Media Baru

PERKEMBANGAN teknologi komunikasi informasi harus diakui memberikan paradigma baru yang mengubah keseluruhan cara pandang kita tentang berbagai masalah dan persoalan yang ada di muka bumi ini. Perubahan paradigma ini juga memengaruhi media massa, termasuk harian ini.

Turunan teknologi internet seperti mailing list, e-mail, maupun blog yang di berbagai negara digunakan sebagai sarana efektif untuk berkomunikasi dan tukar-menukar pendapat, di Indonesia menjadi ajang yang sering tidak jelas tujuan dan manfaatnya.

Harus diakui kalau media baru dalam bentuk elektronik yang lalu lalang di jaringan internet adalah sebuah media informasi masa depan. Harus diakui juga kalau media baru ini memiliki footprint yang luar biasa menjangkau berbagai lapisan pembaca dari berbagai kelas, dan akan melampaui jumlah pembaca media tradisional.

Media baru ini adalah fenomena masa depan. Akan tetapi, sering kali kita tidak pernah bisa mengerti esensi media baru ini bagi kehidupan kita sehari-hari dan menjadikannya sebagai ajang “debat kusir” yang berkepanjangan.

Ironisnya, debat ini sering kali bersembunyi atas hak anonimitas. Ini yang sekarang terjadi ketika harian ini menuntut Basuki Suhardiman, tim ahli sistem teknologi informasi Komisi Pemilihan Umum, karena dianggap telah menyebarkan e-mail berisi fitnah (Kompas, 3/5) yang dilakukan melalui mailing list ITB dan ITB75.

SERING kali orang menganggap kalau Ctrl+F $ (perintah forward melalui aplikasi Outlook) adalah sebuah pekerjaan rutin sehingga tidak lagi terpikir dampak yang bisa ditimbulkan. Apalagi, e-mail yang diteruskan tersebut menuduh individu yang bekerja pada harian ini.

Tanggapan atas kasus milis ITB dan ITB75 ini pun menjadi debat kusir. Ada yang menyamakan kalau Satria Kepencet, nama samaran dalam e-mail yang tersebar di milis tersebut, setara dengan Deep Throat dalam kasus Watergate. Konyol!

Deep Throat dalam Watergate identitasnya jelas dan diketahui oleh wartawan Washington Post Bob Woodward dan Carl Bernstein. Satria Kepencet jelas bukan whistleblower, tapi menebar fitnah menuai opini di tengah maraknya penyidikan kasus korupsi di lingkungan KPU.

Namun, sekali lagi perlu ditegaskan di sini siapa saja boleh mengemukakan pendapatnya. Akan tetapi, fitnah di era digitalisasi memang menjadi sesuatu yang murah dan diumbar oleh siapa saja tanpa pembuktian yang jelas.

Contohnya adalah sebuah web-blog lain yang mengulas sebuah fitur yang dimuat harian ini, para pesertanya pun memberikan tanggapan seenaknya dengan menyebutkan, “… atau entah lah, mungkin memang sudah disangu-in untuk menulis seperti itu”.

Dari kasus ini membuktikan, kemajuan teknologi mengisyaratkan perlunya peraturan dan perundang-undangan, agar siapa pun tidak seenaknya menuduh, memfitnah, dan sebagainya. Selain itu, kita pun menyadari sepenuhnya kemunculan media baru dalam format elektronik tidak bisa dibendung. Persoalannya apakah terus bisa seenaknya? ****

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: