan informasi komersial (commercial information), khususnya oleh para saudagar toko.Pesan-pesan iklan lama kehalaman semakin simple dan inovatif sejak tahun 1700 dan 1800-an.</p>
<p><strong>Pada tahun 1690</strong> lahir Public Occurencs Both Foreign and Dometic, Koran (tidak harian) pertama di Amerika hanya  membuat satu berita (issue).</p>
<p>Periklanan secara nyata mulai menunjukkan kemajuan di awal abad 17 di Inggris untuk mempromosikan buku dan Koran yang mulai berkembang.Pada abad ke-17 di Inggris, pesan-pesan komersial masih berbentuk poster atau selebaran lepas yang dikirim dalam lipatan surat kabar. Produk yang paling banyak diiklankan pada masa ini adalah buku dan obat-obatan.  <strong> </strong></p>
<p><strong> Pada tahun 1704</strong> Boston Newsletter, koan AS pertama yang muat iklan, berupa tawaran hadiah bagi yang bisa menangkap pencuri baju.</p>
<p>Iklan-iklan media cetak pada abad 18 umumnya ditunjukan pada sasaran pembaca di Eropa yang menyebutkan adanya tanah-tanah garapan yang menantang untuk masa depan di Amerika. Salah satunya iklan ada tanah 150 ha di Philadelphia.<strong> </strong></p>
<p><strong> Pada tahun 1729 </strong>Iklan pertama di surat kabar “ Pennysilvania Gazette” yang terbit di Amerika Serikat. Amerika waktu itu masih menjadi wilayah jajahan Inggris, dan surat kabar yang didirikan oleh Benjamin Franklin itu berhasil mencapai tiras tertinggi serta pendapatan iklan terbesar pada masanya.</p>
<p><strong>Pada tahun 1740 </strong>poster cetak outdoor pertama muncul di London (disebut “hoarding”).<strong> </strong></p>
<p><strong> Pada tahun 1776</strong> muncul iklan proklamasi kemerdekaan AS di Pennsylvania Evening Post and Daily Advertiser, Koran yang terbit secara harian pertama di AS.</p>
<p>Ketika aktivitas perekonomian mulai meningkat diberbagai penjuru dunia, di abad 18-an, di Amerika Serikat, periklanan mulai mendapat perhatian besar. Beberapa toko di Eropa mulai berfungsi sebagai agen yang mengumpulkan iklan untuk surat kabar.</p>
<p>Sangat boleh jadi Sears catalog menjadi inspirasi bagi lahirnya iklan display di media cetak. Sears adalah pelopor rantai toko (chain stores) di A.S yang kemudian berkembang menjadi <em>department stores</em>. Kehadiran Sears yang menjual berbagai barang secara lengkap menggantikan toko-toko serupa berskala kecil yang pada waktu itu disebut dengan <em>mercantile</em>.</p>
<p>Untuk memudahkan pelanggan, karena pada masa itu transportasi masih terbatas, Sears menerbitkan katalog tentang semua barang yang dijual dan para langganan dapat memesan melalui pos (mail order). Setiap barang yang ditawarkan ditampilkan secara menarik dengan foto-foto dan gambar-gambar yang atraktif. Begitu populernya Sears Catalog di masa lalu, sampai-sampai ia disebut sebagai Injil Petani (Farmers Bible)</p>
<p>Tampilan dan peragaan produk seperti di Sears Catalog itulah yang kemudian dijumpai  di berbagai surat kabar dan majalah di Amerika Serikat, serta kemudian menyebar ke seluruh dunia. Di masa kini penampilan seperti itu sering disebut sebagai display advertising (iklan komersial)</p>
<p>Pada abad ke-19 mulai dikenal pembelian ruang iklan melalui agen perseorangan (menyalurkan lagi ke perusahaan periklanan). Pada masa dinasti Edo di Jepang, awal abad-19 selebaran yang didistribusikan bersama surat kabar juga banyak membawa pesan-pesan komersial, khususnya tentang obat-obatan.</p>
<p>Pertumbuhan ekonomi dunia yang mulai bergerak pesat pada awal abad ke-19 akhirnya memicu hadirnya iklan di surat kabar amerika Serikat, beberapa surat kabar mulai memuat pesan-pesan singkat tentang produk, tampil dengan huruf-huruf kecil di dalam kotak, di antara berita dan Tulsan lain. Iklan yang saat ini disebut sebagai classified advertisement ini mempromosikan berbagai jenis barang dan jasa.</p>
<p><strong>Pada tahun</strong> <strong>1841</strong> Volney Palmer, “orang iklan” (adman) masa-masa awal, bertindak sebagai media broker / agen, mendapat komisi dari pemasangan iklan di media (media placement). Palmer mendirikan Agensi Periklanan pertama oleh Volney Palmer di Boston. Pada waktu itu, agensi periklanannya masih sebatas perantara pemasar dengan pihak surat kabar sebagai penerbit iklan</p>
<p><strong>Pada tahun </strong><strong>1844</strong> muncul iklan majalah pertama di majalah Southern Messenger dengan editornya Edgar Allan Poe (pengarang Tarzan). Majalah-majalah iklan periode awal yang masih terbit sampai sekarang adalah Cosmopolitan, ladies Home Journal, ReadeR’s Digest.</p>
<p>Sampai tahun 1850-an, di Eropa iklan belum sepenuhnya dimuat di surat kabar. Kebanyakan masih berupa pamflet, leaflet, dan brosur.</p>
<p><strong>Pada tahun 1864</strong> periklanan berkembang seiring perkembangan pers yang juga ditandai berkembangnya perusahaan periklanan dengan fungsi sederhana.</p>
<p><strong> Pada tahun 1871</strong> Charles bates membuat biro iklan professional pertama kali.</p>
<p><strong>Pada tahun</strong> <strong>1875</strong> di Philadelpia, dibuat agensi periklanan yang lebih multi fungsi. Dalam periode ini pula wanita mulai mengambil porsi. Baik sabagai tenaga periklanan, maupun sebagai image produk iklan. Penggunaan “wanita” sebagai daya tarik, pertama kali dipakai dalam iklan sabun mandi.</p>
<p><strong>Pada tahun</strong> <strong>1880</strong> John Power, penulis naskah iklan (copywriter) pertama</p>
<p>Setelah 1880an, perusahaan periklanan meningkatkan fungsi dengan menawarkan konsultasi dan jasa periklanan lain</p>
<p><strong>Pada tahun</strong> <strong>1891</strong> J Walter Thompson, Account Executive pertama.</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p><strong>Pada tahun 1920</strong> KDKA stasiun radio pertama di dunia lahir di Pittsburgh. Saat radio siaran mulai mengudara di tahun 1920-an, periklanan di radio pun mulai marak walaupun secara teknis dan daya tarik, tidak seperti yang kita nikmati saat ini. Sponsorsif saat itu lebih banyak dikuasai satu orang/pihak. Misalnya, sponsorsif suatu radio, dikuasai satu bisnisman. Dengan kata lain, space iklan digunakan sendiri. Tapi seiring dengan tingginya persaingan, kondisi ini berangsur-angsur berubah.</p>
<p><strong>Pada tahun 1922</strong> Iklan pertama di radio duniaWEAF, New York.</p>
<p><strong>Pada tahun 1939</strong> NBC, stasiun tv pertama.</p>
<p>Periklanan masuk dunia televisi di awal tahun 1940an. Iklannya bisa berupa <strong><em>commercial</em></strong> atau <strong><em>public advertising</em></strong></p>
<p><strong>Pada tahun 1941</strong> Iklan televisi hitam/putih pertama di New   York, Amerika Serikat  mengiklankan Arloji Bulova dengan harga spot US $ 9.</p>
<p align="center">
<p><strong> Pada tahun 1954</strong> Iklan televisi berwarna pertama ditayangkan. Mengiklankan Castro Decorate, New York.</p>
<p>Pada peralihan menuju abad ke-20, sistem manajemen periklanan modern seperti posisi manajer iklan mulai diterapkan</p>
<p><em>“The 1960s saw advertising transform into a modern approach in which creativity was allowed to shine, producing unexpected messages that made advertisements more tempting to consumers&#8217; eyes. The 1960s saw advertising transform into a modern approach in which creativity was allowed to shine, producing unexpected messages that made advertisements more tempting to consumers&#8217; eyes.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p align="center"><em> </em></p>
<p align="center"><em> </em></p>
<p align="center"><em> </em></p>
<p align="center"><em> </em></p>
<p align="center"><em> </em></p>
<p>Advertising modern sendiri yang mulai berkembang tahun 1960an, jauh berbeda dengan advertising masa lampau. Pada tahun ini, periklanan menemukan bentuknya yang modern dengan karya-karya kreatif yang menakjubkan. Perintis iklan dengan landasan karya kreatif yang digarap secara apik ini dipelopori oleh seri iklan mobil kodok <em>volkswagen</em> yang menampilkan judul-judul seperti “<em>Think Small</em>“ dan “          Lemon.“ Iklan-iklan <em>Volkswagen</em> inilah yang meletakkan dasar <em>positioning dan uniqe salling</em> <em>proposition</em> (USP) dalam periklanan yang masih dipegang hingga kini. Konsep ini mengikat (associate) setiap brand dengan satu sspesific idea yang khas yang menancap di benak konsumen.</p>
<p>Di akhir 1980 dan awal 1990 memperlihatkan kemunculanTv Kabel dan MTV, sebagai bagian darinya. Sebagai Pionir dalam konsep musik-video, Pelayanan MTV merupakan sebuah tipe periklanan yang baru. Konsumen lebih menyimak pesan yang diiklankan MTV dibandingkan dengan membeli setelah mendapat informasi dari media lain. Saat tv kabel dan tv satelit mengalami peningkatan secara umum, beberapa saluran berada di posisi puncak, termasuk saluran yang seluruh durasinya berisi iklan seperti QVC, Home Shopping Network, dan Shop Tv.</p>
<p>Pemasaran melelui internet membuka batas baru bagi periklanan dan memberikan kontribusi pada ‘boomingnya’ “dot-com” tahun 1990. Seluruh perusahaan terus beroperasi semata-mata dalam bidang periklanan, dan menawarkan segalanya untuk kupon berlangganan internet gratis. Memasuki abad ke-21 sejumlah website, termasuk ‘mesin pencarian google’ memulai perubahan dalam dunia periklanan on-line dengan mengekspansi relevansi kontekstual, tidak menonjolkan iklan dibandingkan dengan pemberian bantuan dan lebih utama ketimbang membanjiri konsumen dengan brosur. Hal ini  menandai kebangkitan dari upaya untuk meningkatkan trend periklanan interaktif.</p>
<p>Pemasaran melalui internet membuka batas baru bagi periklanan dan memberikan kontribusi pada ‘boomingnya’ “dot-com” tahun 1990. Seluruh perusahaan terus beroperasi semata-mata dalam bidang periklanan, dan menawarkan segalanya untuk kupon berlangganan internet gratis. Memasuki abad ke-21 sejumlah website, termasuk ‘mesin pencarian google’ memulai perubahan dalam dunia periklanan on-line dengan mengekspansi relevansi kontekstual, tidak menonjolkan iklan dibandingkan dengan pemberian bantuan dan lebih utama ketimbang membanjiri konsumen dengan brosur. Hal ini  menandai kebangkitan dari upaya untuk meningkatkan trend periklanan interaktif.</p>
<p>Penyebaran pesan  melalui iklan, secara relatif menelan biaya dari GDP sehingga menyeebabkan  perubahan yang cukup signifikan dalam pemilihan media. Di Amerika misalnya, pada tahun 1925 media iklan yang utama adalah surat kabar., majalah, nyala lampu trem,dan poster-poeter. Advertising menghabiskan anggaran sekitar 2,9% dari GDP. Sejak 1998, televisi dan radio menjadi media perikanan yang utama dan menghabiskan dana dari GDP yang lebih rendah, sekitar 2,4%.</p>
<p>Dilihat dari tujuan, penyajian sampai ke anggaran yang dibelanjakan iklan mengalami kemajuan yang sangat pesat.</p>
<p><strong>Saat ini terdapat Perusahaan Periklanan Terbesar Di Dunia, perusahaan tersebut adalah:</strong></p>
<ol>
<li>WPP Group plc (UK)</li>
<li>Omnicom Group Inc. (US)</li>
<li>The Interpublic Group of Companies, Inc. (US)</li>
<li>Publicis Groupe S.A. (FR)</li>
</ol>
<p>Urutan largest in term of billing dan besarnya network saling kejar-mengejar. Jadi mungkin tahun ini WPP, tahun depan Omnicom tahun depan berganti lagi antara 3 conglomerate. Sedang Publicis menempati posisi ke empat.</p>
<p>Masing-masing mempunyai perusahaan  dengan berbagai expertise di bidang komunikasi, Advertising Agency, Media Service, Marketing Branding Strategy, PR, CRM, Corporate ID/Brand, Direct Marketing, Event, Sales Promotion, you name it.</p>
<p>Anak-anak perusahaannya di tiap-tiap grup yang ada di Indonesia tidak diketahui pasti kecuali WPP, tapi jika diperkirakan, petanya seperti berikut ini:</p>
<p>→ <strong>WPP Group plc</strong> :<br />
Bates, Young &amp; Rubicam, J Walter Thompson(JWT), Landor Associates, Ogilvy &amp; Mather Group (termasuk One, PR, Interactive dll), MindShare etc</p>
<p>→ <strong>Omnicom Group Inc.</strong> :<br />
BBDO Worldwide, DDB Worldwide, TBWA Worldwide</p>
<p>→ <strong>The Interpublic Group of Companies, Inc.</strong> :<br />
McCann-Erickson WorldGroup, FCB Group, Lowe &amp; Partners Worldwide</p>
<p>→ <strong>Publicis Groupe S.A.</strong> :<br />
Publicis Worldwide, Leo Burnett Worldwide, Saatchi &amp; Saatchi Worldwide, Fallon Worldwide and 49%-owned Bartle Bogle Hegarty (BBH), Starcom MediaVest Group, ZenithOptimedia.</p>
<p>Khusus untuk WPP, dari direktori di websitenya di dapat perusahaan-perusahaan di Indonesia yang termasuk dalam grup ini:</p>
<p>1. Bates Asia &#8211; Indonesia<br />
2. Dentsu, Young &amp; Rubicam &#8211; Jakarta, Matari-Dentsu Young &amp; Rubicam<br />
3. J Walter Thompson &#8211; Jakarta, Adforce<br />
4. Landor Associates &#8211; Jakarta<br />
5. Maximize &#8211; Jakarta<br />
6. Mediaedgecia &#8211; Indonesia<br />
7. MindShare &#8211; Jakarta<br />
8. Motivator &#8211; Jakarta<br />
9. Ogilvy &amp; Mather &#8211; Jakarta, Ogilvy &amp; Mather<br />
10. Ogilvy &amp; Mather &#8211; Jakarta, Ogilvy Public Relations Worldwide<br />
11. Ogilvy &amp; Mather &#8211; Jakarta, OgilvyOne worldwide<br />
12. Ogilvy Public Relations Worldwide &#8211; Jakarta<br />
13. OgilvyInteractive &#8211; Jakarta, OgilvyInteractive</p>
<p>Tahun 2004 biaya permasangan iklan di Amerika Serikat mencapai sekitar <strong>$212 miliar. </strong>Sementara belanja iklan di seluruh dunia mencapai lebih dari <strong>$414 miliar</strong>. Sebuah angka yang luar biasa besar. Sementara <strong>accounting firm Pricewaterhouse Coopers</strong> menyebutkan, tahun <strong>2010,</strong> belanja iklan seluruh dunia akan mencapai lebih dari setengah triliun dolar Amerika Serikat.</p>
<p>Pemasangan iklan saat ini, banyak dilakukan berbagai macam organisasi nirlaba, profesi, pemerintahan dan badan social. Bahkan pembelanja iklan terbesar ke 25 adalah pemerintah Amerika Serikat.</p>
<p>Saat ini, inovasi dunia periklanan semakin berkembang pesat dengan menggunakan metode pendekatan yang tidak biasa, seperti mendirikan panggung di area public, memberi hadiah mobil dalam mempromosikan brand tertentu, dan mengadakan promosi interaktif dimana konsumen bisa merespon dan menjadi bagian saat promosi berlangsung. Hal ini memberi gambaran perkembangan trend periklanan interaktif melalui penempatan produk, voting melalui SMS dan berbagai inovasi lainnya yang menggunakan jaringan internet, seperti MySpace dan media telekomunikasi mutakhir lainnya.</p>
<p><strong>2.3 </strong><strong>Legenda Periklanan Dunia</strong></p>
<p>Berikut ini nama-nama beberapa tokoh yang menjadi legenda periklanan dunia selain volney palmer:</p>
<p><strong>Leo Burnett</strong></p>
<p>Leo Burnett Agency, Chicago</p>
<p>Mendirikan biro iklan di Chicago. Filosofi biro iklannya adalah “Gapailah ketinggian, karena dengan cara itu kita tidak akan mengejar segenggam lumpur”. Prinsipnya yang paling terkenal adalah “Ide Besar”. Menurutnya setiap kampanye harus mengandung ide yang Akan bertahan selama bertahun-tahun dan memisahkannya dengan hal yang lain. Beberapa karya periklanan Burnett bersumber pada nilai-nilai kemanusiaan universal.<br />
<strong>Rooser Reeves (1910-1984)</strong></p>
<p>Ted Bates &amp; Co, New York</p>
<p>Tokoh periklanan pada tahun 1950-an di biro iklan Ted Bates New York. Ia menerbitkan buku “Reality in Advertising” di tahun 1961 semasa aktif di Ted Bates dan menjadi best-seller. Teorinya yang paling terkenal di dalam periklanan adalah USP atau biasa disebut “ Unique Selling Proposition“ dan mengantarkan Rosser Reeves menjadi terkenal di bidang periklanan. Ia menggambarkan USP di (dalam) tiga komponen yang mengedepankan prinsip dari teknik menjual agresif. Menurutnya tugas iklan adalah memasukkan merek sebanyak mungkin kedalam kotak mental, dengan cara menjual ciri khas dari produk tersebut.<br />
<strong>Bill Bernbach (1911-1982)</strong></p>
<p>Doyle Dane Bernbach, New York</p>
<p>&#8221; Aku memperingatkan kamu untuk melawan terhadap kepercayaan bahwa iklan adalah suatu ilmu pengetahuan &#8221; Bernbach memimpin revolusi periklanan pada dekade 1960-an dan menjadikannya salah satu kekuatan kreatif paling berpengaruh di dalam sejarah periklanan.  Di biro iklan Doyle Dane Bernbach (DDB) New York, ia mempelopori iklan yang dibuat lebih jenaka, lebih cerdas dan kadang sangat tidak sopan.<br />
Ia adalah seorang Adman yang banyak mengilhami orang lain. Setelah kematian Bernbach pada Oktober 1982, prinsipnya berdampak lebih besar pada kultur Amerika dibanding para Adman lain yang telah lahir 133 tahun sebelumnya&#8221;<br />
16 tahun kemudian, Dampak Bernbach berlanjut dan tidak berkurang. Ia dianugrahi daftar kehormatan Iklan abad 20 sebagai orang yang paling berpengaruh dalam periklanan. Pengaruhnya masih hidup dan relevan untuk membantu memberi petunjuk untuk industri periklanan sampai abad 21.<br />
Bagi penulis naskah dan pengarah seni muda yang masih berkembang harus mempelajari kampanye klasik Bernbach karena banyak dari apa yang diyakininya telah menjadi “hukum kreatif” bagi orang-orang iklan.<br />
Prinsipnya yang palig terkenal adalah menempatkan iklan sebagai sebuah seni bukan ilmu pengetahuan.&#8221; Iklan bukan suatu ilmu pengetahuan, Iklan adalah bujukan. Dan bujukan adalah suatu seni.&#8221; – Bill Bernbach<br />
<strong>David Ogilvy (1911-1999)</strong></p>
<p>Ogilvy &amp; Mather Worldwide, New York</p>
<p>Ogilvy adalah Adman yang terkenal di dunia. Ia adalah raksasa di dalam bisnis periklanan selain nama besar Bill Bernbach, Leo Burnett, Ted Bates, Rosser Reeves dan raksasa periklanan lain dalam bisnis itu.</p>
<p>Pesaingnya Ed Ney, yang memimpin Young &amp; Rubicam mengatakan:<br />
&#8220;Ia mahluk cerdas yang sangat Kompetitif. Ia membawa gaya kepada bisnis periklanan. Bernbach OK, tetapi David adalah terbaik dari yang terbaik&#8221;<br />
Di tahun 1975, dia disebut sebagai &#8220;ahli sihir yang paling dicari di dalam industri periklanan.&#8221;</p>
<p>David menjadikan bisnis periklanan sangat menarik dan mengundang banyak orang cerdas kedalamnya. Bukunya Confessions of an Advertising Man adalah buku paling laris yang diterbitkannya di tahun 1962, dan diterbitkan kembali di inggris lebih dari 40 tahun kemudian. Buku itu telah mempengaruhi pandangan dari banyak orang tentang bisnis periklanan.</p>
<p>Pendiri biro iklan Ogilvy &amp; Mather ini filosofinya banyak didasarkan pada hasil riset. Prinsipnya yang paling kontroversial dan jadi perdebatan adalah “tidak seorangpun akan membeli sesuatu dari seorang pelawak atau komedian dan bahwa tulisan putih di atas latar belakang hitam akan sulit dibaca”. Namun prinsipnya bahwa “konsumen itu bukan orang yang bodoh, ia adalah istri anda” merupakan prinsip yang sulit terbantahkan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>John Hegarty</strong></p>
<p>Bartle Bogle Hegarty, New York</p>
<p>Menciptakan kampanye iklan legendaris : levis, lego, audi<br />
John yang bertubuh mungil dan ceking, bersama teman-temannya mendirikan BBH di tahun 1982 dan semenjak saat itu merebut serangkaian penghargaan kreatif. Menurutnya untuk membuat iklan yang baik craftsmanship merupakan hal yang penting karena saat ini kita hidup di budaya visual. Orang lebih peduli pada pencitraan dibanding masa sebelumnya. Cara kita berbusana, dalam hal yang kita kerjakan, bahkan makan. Semuanya bersifat visually driven. Orang mengambil keputusan berdasarkan visual.</p>
<p>Pakar periklanan Amerika ini juga menyebutkan, globalisasi membuat produk-produk memiliki kualitas yang hampir serupa. Sekarang industri lebih banyak bersaing dengan menyentuh emosi dan gengsi konsumen. Hegarty mengatakan, saat ini konsumen membeli barang bukan karena keunggulannya tapi karena produk tersebut membuat sang konsumen percaya, merasa yakin, dan jatuh cinta. Itulah yang disebut dengan Emotional Selling Proposition</p>
<p><strong>Jean Marie Dru</strong></p>
<p>TBWA Worldwide</p>
<p>Disturbtion adalah pendekatan revolusioner terhadap periklanan yang dikembangkan oleh Jean Marie Dru dari biro iklan TBWA Worldwide. Ia mengatakan jika perusahaan tidak menciptakan perubahan maka perubahanlah yang akan menciptakan mereka. Dru percaya bahwa iklan harus mengganggu kenormalan yang dapat diprediksi, sehingga dapat masuk ke dalam koteks yang sama sekali baru</p>
<p><strong>Jay Chiat</strong></p>
<p>Chiat/Day, California</p>
<p>Pendiri biro iklan Chiat/Day yang sangat berpengaruh di California, dan berhasil mengangkat derajat biro iklan yang tidak berlokasi di Madison Avenue.</p>
<p>Jay adalah sosok yang mempesona, menghebohkan dan memiliki daya juang tinggi. Salah satu ungkapannya yang terkenal adalah “How big can we get, before we get bad ?”.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emjaiz.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emjaiz.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emjaiz.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emjaiz.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emjaiz.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emjaiz.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emjaiz.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emjaiz.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emjaiz.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emjaiz.wordpress.com/225/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emjaiz.wordpress.com&blog=2472621&post=225&subd=emjaiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emjaiz.wordpress.com/2009/10/08/versi-lain-sejarah-periklanan-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1890794f408bb1a2d48bf2b2f63e0cfe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emjaiz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rating, Share, dan Kepuasan Khalayak</title>
		<link>http://emjaiz.wordpress.com/2009/10/08/rating-share-dan-kepuasan-khalayak/</link>
		<comments>http://emjaiz.wordpress.com/2009/10/08/rating-share-dan-kepuasan-khalayak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 04:36:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emjaiz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Periklanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emjaiz.wordpress.com/?p=221</guid>
		<description><![CDATA[Rating acara adalah persentase penonton program TV tertentu terhadap populasi pada saat tertentu. Rating tidak mengukur kualitas, melainkan kuantitas keluar-masuk penonton dengan unit waktu tertentu. Unit waktu terkecil adalah 1 menit.
Sebagai contoh, jika populasi televisi 10.000, dan pada satu menit penayangan sebuah acara RCTI disaksikan 2000 orang, sedangkan pada saat yang sama acara yang dipancarkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emjaiz.wordpress.com&blog=2472621&post=221&subd=emjaiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Rating acara adalah persentase penonton program TV tertentu terhadap populasi pada saat tertentu. Rating tidak mengukur kualitas, melainkan kuantitas keluar-masuk penonton dengan unit waktu tertentu. Unit waktu terkecil adalah 1 menit.<span id="more-221"></span></p>
<p>Sebagai contoh, jika populasi televisi 10.000, dan pada satu menit penayangan sebuah acara <em>RCTI</em> disaksikan 2000 orang, sedangkan pada saat yang sama acara yang dipancarkan <em>SCTV</em> dan <em>Indosiar</em> ditonton oleh 1000 orang, maka rating masing-masing 20 peratus (<em>RCTI</em>), 10 peratus (<em>SCTV</em>), dan 10 peratus (<em>Indosiar</em>).</p>
<p>Angka rating dapat dipengaruhi oleh durasi program, program tandingan, kualitas penerimaan siaran, serta penonton yang ada. Keberadaa penonton bisa disebabkan oleh jadual tayang, waktu-waktu insidental, dan pola kebiasaan penonton di daerah tertentu.</p>
<p>Adapun porsi khalayak (<em>audience share</em>) adalah persentase penonton program TV tertentu terhadap keseluruhan penonton pada saat tertentu. Dengan begitu, jika jumlah orang yang menyalakan televisi saat itu adalah 4000, porsi khalayaknya adalah 50 peratus (<em>RCTI</em>), 25 peratus (<em>SCTV</em>), dan 25 peratus (<em>Indosiar</em>).</p>
<p>Kedua konsep umum digunakan dalam praktik industri untuk mengukur kinerja mereka.</p>
<p>Metode rating muncul di Amerika Serikat seiring dengan perkembangan stasiun radio komersial pada tahun 1920-an. Ketika itu agen-agen iklan ramai membuat siaran niaga untuk pelbagai jaringan radio. Metode rating kemudian diterapkan karena para pengiklan ingin tahu seberapa luas khalayak yang terjangkau.</p>
<p>Pada awalnya metode rating dilakukan dengan wawancara lewat telepon untuk memperkirakan cakupan jaringan radio nasional di seluruh Amerika Serikat. Setelah teknologi televisi bertumbuh pada dekade berikutnya, AC Nielsen menerapkan metode rating siaran televisi untuk kali pertama.</p>
<p>Perusahaan riset ini menggunakan dua teknik yang masih dilakukan sampai sekarang. Pertama, menempatkan sebuah alat pengukur pada pesawat televisi di rumah-rumah pemirsa tertentu yang dijadikan sampel untuk merekam pilihan program mereka. Kedua, meminta responden membuat catatan tentang acara apa yang mereka tonton setiap hari. Hasil rating itu menentukan harga jual slot waktu bagi pemasangan iklan pada program-program televisi.</p>
<p>Sejalan dengan semakin beragamnya media siaran, rating tidak sekadar mengungkapkan jumlah penonton, tetapi juga karakteristik demografi khalayak. Perusahaan iklan yang mempromosikan apartemen mewah, sebagai contoh, tidak saja membutuhkan informasi tentang berapa besar khalayak program televisi tertentu, tapi juga tentang berapa banyak di antara mereka bersesuaian dengan karakteristik target produk (misalnya pendapatan tinggi dan usia 30 tahunan). Atas dasar pertimbangan ini, perusahaan itu kemudian membuat keputusan apakah sebaiknya ia membeli slot waktu jeda komersial untuk iklan mereka pada program tertentu.</p>
<p>Metode rating diterapkan jauh sebelum landasan teoritisnya digambarkan oleh Elihu Katz pada tahun 1959. Pada saat itu ilmu komunikasi yang cenderung mengangkat efek sebagai persoalan mengalami kejenuhan. Teori-teori efek menganggap khalayak sebagai entitas pasif dan bisa diarahkan sebagaimana kehendak komunikator. Akan tetapi, Katz menawarkan fokus kajian dari sumber ke penerima. Atau dengan kata lain, mengganti pertanyaan penelitian “<em>what do media do to people</em>?” menjadi “<em>what do people do with the</em> <em>media</em>?”</p>
<p>Orang mengkonsumsi media, umpamanya, karena ia ingin memuaskan sebagian kebutuhannya. Seorang pengusaha, sebagai contoh, cenderung menonton informasi keuangan ketimbang opera sabun. Dengan kata lain, dalam teori ini khalayak ditempatkan sebagai entitas yang aktif dan pemakaian media mempunyai tujuan, yaitu memenuhi kebutuhan untuk memuaskan diri mereka. Maka, stasiun televisi bersaing untuk memenuhi pemuasan tersebut.</p>
<p>Meskipun demikian, pengukuran rating <strong>sama sekali tidak mengukur preferensi khalayak.</strong> Akan tetapi, pada praktiknya para awak media siaran secara aproiori telah membuat asumsi bahwa ada asosiasi antara rating dengan preferensi khalayak. Oleh sebab itu, setiap stasiun televisi lantas berusaha merancang pelbagai program yang mengejar rating. Tujuannya agar pengiklan tertarik memasang siaran niaga di acara televisi mereka.</p>
<p>Lantas, kepuasan apakah yang dicari khalayak? Di sini McQuail, Blumler, dan Brown membuat beberapa kategori. Pertama, pelarian dari rutinitas dan masalah; penyaluran emosi. Kedua, hubungan personal, bahan perbincangan sebagai kebutuhan pertemanan. Ketiga, jati diri personal dan psikologis semisal penguatan, peneguhan, pemahaman diri, eksplorasi realitas. Keempat, pengawasan, berkaitan dengan informasi tentang sesuatu yang bisa jadi mempengaruhi seseorang atau menolong orang mengerjakan sesuatu.</p>
<p>Sumber : http://www.semestanet.com/2007/11/22/rating-share-dan-kepuasan-khalayak/</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emjaiz.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emjaiz.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emjaiz.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emjaiz.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emjaiz.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emjaiz.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emjaiz.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emjaiz.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emjaiz.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emjaiz.wordpress.com/221/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emjaiz.wordpress.com&blog=2472621&post=221&subd=emjaiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emjaiz.wordpress.com/2009/10/08/rating-share-dan-kepuasan-khalayak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1890794f408bb1a2d48bf2b2f63e0cfe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emjaiz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beginilah Cara Pengukuran Rating Dilakukan…</title>
		<link>http://emjaiz.wordpress.com/2009/10/08/beginilah-cara-pengukuran-rating-dilakukan%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://emjaiz.wordpress.com/2009/10/08/beginilah-cara-pengukuran-rating-dilakukan%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 04:32:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emjaiz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Periklanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emjaiz.wordpress.com/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[22 November 2007 — Junarto Imam Prakoso
Rating adalah hidup-mati stasiun televisi. Semakin tinggi rating, semakin banyak pemasang iklan. Harga jual slot siaran niaga pun semakin mahal. Ini berarti semakin besar pemasukan. Sebaliknya, jika ratingnya terus-menerus rendah, dapat dipastikan sebuah stasiun televisi takkan bisa bertahan.
Penyelenggaraan survai rating televisi di tanah air dirintis oleh Survai Research Indonesia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emjaiz.wordpress.com&blog=2472621&post=219&subd=emjaiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>22 November 2007 — Junarto Imam Prakoso</p>
<p>Rating adalah hidup-mati stasiun televisi. Semakin tinggi rating, semakin banyak pemasang iklan. Harga jual slot siaran niaga pun semakin mahal. Ini berarti semakin besar pemasukan. Sebaliknya, jika ratingnya terus-menerus rendah, dapat dipastikan sebuah stasiun televisi takkan bisa bertahan.<span id="more-219"></span><!--more--><!--more--></p>
<p>Penyelenggaraan survai rating televisi di tanah air dirintis oleh Survai Research Indonesia (SRI) semenjak 1990. Pada tahun 1994 <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/ACNielsen">AC Nielsen</a> — perusahaan riset pemasaran terkemuka asal Amerika Serikat — mengakuisisi SRI, sehingga namanya berubah menjadi AC Nielsen-SRI. Selanjutnya beberapa kali perusahaan ini berganti nama. Pertama, AC Nielsen Media International, kemudian Nielsen Media Research. Terakhir pada tahun 2004 ia menjadi AGB Nielsen Media Research.</p>
<p>Sebelum pemeringkatan, Nielsen mengadakan <em>TV</em> <em>Establishment Survey</em> guna mengetahui persentase kepemilikan televisi pada tingkat rukun tetangga. “Tingkat panetrasi TV Indonesia lumayan tinggi,” kata Irawati Pratignyo, Direktur Pelaksana AGB Nielsen Media Research. Ia menyebutkan angka delapan puluh persen.</p>
<p>Pelaksanaan metodologi, jelas Irawati, mengacu Panduan Global Pengukuran Khalayak Televisi (<em>Global Guidelines for TV Audience Meausurement</em>), yaitu prosedur standar pengukuran rating Nielsen di dunia.</p>
<p>Pengukuran kemudian dilakukan di sepuluh kota besar, yaitu Jakarta dan sekitarnya (Bogor, Tangerang, Bekasi), Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya (dan Gerbangkertasila), Denpasar, Makasar, Medan, Palembang, dan Banjarmasin.</p>
<p>Penyebaran sampel tidak sama di setiap kota, yaitu Jakarta 55 persen, Surabaya 20 persen, Bandung 5 persen, Yogyakarta 5 persen, Medan 4 persen, Semarang 3 persen, Palembang 3 persen, Makassar 2 persen, Denpasar 2 persen, dan Banjarmasin 1 persen. Angka ini proporsional berdasarkan populasi kepemilikan televsisi di tiap-tiap kota itu. Kepemilikan televisi di Jakarta, misalnya, 55 persen terhadap total 10 kota, maka jumlah sampelnya 55 persen.</p>
<p>Batasan populasi, kata Irawati, “adalah semua penduduk kota yang terdaftar dalam Kartu Keluarga, berusia berusia lima tahun atau lebih, dan tinggal di rumah tangga yang memiliki pesawat televisi dengan keadaan baik.” Lantas, ujarnya, sampel ditentukan berdasarkan teknik acak berjenjang (<em>stratified</em> <em>random</em>).</p>
<p>“Di televisi responden dipasang <em>peoplemeter</em>,” jelas Irawati. <em>Peoplemeter</em> adalah alat yang mampu mengukur jumlah penonton — paling tidak selama satu menit, atau minimum 17 detik — pada sebuah acara. Alat ini mampu melacak pilihan frekuensi teleivsi sampai 999 saluran dan mendeteksi frekuensi, modulasi gambar, dan modulasi audio-video. “Tapi, ia tidak memperhitungkan preferensi (suka, tidak suka), tidak juga kualitas program (apakah baik atau buruk),” jelas Irawati.</p>
<p>Pada <em>peoplemeter</em> tersambung sebuah gagang (<em>handset</em>) yang terprogram untuk mencatat jati diri setiap anggota keluarga. Bila hendak menonton, sebagai contoh, mereka menekan salah satu tombol pada gagang itu terlebih dahulu. Secara otomatis alat itu mengumpulkan data tentang acara apa saja yang dipirsa setiap anggota keluarga dalam hitungan menit. Jadi, responden tidak perlu lagi mengisi kuesioner semenjak memulai menonton televisi sampai selesai. “Dengan begitu, sistem ini mengurangi kesalahan manusiawi (<em>human</em> <em>error</em>),” kata Irawati.</p>
<p>Jika terdapat dua televisi dalam sebuah rumah, jumlah <em>peoplemeter</em> yang dipasang juga dua. Yang jelas, aktivitas menonton pembantu ataupun satpam — kalau ada — tidak direkam. Begitu juga, televisi khusus untuk pembantu dan satpam tidak dipasang <em>peoplemeter.</em></p>
<p>Pengukuran oleh <em>peoplemeter</em> berlangsung secara seketika (<em>online</em>) dan tunda (<em>offline</em>). Pada cara tunda, data tentang perilaku menonton direkam terlebih dahulu ke disket yang terletak dalam slot <em>peoplemeter</em>. Disket itu kemudian setiap minggu diambil oleh seorang petugas Nielsen.</p>
<p>Pada cara seketika, data terkumpul pada saat responden menonton. Pada cara ini <em>peoplemeter –</em> yang tersambung dengan telepon rumah — dikoneksi pusat data Nielsen pada sekitar jam dua dini hari. “Persoalannya, Telkom melakukan perbaikan pada jam-jam ini. Jadi, seringkali tidak terhubung,” kata Irawati. Itulah sebab, tambahnya, data peringkat di Indonesia baru dapat dikeluarkan secara mingguan, belum harian.</p>
<p>Irawati mengungkapkan, panjang program televisi ikut mempengaruhi rating. Misalnya, sebuah program berdurasi tiga puluh menit pada awalnya berating sepuluh persen. Ketika diperpanjang menjadi enam puluh menit, ratingnya turun menjadi delapan peratus karena angka pembagi — yaitu jumlah khalayak — semakin besar.</p>
<p>Selain itu, kualitas gambar mempengaruhi rating. Jika kualitas gambar buruk, penonton akan cenderung meninggalkan saluran itu, tak peduli betapa bagusnya program acara.</p>
<p>Pada saat jam-jam puncak (<em>peak hour</em>), penonton memiliki pilihan terbatas karena setiap saluran menyajikan jenis program yang sama. Adapun acara-acara <em>kagetan</em> seperti Piala Dunia, liburan sekolah, bencana alam, bom, dan sejenisnya mampu mendongkrak rating.</p>
<p><strong>Membaca Rating Nielsen</strong></p>
<p>Pemeringkatan dengan <em>peoplemeter</em> juga tidak dilakukan di desa-desa, lantaran, “di desa kehidupan berjalan tidak sedinamis di kota,” kata Irawati. Kalaupun ada, responden di desa hanya membuat catatan harian tentang aktivitas menonton mereka. Itulah sebab, ujar Irawati, “Kami tidak pernah mengklaim hasil rating kami bisa digeneralisasi secara nasional.”</p>
<p>Memang survai rating Nielsen memiliki validitas internal yang baik: ia menggunakan alat ukur canggih yang mampu mengurangi kesalahan masukan data sekecil-kecilnya. Akan tetapi, validitas eksternalnya terlalu lemah untuk sampai bisa megatakan bahwa hasil rating ini mewakili gambaran umum se-Indonesia.</p>
<p>Hasil rating harus dibaca lebih spesifik, hanya berlaku untuk kota besar di barat negeri yang tercakup pengukuran ini. Lagipula, sampel tidak meliputi wilayah pedesaan yang justru didiami delapan puluh persen masyarakat Indonesia.</p>
<p>Selain itu, 55 persen sampel adalah khalayak Jakarta. Jadi, boleh dibilang masyarakat Jakarta “sangat berkuasa” mempengaruhi jenis tayangan televisi, karena hasil rating menjadi acuan siaran stasiun televisi Jakarta, yang daya pancarnya menjangkau hampir seluruh Nusantara.</p>
<p>Sepuluh kota dipilih sebagai sampel berdasarkan riset Nielsen tentang “kebutuhan pengguna data” seperti industri, iklan, biro iklan, dan stasiun televisi. Pertimbangannya, distribusi barang dan jasa terkonsentrasi di kota itu. Jadi, rating sebenarnya melayani kepentingan industri untuk mempromosikan barang dan jasa mereka yang distribusinya terkonsentrasi di kota-kota besar itu, bukan mengungkapkan perilaku-menonton khalayak secara umum.</p>
<p>Fenomena ini mencerminkan ketimpangan penyebaran kemakmuran di tanah air. Sayangnya, ketimpangan ini justru memunculkan dominasi budaya tertentu (misalnya gaya hidup kota besar yang konsumtif), yang berdaya mendiktekan tayangan televisi, dan menyeragamkan budaya Indonesia yang majemuk.</p>
<p>Pada akhirnya, kualitas sebuah acara tetap bergantung pada kebijakan stasiun televisi, bukan rating. Acara berating tinggi tidak benar-benar mengindikasikan bahwa acara itu disukai. Sebab, ada faktor lain semisal pilihan khalayak terbatas (karena homogenisasi acara tadi, atau karena stasiun televisi sering latah <em>ikut-ikutan</em>).</p>
<p>Sekarang berpulang kepada stasiun televisi, apakah kebijakan penayangan mereka sangat mempertimbangkan kualitas, kesusilaan, dan norma-norma masyarakat dengan semangat pencerahan, ataukah asumsi-asumsi tafsiran rating yang sebaliknya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emjaiz.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emjaiz.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emjaiz.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emjaiz.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emjaiz.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emjaiz.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emjaiz.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emjaiz.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emjaiz.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emjaiz.wordpress.com/219/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emjaiz.wordpress.com&blog=2472621&post=219&subd=emjaiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emjaiz.wordpress.com/2009/10/08/beginilah-cara-pengukuran-rating-dilakukan%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1890794f408bb1a2d48bf2b2f63e0cfe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emjaiz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menghitung Rating Acara Televisi</title>
		<link>http://emjaiz.wordpress.com/2009/10/08/menghitung-rating-acara-televisi/</link>
		<comments>http://emjaiz.wordpress.com/2009/10/08/menghitung-rating-acara-televisi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 04:05:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emjaiz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Periklanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emjaiz.wordpress.com/2009/10/08/menghitung-rating-acara-televisi/</guid>
		<description><![CDATA[by dhini puspitasari
Cara penghitungan rating televisi memakan sistem TAM (Television Audience Measurement)
Bagaimana pengambilan data kepemirsaan televisi dilakukan?
Tombol handset
Pesawat-pesawat TV dan peralatan lain yang dihubungkan dengan TV, misalnya DVD player, Play Station, dll di masing-masing rumah panel dipantau secara elektronik oleh sistem Peoplemeter. Masing-masing anggota rumahtangga diberikan sebuah tombol khusus pada handset Peoplemeter (misalnya tombol 1 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emjaiz.wordpress.com&blog=2472621&post=213&subd=emjaiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>by dhini puspitasari</p>
<p>Cara penghitungan rating televisi memakan sistem TAM (Television Audience Measurement)<br />
Bagaimana pengambilan data kepemirsaan televisi dilakukan?<span id="more-213"></span></p>
<p>Tombol handset<br />
Pesawat-pesawat TV dan peralatan lain yang dihubungkan dengan TV, misalnya DVD player, Play Station, dll di masing-masing rumah panel dipantau secara elektronik oleh sistem Peoplemeter. Masing-masing anggota rumahtangga diberikan sebuah tombol khusus pada handset Peoplemeter (misalnya tombol 1 untuk Ayah, tombol 2 untuk Ibu, dsb). Anggota rumahtangga diminta untuk menekan tombol handset pada saat menonton TV, dan menekan kembali ketika selesai menonton. Pengambilan data dilakukan melalui dua sistem, yaitu online dan offline. Pada sistem online, data diambil setiap malam melalui sistem telepon yang diset secara otomatis dan dihubungkan dengan sistem pengolahan data sentral di kantor AGB Nielsen Media Research. Sistem online ini dilakukan untuk penarikan data harian (daily rating) di kota Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Sedangkan rumah panel yang masih offline di kota lainnya akan didatangi petugas Liaison Officer untuk mengganti modul (alat perekam data) setiap hari Minggu untuk data kepemirsaan hari Minggu hingga Sabtu pada minggu sebelumnya.Siapa saja yang dijadikan panel dalam pengukuran kepemirsaan televisi (Television Audience Measurement)?<br />
Anggota dari rumahtangga yang memiliki pesawat televisi dalam kondisi berfungsi dengan baik dan berusia 5 tahun ke atas. Semua rumah tangga di 10 area survei AGBNielsen memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi panel melalui penyaringan dan pemilihan dengan metode stratified random sampling (penarikan sampel secara acak bertingkat yang dimulai dari tingkat kotamadya hingga ke tingkat RT/Rukun Tetangga; dari masing-masing RT terpilih dipilih satu rumahtangga untuk menjadi panel). Dengan demikian, tidak ada satu rumahtangga pun yang dapat mengajukan diri untuk menjadi panel.<br />
Bagaimana metode Stratified Random Sampling dilakukan dalam proses pemilihan panel?<br />
Pertama-tama, 50 unit rumah tangga dalam lokasi yang memiliki TV dan berada pada lokasi yang berdekatan dikelompokkan dalam sebuah Primary Sampling Unit (PSU). Kemudian, pada masing-masing PSU, rumah-rumah dalam interval tertentu didata demografinya. Kemudian hasil pendataan tersebut dikompilasi, dan dipilih secara acak rumah tangga untuk dijadikan panel dengan mempertimbangkan proporsi umur, gender, serta SES sesuai dengan kondisi populasi. Proporsi populasi didapatkan dari hasil TV Establishment Survey.<br />
Apakah yang dimaksud dengan TV Establishment Survey ?<br />
TV Establishment Survey merupakan survei yang dilaksanakan secara tahunan dan bertujuan untuk :<br />
1. Menetapkan ukuran dan profil demografi penduduk yang memiliki televisi di kota-kota yang dijadikan target Peoplemeter, juga karakteristik penerimaan televisi serta detail kepemilikan barang-barang rumah tangga dari rumah-rumah di area-area itu.<br />
2. Untuk mengidentifikasi variabel-variabel demografik untuk penghitungan jumlah populasi yang sebenarnya dan proyeksi selama pembuatan TV rating. Juga untuk mengetahui jumlah total masing-masing variabel.<br />
3. Untuk membentuk kelompok rumah tangga menjadi panel Peoplemeter.<br />
4. Untuk menetapkan atau meninjau variabel kontrol dan matrix kontrol untuk pemeliharaan panel.<br />
Mengapa tingkat penyebaran panel tidak sama di tiap kota?<br />
Survey AGBNielsen mencakup 10 kota besar, yaitu Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, Makassar, Yogyakarta, Palembang, Denpasar, dan Banjarmasin. Tingkat penyebaran panel didasarkan pada survei awal atau Establishment Survey (ES) di 10 kota tersebut. Dari ES, akan didapatkan jumlah rumah tangga (berusia 5 tahun ke atas) yang memiliki TV yang berfungsi dengan baik atau disebut populasi TV. Dari populasi TV, akan diperoleh proporsi populasi TV untuk masing-masing area. Berdasarkan ES, proporsi populasi TV di 10 kota secara berturut-turut adalah: Jakarta-55%, Surabaya-20%, Bandung-5%, Yogyakarta-5%, Medan-4%, Semarang-3%, Palembang-3%, Makassar-2%, Denpasar-2%, dan Banjarmasin-1%. Dengan demikian, jumlah panel yang direkrut adalah berdasarkan pada proporsi populasi TV di masing-masing kota tersebut. Dengan kepemilikan TV di Jakarta adalah 55% dari total kepemilikan TV di 10 kota, maka 55% panel yang direkrut ada di Jakarta, dst.<br />
Hal yang sama juga berlaku dalam hal penyebaran panel berdasarkan target pemirsa, misalnya Status Ekonomi Sosial (SES), pendidikan, pekerjaan, dsb. Sama dengan penyebaran panel per area yang telah dijelaskan diatas, pembagian panel per SES juga didasarkan atas ES. Jika dari ES tergambar bahwa populasi TV Jakarta sejumlah 19% berasal dari SES A, maka panel SES A yang direkrut pun sebanyak 19% dari total panel Jakarta.<br />
Berapa lama usia panel dan bagaimana prosedur penggantian panel?<br />
Lamanya sebuah rumahtangga menjadi panel adalah maksimal 2 tahun, namun penggantian panel tidak dilakukan secara serentak. Tingkat berhentinya suatu rumahtangga sebagai panel secara normal adalah 20-25% dari rumahtangga yang ter-install setiap tahunnya. Tidak ada penggantian yang dipaksakan dalam keadaan normal. Selain penggantian secara normal terjadi pula penggantian panel diakibatkan karena beberapa alasan, diantaranya:<br />
- Penolakan panel rumahtangga untuk meneruskan kerjasama<br />
- Menolak karena tidak memperbolehkan meng-install semua TV<br />
- Perubahan pada kondisi/keadaan anggota rumah tangga<br />
- Pindah rumah/renovasi<br />
Apa yang sesungguhnya diberikan oleh TAM untuk industri?<br />
TAM (TV Audience Measurement) memberikan masukan (dalam kepemirsaan TV) bagi agensi periklanan dan pemilik produk yang menggunakan TV sebagai medium untuk mengkomunikasikan produk mereka.<br />
Apakah Rating Program?<br />
Rating Program adalah rata-rata pemirsa pada program tertentu yang dinyatakan sebagai persentase dari kelompok sampel atau potensi total. Angka Rating Program didasarkan atas unit waktu terkecil 1 menit.<br />
Mengapa rating program diperlukan?<br />
Karena jaringan, stasiun TV, dan produser program tentunya ingin mengetahui apakah orang menyaksikan acara mereka atau tidak, siapa saja yang menonton, dan berapa banyak jumlahnya.<br />
Kapan rating program dipakai?<br />
Ketika ingin mengetahui banyaknya pemirsa yang menonton suatu program pada lintas periode waktu tertentu.<br />
Kapan share pemirsa dipakai?<br />
Share dapat digunakan ketika ingin mengukur persentase pemirsa yang menonton program tertentu dibandingkan dengan program-program lainnya dalam periode waktu yang sama.<br />
Jika rating sebuah program rendah, tidakkah akan berpengaruh dalam pengambilan keputusan?<br />
Beberapa pelaku penyiaran memutuskan untuk melanjutkan program tertentu tanpa harapan untuk meraih rating tertinggi. Beberapa lainnya memutuskan untuk menghentikan tayangan. Hal ini tergantung pada tujuan utama dan strategi bisnis mereka.<br />
Apakah TAM mengukur kualitas program acara?<br />
Tentu saja tidak. Hasil pengukuran hanya akan memberitahu tentang berapa banyak orang yang menyaksikan acara mereka atau kuantitasnya. Banyaknya jumlah orang yang menonton pun tidak bisa secara langsung dikaitkan dengan alasan suka/tidak suka<br />
Jika responden lupa menggunakan handset Peoplemeter ketika sedang menonton TV, bagaimana pengumpulan data kepemirsaan dari responden tersebut ?<br />
Jika TV menyala tanpa seorangpun menekan tombol pada handset, perangkat Peoplemeter akan memberikan sinyal peringatan berupa suara dan running text “Siapa menonton?”. Jika suara dan teks tersebut diacuhkan, AGBNielsen akan bisa mengidentifikasikannya saat data diproses melalui Periodic Statistic Report terhadap “analisis kepemirsaan yang tidak lolos produksi”. Ada patokan tertentu untuk data kepemirsaan yang lolos quality control produksi. Jika patokan tersebut terlampaui, maka data kepemirsaan dari rumahtangga tertentu akan disingkirkan dan tidak akan diproses. AGBNielsen juga akan mengirim petugas untuk melakukan re-edukasi panel untuk menekan tombol. Jika rumahtangga panel tidak memperlihatkan perkembangan setelah dire-edukasi, maka panel akan dilepas untuk diganti dengan panel yang baru.<br />
Apa imbalannya untuk keluarga responden?<br />
Sebagai apresiasi atas partisipasi sebagai responden AGBNielsen, panel mendapatkan poin setiap bulannya. Panel dapat memilih hadiah – yang berupa perabot rumahtangga, seperti timbangan, pan, setrika, tea set, dinner set, panci, kompor, blender, dsb – dari katalog AGBNielsen berdasarkan poin yang dikumpulkan. Semakin lama waktu kerjasama, semakin besar poin yang bisa dikumpulkan. Nilai nominal hadiah yang diberikan tergantung pada jumlah poin tersebut.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emjaiz.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emjaiz.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emjaiz.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emjaiz.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emjaiz.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emjaiz.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emjaiz.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emjaiz.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emjaiz.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emjaiz.wordpress.com/213/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emjaiz.wordpress.com&blog=2472621&post=213&subd=emjaiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emjaiz.wordpress.com/2009/10/08/menghitung-rating-acara-televisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1890794f408bb1a2d48bf2b2f63e0cfe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emjaiz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>STRATEGI IKLAN : Teori Pesan &amp; Kreatifitas</title>
		<link>http://emjaiz.wordpress.com/2009/09/04/strategi-iklan-teori-pesan-kreatifitas/</link>
		<comments>http://emjaiz.wordpress.com/2009/09/04/strategi-iklan-teori-pesan-kreatifitas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 09:03:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emjaiz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Periklanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emjaiz.wordpress.com/?p=208</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Ahmad Zaki
Strategi Periklanan 
Strategi memegang peranan vital dalam penentuan keberhasilan iklan. Strategi merupakan dasar membangun merek, strategi menjaga agar periklanan dan elemen pemasaran berada dalam jalur yang tepat serta membangun kepribadian merek dengan jelas dan konsisten. Strategi mewakili jiwa sebuah merek dan menjadi elemen penting untuk keberhasilan (Roman, Maas &#38; Nisenholtz, 2005).
Strategi iklan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emjaiz.wordpress.com&blog=2472621&post=208&subd=emjaiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh : Ahmad Zaki</p>
<p><strong>Strategi Periklanan </strong><br />
Strategi memegang peranan vital dalam penentuan keberhasilan iklan. Strategi merupakan dasar membangun merek, strategi menjaga agar periklanan dan elemen pemasaran berada dalam jalur yang tepat serta membangun kepribadian merek dengan jelas dan konsisten. Strategi mewakili jiwa sebuah merek dan menjadi elemen penting untuk keberhasilan (Roman, Maas &amp; Nisenholtz, 2005).<span id="more-208"></span></p>
<p>Strategi iklan harus mampu menjawab pertanyaan dasar dari rancangan sebuah sebuah kampanye periklanan yang dirumuskan dalam 5W + 1H (Suhandang, 2005) yaitu :<br />
- What : apa tujuan iklan ?<br />
- Who : siapa khalayak yang akan dijangkau ?<br />
- When : kapan iklan dipasang ?<br />
- Where : di mana iklan dipasang ?<br />
- Why : mengapa harus demikian ?<br />
- How : bagaimana bentuk iklannya ?</p>
<p>Tujuan dari strategi adalah usaha untuk menciptakan iklan yang efektif, oleh karena itu selain rumusan pertanyaan 5W + 1H maka pengetahuan yang cukup tentang produk, persaingan pasar atau kompetitor dan analisis mendalam tentang konsumen merupakan kunci pokok yang harus diketahui oleh pemasar sebelum merumuskan sebuah strategi (Batey, 2003)</p>
<p>a. Marketing Brief<br />
Hal yang paling pertama sebelum strategi dirumuskan adalah pengetahuan tentang produk. Informasi mengenai produk atau jasa yang akan diiklankan, termuat dalam marketing brief yang dibuat oleh klien (Madjadikara, 2004). Informasi tersebut biasanya meliputi :<br />
- Brand<br />
Merupakan penjelasan apakah merek tersebut adalah merek baru atau merek yang telah lama ada di pasar<br />
- Product knowledge<br />
Penjelasan singkat tentang fitur yang terkandung dalam produk<br />
- Diferensiasi<br />
Keunggulan yang membedakannya dengan kompetitor<br />
- Target Audience<br />
Yaitu segmentasi yang dimaksud oleh suatu produk yang akan diiklankan. Kelompok mana yang akan menjadi target market suatu produk tersebut.<br />
Ketahui TA, pahami betul bagaimana mereka berpikir, bertindak, berperilaku. Amati pola pergaulan mereka. Dengarkan bagaimana mereka berbicara. Apa yang membuat mereka tertarik untuk mendengar. Benda serta warna apa yang bisa membuat mereka menolehkan mata. Kesempatan kita untuk bisa memenangkan perhatian konsumen adalah dalam hitungan detik!<br />
- Analisis SWOT<br />
Tujuan mengetahui SWOT adalah untuk menganalisis suatu produk yang dibandingkan dengan produk pesaing, serta kondisi dan kecendrungan pasar.<br />
- Kompetitor<br />
Produk apa yang menjadi kompetitor dari produk yang akan diiklankan. Dari situ bisa dilihat apa saja yang menjadi kelebihan dan kekurangan dari produk yang akan diiklankan dan produk kompetitornya. juga bisa melihat seperti apa iklan terakhir dari kompetitor tersebut.</p>
<p>b. Creative Brief<br />
Strategi didefinisikan dengan jelas untuk menstimulasi tujuan yang besar yang tertuang dalam rangkuman kreatif atau creative brief yang dibuat untuk agensi dalam menciptakan iklan. Rangkuman kreatif merupakan jembatan strategi dengan kreatifitas periklanan, rangkuman kreatif mewakili situasi sekarang, kompetisi, kondisi pasar dan pertimbangan media. Rangkuman itu menjadi strategi hidup dan memberikan pandangan penting bagi tim kreatif untuk menetapkan strategi dan menentukan ide penjualan utama, yang akan menjadi tema pusat kampanye periklanan.</p>
<p>Masing-masing agensi periklanan mempunyai model rangkuman kreatif yang berbeda-beda, tergantung dari kebutuhan produk yang akan di iklankan. Tidak ada model pemasaran yang begitu kaku sehingga anda tak dapat berubah. Tidak ada rumus pemasaran yang begitu ketat sehingga setiap perubahan dilarang. Hanya pedoman strategi tidak boleh berubah sedangkan pedoman taktisnya berupa rangkuman kreatif boleh berubah (Batey, 2003)</p>
<p>Hal-hal yang biasanya terdapat dalam sebuah rangkuman kreatif atau creative brief (Roman, Maas &amp; Nisenholtz, 2005) yaitu :<br />
1. Tujuan<br />
Aspek pertama yang paling penting sebelum merumuskan strategi periklanan adalah sebuah sasaran atau tujuan. Tujuan itu tergantung pada apa yang ingin dicapai oleh klien dalam kampanye. Misalnya, membangun kesadaran pada suatu merek, mengkomunikasikan informasi, membuat perilaku atau membangun persepsi.<br />
2. Nyatakan masalah pemasarannya<br />
Masalah biasanya ditemukan setelah dilakukan analisis SWOT.<br />
3. Target Audience<br />
Identifikasi audience sasaran dengan segmen yang sempit berdasarkan faktor demografi, geografis, psikologis, perilaku konsumen dan pola berpikir dan bertindak. Yang harus jadi pertimbangan adalah, semakin luas target Audience maka pesan akan semakin lemah.<br />
4. Keuntungan kunci atau ide pesan utama<br />
Satu ide tunggal yang akan selalu diingat target setelah melihat iklan. Ide penjualan utama atau tema kampanye berdasarkan keuntungan kunci.<br />
5. Alasan konsumen untuk percaya<br />
Benefit yang berbeda dari kompetitor yang juga mengatakan hal yang sama dalam ide penjualan utama atau tema kampanyenya, atau sebuah pernyataan yang bertujuan tunggal dari sudut pandang konsumen yang menunjukkan mengapa konsumen membeli atau tidak membeli produk atau merek tersebut.<br />
6. Gaya / tone<br />
Daya tarik yang digunakan untuk mewakili kepribadian merek. Ciri khas komunikasi yang disampaikan harus bisa membawa atau mewakili pesan periklanan.<br />
7. Dampak yang diharapkan<br />
Pengaruh yang diharapkan melalui periklanan dari khalayak sasaran dan bagaimana iklan ini dapat meyakinkan konsumen.</p>
<p><strong>Inilah Strateginya&#8230;</strong><strong><br />
</strong>Hal yang paling sulit adalah justru hal yang paling sederhana dari proses pembuatan iklan itu sendiri. Yaitu, Pesan!<br />
Dalam Teori Ilmu Komunikasi, kepenerimaan komunikee akan pesan yang disampaikan oleh komunikator menjadi dasar penilaian akan keberhasilan suatu proses komunikasi. Untuk menentukan pesan apa yang akan disampaikan bukanlah sesuatu yang mudah<br />
Kecenderungan client adalah ingin memasukkan sebanyak mungkin pesan. Pihak agency biasanya akan berdalih bahwa komunikasi yang bagus itu adalah yang single message. Tapi untuk menentukan single message itu gimana? Terutama untuk produk paritas dengan USP yang notabene sama dengan produk kompetitor.</p>
<p><strong>P E S A N U T A M A</strong><br />
Dalam Teori Ilmu Komunikasi, kepenerimaan komunikan akan pesan yang disampaikan oleh komunikator menjadi dasar penilaian akan keberhasilan suatu proses komunikasi ( Effendi, 1981 ) Jadi penetapan strategi pesan periklanan merupakan suatu keputusan strategis yang mampu menjamin sukses atau gagalnya suatu iklan.<br />
Hal pertama yang harus dilihat dalam iklan adalah keuntungan kunci konsumen atau ide inti sebagai jantung strategi pesan iklan. Kampanye iklan yang efektif sangat berperan besar dalam pencapaian pangsa pikiran (mind share) dan pangsa pasar (market share). Kampanye iklan yang efektif merupakan kampanye periklanan yang didasarkan pada satu tema besar saja. Tema besar ini dikenal sebagai what to say-nya sebuah iklan atau inti dari pesan yang ingin dikomunikasikan kepada audiens.</p>
<p>Kampanye iklan didasarkan hanya pada satu tema besar saja karena keterbatasan daya ingat manusia. Setiap hari pikiran konsumen dibombardir oleh puluhan bahkan mungkin ratusan iklan. Dengan menggunakan satu tema maka kemungkinan akan diingatnya pesan suatu iklan oleh konsumen akan jauh lebih besar daripada menggunakan beberapa tema, hal ini berlaku terutama untuk produk paritas dengan USP yang sama dengan produk kompetitor<br />
Secara empiris hampir semua kampanye periklanan yang hanya didasarkan pada satu tema selalu sukses dijalankan, semua advertising campaigns telah membuktikan keberhasilannya dengan hanya menggunakan satu tema utama saja (Durianto, dkk, 2003). Menetapkan satu tema utama dalam membuat iklan berarti mengkomunikasikan satu hal yang kita anggap penting. Untuk menentukan tema yang tepat, diperlukan suatu analisis terhadap produk secara cermat, mendalam dan konprehensif yang terkait dengan keadaan atau fitur produk, harga, sasaran pasar, tingkat persaingan, aspek demografis, dan unsur lainnya yang terkait (Wibowo, 2003).</p>
<p>Ada banyak strategi pendekatan dalam menganalisis sebuah produk untuk menemukan pesan apa (what to say) yang ingin disampaikan kepada konsumen. Pemilihan strategi yang terbaik adalah tergantung dari produk, kompetitor dan target market.<br />
Dalam prakteknya, beberapa aliran besar teori strategi kreatif yang sering digunakan untuk menentukan pesan atau tema utama yang diangkat dalam sebuah kampanye, yaitu :</p>
<p><strong>Produk benefit / feature oriented</strong><strong><br />
</strong>Kreatifitas pesan iklan berfokus pada penonjolan keistimewaan khusus produk (Widyatama, 2005) keistimewaan tersebut tidak dimiliki oleh kompetitor lain dan merupakan sesuatu yang dicari-cari, menjadi ciri khas dan dijadikan alasan bagi konsumen untuk mengguanakan produk tersebut. Aliran ini dipelopori oleh Rosser Reeves sebagai salah satu tokoh Ted Bates Ad Agency pada dekade 1950-an.<br />
Rosser Reeves menggambarkan strategi pesan yang disebutnya dengan istilah “ Unique Selling Proposition ” atau USP ini dalam tiga komponen (www.cashflowseller.com/USP.html) yaitu :<br />
- Iklan harus membuat suatu dalil kepada konsumen.<br />
Masing-Masing iklan harus berkata kepada konsumen akan manfaat spesifik yang diberikan produk<br />
- Dalil tidak dimiliki atau tidak ditawarkan kompetitor manapun.<br />
Dalil harus unik, baik suatu keunikan merek maupun suatu klaim yang tidak dibuat iklan lain. Suatu Dalil Penjualan Unik harus mampu menjawab pertanyaan “Mengapa konsumen membeli produkmu sebagai ganti produk pesaingmu ?”<br />
- Dalil harus sangat kuat sehingga mampu menggerakkan konsumen<br />
Kunci untuk memelihara fokus USP adalah pengulangan. Reeves menggabungkan USP dan pengulangan pesan untuk keberhasilan iklan yang mampu menggerakkan konsumen</p>
<p>Dasar untuk memilih strategi USP ini adalah (Durianto, dkk, 2003) :<br />
- Produk yang diiklankan adalah produk untuk kategori baru (tapi bukan merek baru).<br />
- Benefit produk yang utama belum semua terpakai atau belum dikomunikasikan oleh kompetitor.<br />
- Benefit yang ditonjolkan benar-benar unik dan substansial di mata konsumen.</p>
<p>Dalam perkembangannya strategi ini kemudian memiliki kelemahan dan mulai ditinggalkan, kemajuan teknologi membuat perusahaan dapat membuat produk yang sama yang juga memiliki keunikan dan keistimewaan yang sama dengan kualitas sama. Oleh karena itu semakin sulit bagi konsumen untuk menemukan USP (Ries &amp; Jack Trout, 2002).</p>
<p><strong>Brand image oriented</strong><strong><br />
</strong>Merek atau produk diproyeksikan atau dikaitkan pada suatu citra dan kepribadian tertentu melalui kampanye periklanan, pencitraan ini berorientasi pada simbol kehidupan (Widyatama, 2005). Gagasan utamanya adalah agar konsumen dapat menikmati keuntungan secara psikologis dan emosional dari sebuah produk yang digunakan (selain keuntungan fisik yang ada).<br />
Aliran ini dipelopori oleh David Ogilvy dari Ogilvy &amp; Mather pada dekade 1960-an. latar belakang lahirnya aliran ini karena produk yang ada hampir tidak memiliki keunggulan yang berbeda atau unik, maka diciptakanlah image, citra atau personality tertentu untuk membedakannya dengan catatan tidak mengubah image tersebut dalam kurun waktu yang lama (Durianto, dkk, 2003). Acuan penggunaan strategi brand image oriented adalah jika produk bersifat paritas atau produk sejenis yang telah memenuhi pasar dari berbagai merek, sementara merek satu dengan yang lainnya tidak memiliki perbedaan substansial dengan kompetitor.</p>
<p>Iklan-iklan pada masa sekarang umumnya hadir dengan bentuk-bentuk pencitraan dalam rangka untuk membangun sebuah citra merek yang positif dimata konsumen. Bentuk-bentuk pencitraan tersebut merupakan sebuah langkah dari strategi pesan, yang disebut dengan strategi citra merek atau brand image. Dalam strategi citra merek terdapat bentuk strategi yaitu strategi differensiasi. Maksudnya adalah sampai di mana produk atau brand tersebut mampu membangun image khusus, unik, atau berbeda pada masyarakat konsumen (http://www.tanadisantoso.com/v40/review).<br />
Differensiasi sebuah merek untuk memaksimalkan efektifitas sebuah iklan harus dibangun melalui gaya periklanan yang konsisten. Menurut David Aaker (Dalam : Sutherland &amp; Alice K, 2005), Sebuah strategi merek yang konsisten dan ditopang oleh sebuah simbol yang kuat mampu menghasilkan keuntungan besar dalam melaksanakan program komunikasi</p>
<p>Citra merek sebagai strategi differensiasi menurut David Ogilvy (Dalam : Lwin &amp; Aitchison, 2005) adalah :<br />
- Konsumen membeli manfaat fisik dan psikologis, bukan sekedar membeli sebuah produk.<br />
- Periklanan harus menjadi investasi jangka panjang dalam mengembangkan dan mempertahankan citra merek.</p>
<p>Dalam paradigma pemasaran dan periklanan kontemporer, realita merepresentasikan atribut produk atau jasa, sementara citra lebih memproyeksikan value dari brand atau merek. Iklan selalu kaya dengan pencitraan psikologis (Engel, 1994) artinya iklan bukan hanya sebagai penyampai pesan tapi sekaligus pembentuk citra. Image adalah segalanya, orang membeli produk atau jasa lebih karena citranya bukan manfaat.<br />
Produk adalah citra yang menjadi ukuran personaliti seseorang. Dan media pencitraan yang paling canggih saat ini adalah periklanan. Iklan adalah pembentuk citra maka citra adalah simplifikasi, cenderung fokus, single minded (Indrarto, Kompas, Kamis, 6 Maret 2003).</p>
<p><strong>Positioning Oriented</strong><strong><br />
</strong>Positioning adalah sesuatu yang dilakukan terhadap pikiran, yakni menempatkan produk pada tangga-tangga atau kotak pikiran calon konsumen (Al Ries &amp; Jack Trout, 2002). Konsep utama dalam strategi periklanan ini adalah berorientasi pada kompetitor, khususnya yang merupakan market leader. Selain itu orientasi positioning juga berdasarkan pada keunggulan atribut, manfaat dan product class atau posisi relatif terhadap kompetitor (Kartajaya, 2004).</p>
<p>Pelopor aliran Positioning adalah Jack trout dan Al Ries, menurut kedua tokoh periklanan ini, agar suatu merek mudah diingat oleh konsumen produk harus “dikaitkan” dengan market leader namun tanpa “head on attack” dengan market leader tersebut (Madjadikara, 2004). Selain berorientasi pada pesaing, positioning harus berorientasi pada target market yang ingin dijangkau.<br />
Karena itu positioning harus membuat produk, jasa atau perusahaan itu dipersepsikan berbeda, tak sekedar beda tapi harus bisa memisahkan diri dari yang lain. Dan yang lebih penting kalau bisa perbedaan itu disukai bahkan ditunggu-tunggu calon konsumen.</p>
<p>Positioning adalah core-nya strategi periklanan. Strategi sendiri adalah upaya untuk menghasilkan posisi yang unik dan valuable di benak konsumen, oleh karena itu strategi positioning hanya akan tepat diterapkan jika (Durianto, dkk, 2003) :<br />
- Strategi USP dan Brand Image tidak relevan dengan kondisi produknya.<br />
- Adanya alasan untuk mengkaitkan suatu produk atau jasa dengan market leader.<br />
- Tidak melakukan head on attack dengan market leader.</p>
<p>Dalam strategi positioning benak konsumenlah yang menjadi medan perang. Positioning merupakan pernyataan yang bisa menghasilkan keunggulan di benak orang yang ingin dituju. Maka dalam menciptakan positioning ada empat acuan yang harus diperhatikan (Kartajaya, 2004 : 14) yaitu :<br />
- Positioning harus dipersepsi secara positif oleh konsumen dan menjadi reason to buy.<br />
- Positioning mencerminkan kekuatan dan keunggulan kompetitif produk atau perusahaan<br />
- Positioning harus bersifat unik sehingga dapat dengan mudah mendeferensiasikan diri dengan pesaing<br />
- Berkelanjutan dan selalu relevan dengan berbagai perubahan.</p>
<p><strong>HOW TO SAY ?</strong><strong><br />
</strong>Kreatifitas iklan adalah how to say-nya sebuah pesan periklanan atau cara yang dilakukan untuk mengkomunikasikan pesan iklan ( What to say ) kepada audiens. Prinsip pertama kreatifitas dalam sebuah iklan adalah bahwa kreatifitas tidak menciptakan sesuatu dari yang tidak ada. Kreatifitas membuka, memilih, kemudian mengatur kembali, menggabungkan, menghasilkan fakta, keahlian dan ide yang sudah ada sebelumnya. Dalam arti lain bahwa kreatifitas adalah penggabungan ide-ide yang telah ada untuk menciptakan sesuatu yang baru (Roman, Maas &amp; Nisenholtz, 2005).</p>
<p>Menciptakan iklan yang kreatif tidaklah mudah, karena karya iklan merupakan hasil kolaborasi antara penulis naskah dengan pengarah seni atau antara agen dan klien. (Roman, Maas &amp; Nisenholtz, 2005). Oleh karena itu pada tahap brainstorming (pencarian ide yang bebas) dalam sebuah kelompok semua ide ditampung untuk kemudian dinilai ulang.<br />
Biasanya saat brainstorming tim kreatif menggunakan strategi tertentu dalam eksekusi kreatif. Strategi tersebut dengan cara melantur, lanturan disengaja untuk tujuan tertentu dengan tetap menjaga relevansinya, maksudnya adalah melantur sejauh-jauhnya namun merelevansikan sedekat-dekatnya (Hakim, 2005).</p>
<p>Beberapa pendekatan yang digunakan dalam membuat lanturan lanturan untuk menciptakan iklan yang menarik (Hakim, 2005) yaitu :<br />
- Plesetan<br />
Orang tertawa ketika mendengar plesetan karena relevansinya. Relevansi dalam konteks ini mengacu pada kata aslinya yang kemudian diplesetkan.<br />
- Visual produk<br />
penggantian sebuah visual dengan visual lainnya. Mengganti secara keseluruhan, ukurannya atau salah satu elemen.<br />
- Headline atau tipografi<br />
Visual berbentuk susunan kata dari headline atau tipografi yang memuat makna tertentu.<br />
- Logo<br />
menjadikan elemen logo sebagai sumber ide dalam menyampaikan pesan periklanan.<br />
- Makna ganda<br />
sebuah simbol yang dihadirkan untuk mewakili dua benda atau dua hal sekaligus.<br />
- Tokoh sebagai endoser<br />
penggunaan orang terutama yang menjadi publik figur dalam penyampaian pesan.<br />
- Sex<br />
Mengarahkan fikiran konsumen pada hal-hal yang sensual.<br />
- Fungsi produk<br />
Memindahkan fungsi dari suatu produk pada hal yang bersifat positif untuk menambah dramatisasi dari benefit produk tersebut.</p>
<p>Harus diingat sekali lagi, hal yang paling penting dalam lanturan adalah menjaga relevansi dengan pesan yang ingin disampaikan.<br />
Bentuk lain penyampaian Iklan dapat juga dilakukan, seperti:<br />
- Product Shoot<br />
Pengambilan gambar berkonsentrasi pada produk<br />
- Pendekatan Budaya<br />
Penggunaan bentuk budaya lokal untuk menyampaikan pesan penjualan<br />
- Humor<br />
Berhati-hatilah dalam menggunakan cara humor sebagai pendekatan. menurut max sutherland iklan lucu akan mengurangi unsur pesan yang penting, Fokus audience justru akan tertuju pada “lucunya” dan bukan pada inti pesannya.Kata sutherland lagi, iklan lucu hanya efektif jika persepsi orand terhadap pesan sudah dianggap positif (Marketing, 02/IV/Februari 2004)<br />
- Emotional Selling Proposition<br />
Para peneliti iklan telah mengenal secara baik bahwa iklan yang berpengaruh secara positif pada “perasaan dan emosi” target, dapat sangat sukses untuk produk dan situasi tertentu. Oleh karena itu tren ke depan iklan diarahkan pada emosi (Suyanto, 2004).<br />
John Hegarty, seorang pakar periklanan dari biro iklan BBH Amerika(dalam : www.pertamina.com/indonesia/head_office) menyebutkan bahwa globalisasi membuat produk-produk memiliki kualitas yang serupa. Sekarang industri lebih banyak bersaing dengan menyentuh emosi dan gengsi konsumen. Artinya saat ini konsumen membeli barang bukan hanya karena keunggulannya tapi lebih karena produk tersebut membuat sang konsumen percaya, merasa yakin dan kemudian jatuh cinta. Semakin besar konsumen tertarik pada emosi semakin besar iklan mengatasi perbedaan-perbedaan kecil yang terkandung dalam setiap produk (Batey, 2003)</p>
<p>Brand ataupun produk dapat dipahami lebih jauh dengan berfokus pada respons emosional yang dibangkitkan melalui pesan-pesan periklanan, respons seperti ini dapat dihubungkan secara erat dengan dorongan atau motif yang disampaikan melalui pesan dan teknik eksekusi iklan (Engel, 1994).<br />
Secara emosional, sebuah merek atau brand dapat dibuat secara berbeda melalui gaya, sikap, cara berkomunikasi, cara pemotretan atau visual dan jenis musik yang digunakan. Perbedaan-perbedaan yang bersifat emosional inilah yang sekarang menjadi strategi pesan periklanan bagi masing -masing produk ( Lwin &amp; Aitchison, 2005).</p>
<p>Emotional branding adalah hal yang utama untuk mendifferensiasi keidentikan iklan yang sekarang sudah melimpah ini (www.markplusnco.com/discussion_view). Itulah yang dimaksud atau merupakan tujuan dari strategi Emotional Selling Proposition. Yaitu Brand didefinisikan sebagai ungkapan emosi atau perasaan yang timbul terhadap sebuah produk, jasa, atau perusahaan melalui kampanye periklanan. Intinya, brand bisa dirasakan efeknya di benak masyarakat konsumen dalam bentuk persepsi.<br />
Menurut Al Ries dan Jack Trout ( dalam : Wirya, 1999) pemasaran merupakan pertarungan persepsi dalam ingatan konsumen. Siapa yang dapat menanamkan persepsi dengan baik di benak konsumen maka dialah pemenangnya.</p>
<p><strong>Perumusan Strategi</strong><strong><br />
</strong>Setelah strategi pesan ditentukan maka selanjutnya adalah menciptakan sesuatu secara kreatif, maksudnya adalah bagaimana cara menyampaikan sebuah pesan yang telah ditentukan dengan gaya yang berbeda sehingga dapat menarik perhatian sasaran. Gaya juga berfungsi sebagai pemicu ingatan, pemancing untuk membuat orang ingat kembali. Secara otomatis gaya merupakan asosiasi terhadap identitas merek (Sutherland &amp; Alice K, 2005).</p>
<p>Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat perumusan kreatifitas iklan (Durianto, dkk, 2003) :<br />
- Directed Creativity<br />
Kreatifitas yang dibuat harus sesuai dengan what to say yang telah ditentukan. what to say ini adalah inti pesan yang ingin disampaikan kepada sasaran, tertuang dalam strategi kreatif dalam bentuk Creative Brief yang dibuat oleh tim kreatif.<br />
- Brand Name Exposure<br />
Brand Name Exposure terdiri dari individual brand name dan company brand name. Brand Name Exposure dianggap penting karena bertujuan untuk mendapatkan brand awareness.<br />
- Positive Uniqueness<br />
Iklan yang efektif harus mampu menciptakan asosiasi yang positif. Pertama-tama iklan harus efektif, kemudian kreatif. Iklan akan menjadi sia-sia jika hanya sekedar kreatif tapi tidak efektif dan menimbulkan asosiasi yang salah dibenak sasaran.<br />
Pesan yang mudah diingat dengan baik adalah yang berkaitan dengan asosiasi indra (Visual), konteks emosional (Cinta, kebahagiaan dan keadilan), kualitas yang menonjol atau berbeda, asosiasi yang intens, dan hal-hal yang memiliki keutamaan pribadi (Suyanto, 2004).<br />
- Selectivity<br />
Berkaitan dengan pesan yang disampaikan kepada sasaran dan endoser sebagai pembawa pesan dari iklan tersebut.</p>
<p>Berdasarkan perumusan tersebut di atas maka sebuah pesan periklanan yang disampaikan dengan gaya yang berbeda harus memiliki nilai-nilai, yaitu (Hakim, 2005) :<br />
- Simple<br />
Sebuah iklan haruslah simple. Kata simple sering diartikan sederhana, sebagai sesuatu yang dapat dimengerti dengan sekali lihat, tidak banyak elemen tapi komunikatif.<br />
- Unexpected<br />
Iklan yang unik dan tidak terprediksi akan memiliki kemampuan untuk menempatkan diri dalam otak manusia sehingga mudah diingat.<br />
- Persuasive<br />
Iklan dengan daya bujuk yang kuat akan menggerakkan konsumen untuk dengan dengan brand dan tertarik untuk mencobanya.<br />
- Relevant<br />
Ide harus tetap relevan baik dari sisi rasionalitas maupun dari produknya dan harus ada korelasi dengan positioning dan personality brand.<br />
- Entertaining<br />
Entertaining bukan berarti lucu, dalam skala yang lebih luas berarti harus mampu mempermainkan emosi konsumen. Emosi inilah yang akan mengangkat simpati konsumen terhadap produk<br />
- Acceptable<br />
Yang menilai sebuah iklan adalah konsumen, oleh karena itu penerimaan mereka terhadap iklan harus diperhatikan.</p>
<p><strong>MENEMUKAN</strong><strong><br />
<strong>IDE KREATIF</strong><br />
</strong>1. Convention<br />
Analisislah kebiasaan ide iklan suatu produk di kategori yang sama. Ditahapan ini kita berfikir inside the box. karena sebelum kita berfikir outside the box kita harus tau dulu seperti apa inside-nya baru kemudian mencari outside-nya.<br />
2. Disturbtion<br />
Ditahapan inilah kita baru berfikir out side the box, mencari sesuatu yang di luar kebiasaan.Buat daftar ide sebanyak-banyaknya.<br />
- Inkubasi: bagian dari &#8217;stress&#8217;, hang ! Tips-nya: Harus keluar dari masalah (refreshing) asal jangan terlalu lama. Diskusikan dengan rekan kerja atau teman &#8216;Brainstorming&#8217;.<br />
- Iluminasi: Tahap “AHA!” Atau “EUREKA!” Sebuah ide Timbul dan memberikan semangat untuk melaksanakan Ide!<br />
3. Kembali ke visi iklan (Brief yang di buat)<br />
Dari daftar ide yang ditemukan, mana yang relevan dengan visi iklan dan sesuai brief ?</p>
<p><strong>AKHIRNYA&#8230;</strong><strong><br />
</strong><br />
CREATIVE WITHOUT STRATEGY IS ART,<br />
CREATIVE WITH STRATEGY IS ADVERTISING</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Ahmad Zaki_Agustus 2005<br />
Penulis menerima kritik, saran, masukan dan pintu diskusi<br />
jika ada hal-hal yang mengganjal di hati<br />
Email : <a href="mailto:gigi_diva@yahoo.com">gigi_diva@yahoo.com</a></p>
<p><strong>REFERENSI</strong><strong><br />
</strong><br />
Buku<br />
- Roman, Kenerth, Jane Maas &amp; Martin Nisenholtz (2005). How To Advertise, Membangun Merek dan Bisnis dalam Dunia Pemasaran Baru, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.<br />
- Suhandang, Kustadi (2005). Periklanan : Manajemen, Kiat dan Strategi., Nuansa, Bandung<br />
- Batey, Ian (2003). Asian Branding : A   Great Way To Fly. Alih bahasa, Wahab, Abdul. Bhuana Ilmu Populer. Jakarta<br />
- Madjadikara, Agus S (2004). Bagaimana Biro Iklan Memproduksi Iklan ? PT. Gramedia Pustaka, Jakarta<br />
- Effendi, Onong (1981). Dimensi – Dimensi Komunikasi, Alumni, Bandung<br />
- Durianto,Darmadi, Sugiarto, Anton WW, Hendrawan S (2003)<br />
Invasi Pasar dengan Iklan yang Efektif, PT Gramedia Pustaka, Jakarta<br />
- Wibowo, Wahyu (2003). SIHIR IKLAN, Format Komunikasi Mondial dalam Kehidupan Urban-Kosmopolitan, PT. Gramedia Pustaka,Jakarta<br />
- Widyatama, Rendra (2005). Pengantar Periklanan. Buana Pustaka Indonesia. Jakarta<br />
- Ries, Al &amp; Jack Trout (2002). POSITIONING : The Battle For Your Mind, PT.Salemba Empat, Jakarta<br />
- Sutherland, Max &amp; Alice K. Sylvester (2005) Advertising and The Mind of The Consumer : Bagaimana Mendapatkan Untung Berlipat Lewat Iklan yang Tepat. Penerjemah : Setia Bangun. PT. Gramedia Pustaka. Jakarta<br />
- Lwin, May and Jim Aitchison (2005). Clueless in Advertising, Bhuana Ilmu Populer, Jakarta<br />
- Engel, F. James, Roger D. Blackwell and Paul W. Miniard (1994)<br />
Prilaku Konsumen, Jilid 1, Binarupa Aksara, Jakarta.<br />
- Suyanto, M. (2004) Aplikasi Desain Grafis untuk Periklanan, ANDI OFFSET, Yogyakarta<br />
- Wirya, Iwan (1999), Kemasan Yang Menjual : Menang Bersaing Melalui Kemasan. PT. Gramedia Pustaka, Jakarta<br />
- Kartajaya, Hermawan (2004). On Positioning, Seri 9 Elemen Marketing, PT. Mizan Pustaka, Jakarta<br />
- Hakim, Budiman (2005). Lanturan Tapi Relevan, Dasar-dasar Kreatif Periklanan, Galang Press, Yogyakarta.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emjaiz.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emjaiz.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emjaiz.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emjaiz.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emjaiz.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emjaiz.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emjaiz.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emjaiz.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emjaiz.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emjaiz.wordpress.com/208/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emjaiz.wordpress.com&blog=2472621&post=208&subd=emjaiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emjaiz.wordpress.com/2009/09/04/strategi-iklan-teori-pesan-kreatifitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1890794f408bb1a2d48bf2b2f63e0cfe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emjaiz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pandangan Remaja Tentang Iklan</title>
		<link>http://emjaiz.wordpress.com/2009/09/04/pandangan-remaja-tentang-iklan/</link>
		<comments>http://emjaiz.wordpress.com/2009/09/04/pandangan-remaja-tentang-iklan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 08:58:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emjaiz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Periklanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emjaiz.wordpress.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah hasil sebuah penelitian kepada remaja tentang pandangan mereka terhadap iklan -sebagai bagian dari penulisan thesis MM di UI-. Kalau ada yang berminat utk di diskusikan mari kita ngobrol, kalaupun tidak anggap saja sebagai masukan.
Sedikit latar belakang responden: Siswa SMA/ Universitas, usia 15-19 tahun,  n: 300 orang, SES AB di Jakarta Barat. Mereka menjawab [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emjaiz.wordpress.com&blog=2472621&post=204&subd=emjaiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Berikut adalah hasil sebuah penelitian kepada remaja tentang pandangan mereka terhadap iklan -sebagai bagian dari penulisan thesis MM di UI-. Kalau ada yang berminat utk di diskusikan mari kita ngobrol, kalaupun tidak anggap saja sebagai masukan.<span id="more-204"></span></p>
<p>Sedikit latar belakang responden: Siswa SMA/ Universitas, usia 15-19 tahun,  n: 300 orang, SES AB di Jakarta Barat. Mereka menjawab satu set kuesioner yang di sain dg memperhitungkan variable laten dan variable operasional dg pertanyaan-pertanyaan tertutup dan berskala.<br />
Kesimpulan yang didapat -secara garis besar-adalah:<br />
1. Iklan, secara umum, tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada purchase intention para remaja, demikian pula halnya dengan sociocultural environment yang juga tidak memberikan pengaruh signifikan. Yang memberikan pengaruh signifikan terhadap purchase intention para remaja adalah psychological field, ad execution thought dan attitude toward the ad.<br />
2. Menurut hasil penelitian mengenai iklan yang disukai para remaja, mereka lebih menyukai iklan yang mudah diingat dan punya ciri khas, iklan yang produknya penting buat mereka, iklan yang informatif yang membuat mereka menjadi lebih tahu mengenai suatu produk serta memberikan ide baru kepada mereka, iklan yang kata-kata/gambar/ desainnya bagus serta pemilihan medianya tepat. Pada umumnya remaja lebih menyukai<br />
iklan dalam bentuk audio visual, dan saat melihat iklan biasanya mereka memperhatikan<br />
gambarnya terlebih dahulu.</p>
<p>3. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa para remaja tidak mudah percaya pada iklan dan tidak berpikir bahwa barang yang diiklankan pasti lebih baik dibandingkan yang lainnya. Mereka juga tidak merasa perlu untuk terlalu memperhatikan iklan dengan seksama saat membaca majalah ataupun menonton televisi. Dan jika membeli suatu barang, biasanya adalah karena mereka memang merasa membutuhkan barang tersebut. Dalam membeli barang pun mereka juga mencari barang yang sudah mereka ketahui dulu kualitasnya serta yang sesuai dengan jati diri mereka.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emjaiz.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emjaiz.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emjaiz.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emjaiz.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emjaiz.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emjaiz.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emjaiz.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emjaiz.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emjaiz.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emjaiz.wordpress.com/204/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emjaiz.wordpress.com&blog=2472621&post=204&subd=emjaiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emjaiz.wordpress.com/2009/09/04/pandangan-remaja-tentang-iklan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1890794f408bb1a2d48bf2b2f63e0cfe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emjaiz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>IKLAN TELEVISI</title>
		<link>http://emjaiz.wordpress.com/2009/09/04/iklan-televisi/</link>
		<comments>http://emjaiz.wordpress.com/2009/09/04/iklan-televisi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 08:52:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emjaiz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Periklanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emjaiz.wordpress.com/?p=200</guid>
		<description><![CDATA[Televisi merupakan media audiovisual yang canggih. Dengan menggunakan dua elemen kekuatan sekaligus yaitu audio dan visual menjadikan televisi sebagai media promosi yang sangat mahal. Sebuah tayangan 60 detik saja akan dapat disaksikan serentak oleh puluhan juta bahkan ratusan ribuan juta pasang mata di seluruh dunia.
Program di televisi memiliki kekhasan tertentu yang mempengaruhi pemirsanya. Dengan demikian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emjaiz.wordpress.com&blog=2472621&post=200&subd=emjaiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Televisi merupakan media audiovisual yang canggih. Dengan menggunakan dua elemen kekuatan sekaligus yaitu audio dan visual menjadikan televisi sebagai media promosi yang sangat mahal. Sebuah tayangan 60 detik saja akan dapat disaksikan serentak oleh puluhan juta bahkan ratusan ribuan juta pasang mata di seluruh dunia.<span id="more-200"></span></p>
<p>Program di televisi memiliki kekhasan tertentu yang mempengaruhi pemirsanya. Dengan demikian , pemirsa terbagi pada program televisi yang disukainya. Misalnya, acara film anak-anak pada pagi dan petang hari menjangkau khalayak anak-anak. Acara memasak, sinetron, dan kesehatan menjangkau ibu-ibu rumah tangga. Dan acara diskusi politik, berita, film-film detektif menjangkau para pria berpendidikan.</p>
<p>Yang jelas media televisi merupakan media audiovisual sehingga estetika yang dituntut menyangkut indra pendengaran dan penglihatan. Untuk itu <em>copywriting</em> untuk iklan televisi memiliki karakteristik tertentu.</p>
<h3>KARAKTERISASI IKLAN TELEVISI</h3>
<p>Televisi merupakan media audiovisual sehingga penonton dapat melihat produk yang diiklankan di  televisi secara maksimal. Dengan demikian, iklan di televisi mempunyai karakteristik sebagi berikut.</p>
<p>1.      Pesan dari produk dapat dikomunikasikan secara total, yaitu audio, visual, dan gerak. Hal ini mampu menciptakan kelenturan bagi pekerja kreatif untuk mengkombinasikan gerakan, kecantikan, suara, warna, drama, humor, dan lain-lain.</p>
<p>2.      Iklan di televisi memiliki sarana paling lengkap untuk eksekusi</p>
<p>3.      Iklan ditayangkan secara sekelebat.</p>
<p>Simaklah iklan televisi berikut ini. Unsur audio, visual, dan gerak digunakan secara maksimal dalam iklan tersebut. Selain itu, jika tidak di ulang kita mungkin tidak begitu mengerti iklan tersebut. Apalagi jika kita menontonnya sambil lalu. Itulah karakeristik iklan di televisi: hanya sekelebat ditayangkan. Untuk itu, iklan di televisi di ulang berkali-kali.</p>
<p>FORMAT IKLAN TELEVISI</p>
<p>Rancangan untuk iklan di media ini, disamping memuat pesan iklan yang verbal untuk diperdengarkan, juga memuat visual (gambar) untuk diperlihatkan kepada pemirsa. Oleh karena itu, rancangan iklan televisi, memuat:</p>
<p>1.      <em>Script</em> yang terdiri dari dua kolom.</p>
<p>a.  Satu kolom sebelah kiri dibuat untuk melukiskan rentetan adegan.</p>
<p>Kolom kiri ini disebut dengan judul visual atau video.</p>
<p>b.  Kolom sebelah kanan dibuat untuk menjelaskan suara apa saja yang</p>
<p>harus atau akan terdengar pada saat visual ditampilkan.</p>
<p><em>Script</em> ini merupakan panduan untuk membuat <em>storyboard</em>.</p>
<p>2.      Gambar</p>
<p>Gambar yang ditampilkan produk yang ditawarkan, gambar orang, kartun, maupun adegan lain sesuai dengan jalannya cerita yang tertera dalam <em>script.</em></p>
<p>Rancangan iklan televisi yang memuat <em>script</em> dan gambar inilah yang disebut dengan <em>storyboard</em>. <em>Stor board</em> ini merupakan panduan bagi <em>film director </em>atau sutradara pada saat shooting dilaksanakan. Gambar-gambar dalam <em>storyboard</em> menggambarkan lajur visual dalam <em>script</em>.  Sedangkan teks (yang dalam <em>storyboard</em> biasanya ditulis di bawah atau disamping gambar) melukiskan kolom atau  lajur audio/<em>sound</em> dalam <em>script</em>.</p>
<p>Menulis <em>script</em> sebaiknya jangan terlalu rinci dalam hal teknik pengambilan gambar, agar tidak membatasi kebebasan sutradara atau kameraman dalam melakukan pengambilan gambar. Gambar-gambar yang ada pada <em>storyboard</em> hanyalah <em>key frames</em> (gambar utama dari serangkaian adegan)</p>
<p>Dalam satu detik, film bergerak terdiri dari 24 -25 frame. Tidak mungkin <em>strory board</em> dibuat untuk memenuhi tuntutan tersebut. Jumlah 24-25 frame tersebut disebut kecepatan normal untuk mata manusia. Bila kurang dari jumlah tersebut, hasil filmnya akan menjadi film berkecepatan lamban (<em>slow motion</em>).  Jika kebetulan <em>copywriter</em> memang menguasai bidang kamera, sebaiknya dibicarakan secara lisan dengan sutradara.</p>
<p>Memang idealnya, seorang <em>copywriter</em> iklan televisi &#8212; mengenal atau mempelajari bagaimana membuat film. Dia harus tahu teknik dasar menggunakan kamera (termasuk istilah-istilahnya) agar mampu meningkatkan kreativitas dalam menciptakan film iklan. Kecuali itu, pengetahuan ini diperlukan agar nantinya ketika <em>storyboard</em> itu diproduksi, ia dapat mengerti penjelasan dari sutradara dan biasa berkomunikasi dengan kameraman di lapangan. Bahkan sampai hasil <em>shooting</em> itu diedit, ia mampu berdiskusi dengan editor film.</p>
<h3>PERALATAN YANG DIPAKAI DALAM AMUNISI  IKLAN TELEVISI</h3>
<p>Berikut ini peralatan untuk memproduksi iklan televisi</p>
<p>1.      Tokoh, dapat terdiri dari bintang film, tokoh masyarakat, anak-anak, ataupun tokoh kartun yang mampu mendukung gambaran <em>brand</em>.</p>
<p>2.      Suara manusia atau voice biasanya disingkat VO.</p>
<p>Suara manusia terdiri  dari suara perempuan  atau <em>female voice</em> yang disingkat FVO dan suara laki-laki <em>male voice</em> yang disingkat MVO</p>
<p>3.      Musik</p>
<p>4.      Lagu/jingle</p>
<p>5.      <em>Sound effect</em> (SFX)</p>
<p><em>6.</em><em> </em><em>Visual effect</em></p>
<p>7.      Super (<em>super imposed</em>), yaitu  huruf, tulisan, atau gambar grafis yang dimunculkan atau dicetak di atas gambar. Biasanya super menampilkan nama atau merk produk, nama perusahaan, slogan, dan lain-lain dengan maksud melengkapi atau memperjelas pesan.</p>
<p>8.      Warna</p>
<p>Perhatikanlah iklan berikut. Semua peralatan untuk amunisi dipakai dalam iklan ini. Tokohnya pun terdiri dari manusia dan kartun.</p>
<p>Untuk membuat iklan televisi terlebih dahulu orang-orang kreatif merancangnya dalam bentuk <em>script</em> dan <em>storyboard</em>. Setelah disetujui oleh pengiklan barulah rancangan iklan itu dibuat di <em>production house.</em></p>
<p>Berikut ini diberikan contoh <em>script</em> dan <em>story board</em> iklan televisi.</p>
<p><strong>Contoh </strong><em><strong>Script</strong></em><strong> iklan televisi</strong></p>
<p><em>Brand </em>: Planet Mint</p>
<p><em>Media</em>: TV</p>
<p><em>Waktu</em> : 30 detik</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="25" valign="top"></td>
<td width="236" valign="top">
<p align="center">VIDEO</p>
</td>
<td width="236" valign="top">
<p align="center">AUDIO</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="25" valign="top">1</td>
<td width="236" valign="top">MS Tora sedang menggosok gigi menggunakan sikap gigi   di kamar mandi</td>
<td width="236" valign="top">Musik: Jingle masuk hingga selesai iklan komersial</td>
</tr>
<tr>
<td width="25" valign="top">2</td>
<td width="236" valign="top">CUT Tora menggosok gigi dengan sikat gigi elektrik</td>
<td width="236" valign="top">FVO: Ingin tahu cara membuat mulut tetap fresh,   kesehatan gigi tetap terjaga, dan warna tetap putih?</td>
</tr>
<tr>
<td width="25" valign="top">3</td>
<td width="236" valign="top">CUT Tora menggunakan obat kumur</td>
<td width="236" valign="top">SFX: suara orang berkumur</td>
</tr>
<tr>
<td width="25" valign="top">4</td>
<td width="236" valign="top">MS Setelah mulutnya terasa nyaman, segar, ia   meninggalkan kamar mandi</td>
<td width="236" valign="top">FVO: sekarang ada yang baru lho</td>
</tr>
<tr>
<td width="25" valign="top">5</td>
<td width="236" valign="top">CUT Super: kemasan PLANET MINT. Bungkus yang   terbuka, permen karet yang berbentuk bulat keluar. Dilatarbelakangi oleh <em>visual effeck</em> gelembung-gelembung air</td>
<td width="236" valign="top">SFX: suara gelembung</td>
</tr>
<tr>
<td width="25" valign="top">6</td>
<td width="236" valign="top">MS Esok paginya, Tora berada dalam kamar mandi untuk   aktivitas biasa setiap harinya, ia memegang kemasan PLANET MINT</p>
<p>Super: ESOK HARINYA ….. (di sudut kanan atas)</td>
<td width="236" valign="top">Tora : yang baru …</td>
</tr>
<tr>
<td width="25" valign="top">7</td>
<td width="236" valign="top">Ekstrem CU: tangan Tora meletakkan bulatan permen   PLANET MINT dan meletakkannya di tangan</td>
<td width="236" valign="top">Musik</td>
</tr>
<tr>
<td width="25" valign="top">8</td>
<td width="236" valign="top">MS: Tora mengunyah, nyengir dengan ekspresi segar   dan meninggalkan kamar mandi</td>
<td width="236" valign="top">Tora: Benar-benar fresh</td>
</tr>
<tr>
<td width="25" valign="top">9</td>
<td width="236" valign="top">CUT ke produk PLANET MINT</p>
<p>Super: Sefektif menyikat gigi</td>
<td width="236" valign="top">FVO: PLANET MINT, seefektif menyikat gigi.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Contoh </strong><em><strong>storyboard</strong></em><strong> iklan televisi</strong></p>
<p><em>Brand </em>: Planet Mint</p>
<p><em>Media</em> : TV</p>
<p><em>Waktu</em> : 30 detik</p>
<p><a title="Gb1" href="http://peni-usd.vox.com/library/photo/6a00d41418aba2685e00cd971251424cd5.html"></a></p>
<p>VIDEO:<br />
MS Tora sedang menggosok gigi menggunakan sikap gigi di kamar mandi</p>
<p>AUDIO:<br />
Musik: Jingle masuk hingga selesai iklan komersial</p>
<p>VIDEO:<br />
CUT Tora menggosok gigi dengan sikat gigi elektrik</p>
<p>AUDIO:<br />
FVO: Ingin tahu cara membuat mulut tetap fresh, kesehatan gigi tetap terjaga, dan warna tetap putih?</p>
<p><a title="Gb3" href="http://peni-usd.vox.com/library/photo/6a00d41418aba2685e00d09e542e7abe2b.html"></a></p>
<p>VIDEO:<br />
CUT Tora menggunakan obat kumur</p>
<p>AUDIO:<br />
SFX: suara orang berkumur</p>
<p>VIDEO:<br />
MS Setelah mulutnya terasa nyaman, segar, ia meninggalkan kamar mandi</p>
<p>AUDIO:<br />
FVO: sekarang ada yang baru lho</p>
<p>VIDEO:<br />
CUT Super: Keamasan PLANET MINT. Bungkus yang terbuka, permen karet yang berbentuk bulat keluar. Dilatarbelakangi oleh <em>visual effeck</em> gelembung-gelembung air</p>
<p>AUDIO:<br />
SFX: suara gelembung</p>
<p>VIDEO:</p>
<p>MS Esok paginya, Tora berada dalam kamar mandi untuk aktivitas biasa setiap harinya, ia memegang kemasan PLANET MINT</p>
<p>Super: ESOK HARINYA ….. (di sudut kanan atas)</p>
<p>AUDIO:<br />
Tora : yang baru …</p>
<p><a title="Gb7" href="http://peni-usd.vox.com/library/photo/6a00d41418aba2685e00d09e542eabbe2b.html"></a></p>
<p>VIDEO:<br />
Ekstrem CU: tangan Tora meletakkan bulatan permen PLANET MINT dan meletakkannya di tangan</p>
<p>AUDIO:<br />
Musik.</p>
<p><a title="Gb8" href="http://peni-usd.vox.com/library/photo/6a00d41418aba2685e00d41419df92685e.html"></a></p>
<p>VIDEO:<br />
MS: Tora mengunyah, nyengir dengan ekspresi segar dan meninggalkan kamar mandi</p>
<p>AUDIO:<br />
Tora: Benar-benar fresh</p>
<p>VIDEO:</p>
<p>CUT ke produk PLANET MINT Super: Seefektif menyikat gigi</p>
<p>AUDIO:<br />
FVO: PLANET MINT, seefektif menyikat gigi.</p>
<h3>KEKUATAN DAN KELEMAHAN  IKLAN DI MEDIA TELEVISI</h3>
<h3>Kekuatan iklan di media televisi</h3>
<p>1.      Televisi mempunyai pengaruh dan dampak komunikasi yang kuat karena mengandalkan audio, visual, dan gerak. Bagi khalayak sasaran, iklan televisi mempunyai kemampuan yang kuat untuk mempengaruhi persepsi mereka.</p>
<p>2.      Iklan televisi mempunyai efisiensi dalam hal biaya. Hal ini didasarkan pada jutaan penonton televisi yang secara teratur menonton iklan komersial. Jangkauan massal ini menimbulkan efisiensi biaya untuk menjangkau setiap kepala.</p>
<h3>Kelemahan iklan di televisi</h3>
<p>1.      Biaya yang absolut yang besar untuk memproduksi dan menyiarkan iklan komersial. Meskipun biaya untuk menjangkau setiap kepala adalah rendah, biaya absolut dapat membatasi niat pengiklan. Besarnya biaya ini dihitung dari pembayaran artis, <em>production house</em>, dan membeli waktu media televisi yang sangat besar.</p>
<p>2.      Khalayak penonton televisi tidak selektif dibandingkan kabar dan majalah yang segmentasinya lebih tajam. Segmentasinya tidak setajam kabar dan majalah. Jadi, iklan yang ditayangkan di televisi memiliki kemungkinan mejangkau pasar yang kurang tepat.</p>
<h1><strong>Ringkasan</strong></h1>
<p>Televisi merupakan media audiovisual sehingga estetika yang dituntut dalam pembuatan iklan televisi menyangkut indra pendengaran dan penglihatan. Untuk itu <em>copywriting</em> untuk iklan televisi memiliki karakteristik tertentu yang disebut dengan <em>storyboard</em>. <em>Storyboard</em> meliputi 1) <em>script</em> yang memuat rentetan adegan (kolom sebelah kitri) dan penjelasan suara (kolom sebelah kanan), dan 2) gambar setiap adegan.</p>
<p>Peralatan yang dipakai dalam amunisi iklan televisi paling lengkap disbanding iklan pada media lainnya. Peralatan itu meliputi 1)t okoh, 2) suara manusia , 3) musik, 4) lagu/jingle, 5) s<em>ound effect</em> , 6)<em>visual effect, 7)</em>Super (<em>super imposed</em>),8) Warna.</p>
<p>Iklan televisi banyak dipilih oleh pengiklan dan biro iklan karena kekuatannya yang mampu memberikan  mempunyai pengaruh dan dampak komunikasi yang kuat karena mengandalkan audio, visual, dan gerak. Bagi khalayak sasaran, iklan televisi mempunyai kemampuan yang kuat untuk mempengaruhi persepsi mereka.</p>
<p style="text-align:left;"><strong><em>A television advertisement is a span of television programming produced and paid for by an organisation that conveys a message.</em></strong></p>
<p>Iklan televisi, seperti yang dijelaskan sebelumnya memiliki kelebihan lewat efek sudio visualnya. Dan ini berdampak pula pada proses penangkapan pesan dan pengambilan keputusan konsumen ( penonton televise ). Iklan melalui televisi bisa benar-benar komersil, sekadar informasi atau bahkan digunakan untuk kepentingan politik.</p>
<p>Iklan televisi, pertama kali ada <strong>1 Juli 1941 </strong>di<strong> Amerika Serikat</strong> saat <strong>Bulova Watch Company</strong> membayar <strong>9$</strong> kepada New York City NBC, untuk memutarkan spot produk mereka selama 20 detik, sebelum penayangan pertandingan baseball antara <strong>Brooklyn Dodgers</strong> dan <strong>Philadelphia Phillies</strong>.</p>
<p>Kemunculan iklan pertama tersebut terus disusul iklan-iklan lainnya, dan akhirnya melebar ke semua belahan penjuru dunia. Iklan televise juga lebih variatif. Saat ini, iklan televisi bisa murni iklan comercial, politik, sponsorsip, atau bahlan promo acara/program televisi. Baik dari tujuan, jenis maupun penampilannya sesuai dengan kemajuan teknologi animasi, grafis dan sound effect. Tarifnya pun terus melejit. Jika tahun 1941 untuk 20 detik hanya 9$, saat ini untuk durasi yang sama bisa mencapai pululan juta rupiah.</p>
<h4><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></h4>
<p>Agustrijanto, 2002. <em>Copywriting</em>. Bandung Rosda</p>
<p>Hakim, Budiman, 2006<em>. Lanturan tapi Relevan</em>. Yogyakarta: Galang.</p>
<p>Kasali, Renald. 1995. <em>Manajemen Periklanan: Konsep dan Aplikasinya di </em></p>
<p><em>Indonesia</em>. Jakarta: Grafiti</p>
<p>Madjadikara, Agus S. 2004. <em>Bagaimana Biro Iklan Memproduksi Iklan</em>. Jakarta:</p>
<p>Gramedia.</p>
<p>Sutherland, Max dan Alice K. Sylvester. <em>Advertising and the Mind of the </em></p>
<p><em>Consumer.</em> Jakarta: PPM</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emjaiz.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emjaiz.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emjaiz.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emjaiz.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emjaiz.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emjaiz.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emjaiz.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emjaiz.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emjaiz.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emjaiz.wordpress.com/200/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emjaiz.wordpress.com&blog=2472621&post=200&subd=emjaiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emjaiz.wordpress.com/2009/09/04/iklan-televisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1890794f408bb1a2d48bf2b2f63e0cfe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emjaiz</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>