Saat Generasi MTV Meliput Pak Harto

Mereka datang laksana air bah ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), begitu mengetahui Soeharto terbaring di sana sejak Jumat (4/1) pukul 14.15 WIB. Ada tokoh pemerintah, tokoh politik, artis, mantan pejabat, hingga wartawan. Hari pertama Pak Harto menempati Presidential Suite, lantai 5, kamar 536, pengunjung belum banyak.

Yang terlihat hanya orang dekat seperti Wismoyo Arismunandar, Prabowo Subianto, dan Moerdiono. Tapi, Sabtu (5/1) siang hingga malam, lobi Gedung A RSPP tak henti-hentinya kedatangan mobil mewah. Hari itu, memang terbetik kabar bahwa kondisi kesehatan Pak Harto menurun, bahkan sempat kritis. Karangan bunga juga terus berdatangan. Jumat, karangan bunga langsung diantar ke lantai lima . Sabtu, sudah memenuhi lobi seluas dua kali lapangan bulu tangkis. Selasa (8/1) siang, karangan bunga itu dilokalisasi di lorong menuju lift Gedung A. Sebagian besar terlihat sudah layu. Sejak Jumat malam, wartawan media cetak dan elektronik tumplek blek di RSPP.

Pada Jumat, Sabtu, dan Ahad, jumlahnya 70-an orang. Kemarin, saat kondisi Pak Harto dikabarkan drop kembali, jumlahnya mencapai di atas 100. Mereka bukan cuma menunggu di lobi Gedung A. Mereka juga nongkrong dekat kamar jenazah, kantin samping Gedung A, hingga ruang UGD. Berharap ada tokoh atau dokter yang datang atau pulang lewat jalan belakang. Mencegatnya, untuk mendapatkan informasi eksklusif. Camelia Malik, Bustanul Arifin, Moerdiono, dan Hayono Isman, yang saban hari datang, punya pola berbeda. Camelia Malik selalu datang lewat pintu depan, pulang lewat pintu belakang. Moerdiono dan anak-anak Soeharto, datang dan pulang lewat belakang, dekat kamar jenazah. Hayono Isman dan Bustanul Arifin yang selalu lewat depan. Kemarin, Halimah juga lewat belakang, dekat kantin. Sejak Jumat, tunggu-menunggu di Lobi Gedung A RSPP tak kunjung surut. Maklum, jumpa pers kondisi kesehatan Pak Harto, hanya dilakukan pagi. Tak ada penjelasan pada siang, sore, dan malam hari. Padahal, laporan harus selalu disetor. Alhasil, setiap tokoh yang ingin atau sudah menjenguk Pak Harto, setiap mobil yang berhenti di depan lobi, langsung diserbu. Bagi yang wajahnya sudah familiar, tentu mudah dimintai keterangan. Lain soal kalau tak dikenal.

Masalah kenal-mengenal ini ada cerita tersendiri. Peliput kebanyakan wartawan muda, generasi MTV yang lahir akhir 1970-an atau awal 1980-an. Sementara pengunjung rata-rata menjadi pejabat saat para wartawan masih berseragam merah putih atau putih biru. Di situlah serunya. Sabtu sore, dari mobil mewah berwarna gelap, seseorang bertampang pejabat berhenti di depan lobi Gedung A. Sontak, wartawan bergerak merubungnya. Kamera siap merekam dan menjepret, reporter sudah menyorongkan mic dan alat perekam lain, rentetan pertanyaan sudah disiapkan. Tapi, begitu sang pejabat keluar dari mobil, jreeengggg, tak seorang pun mengenalinya. Sunyi sejenak. Para wartawan melongo, menoleh ke kiri dan kanan.
”Sapa tuh?”
”Siapa ya?” Celetukan itu bertaburan.
”Kenal gak?”
”Nggak tuh. Menteri kali?”
Tapi, dengan kadar kecuekan tingkat tinggi, para reporter langsung memberondongnya, ”Pak, namanya siapa?”
”Mau jenguk Pak Harto, ya?”
”Pak, dulu jabatannya apa?”
Mulanya, dia kaget. Tapi kemudian senyam-senyum. Begitu pula wartawan yang sampai akhir tak berhasil mengorek identitasnya.

Tebak-tebakan pun muncul. ”Kayaknya mantan menteri pertambangan dulu deh.Wajahnya sih mirip Pak Sadli.”
”Heh, menteri tahun berapa tuh?” tanya wartawan lain.
”Ah, bukan tuh. Wajahnya mirip Bustanul Arifin, mantan menteri koperasi.”
Wartawan lain, dengan wajah bingung, bertanya, ”’Hah? Bustanul siapa?”
Sampai Senin (7/1), peristiwa serupa masih terulang, saat seseorang turun dari Volvo di depan lobi Gedung A. ”Mau jenguk Pak Harto, Pak?” Dia menjawab, ”Iya.” Tapi, usai wawancara, para wartawan kembali saling pandang, ”Siapa tadi ya?”
Mengorek informasi dari karangan bunga, juga punya kisah unik. Biasanya, begitu karangan bunga masuk lobi, para wartawan langsung merubung kurir. Suatu ketika, melihat kartu nama bertulis Anthony terselip di karangan bunga lili, seorang wartawan bergumam, ”Wah, jangan-jangan dari Anthony Salim.” Kendati belum pasti, seorang wartawan yang mendengarnya langsung membuat pengumuman: ”Eh, ada karangan bunga dari Anthony Salim.” Tapi, sambil melongo, sebagian wartawan malah bertanya, ”Siapa tuh Anthony Salim?”

Ada lagi yang aneh bin ajaib. Jumat lalu, melihat kurir susah payah mengangkat pot besar, seorang wartawan televisi bertanya, ”Karangan bunga dari siapa, Pak?”Sang kurir menjawab sekenanya, ”Tidak tahu, Mas. Katanya sih dari Fuad Hassan.”
Dan, si wartawan langsung menyebarkannya. ”Fuad Hassan ngirim karangan bunga, tuh.”
Terang saja protes muncul. ”Mana mungkin?! Salah kali lu.”
Tapi dia ngotot. ”Gimana salah? Kurirnya yang bilang sendiri.” Dengan kesal, wartawan lain meledek. ”Woi! Fuad Hassan udah meninggal. Gimana bisa ngirim karangan bunga?”
Masih ada lagi. Melihat Sudwikatmono yang punya ikatan darah dengan Pak Harto tiba di lobi, dia langsung diserbu dan diberondong pertanyaan. ”Bagaimana kondisi Pak Harto, Pak?” ”Sudah bisa berkomunikasi? ”
”Selang di tubuhnya ada berapa, Pak?”
”Anak-anaknya lengkap Pak?”
” Ada Tommy, Pak?”
Mulut pengusaha yang berjalan tertatih dipapah ajudannya itu sempat bergumam, tapi tak sepatah kata pun keluar. Tapi, berondongan pertanyaan tak berhenti, sampai dia naik mobil. Seorang polisi geleng-geleng kepala melihat kejadian itu. ”Busyet dah, wartawan. Tega bener. Udah liat jalan gitu masih aja ditanya. Untung gak pingsan,” katanya, sambil tersenyum.

ach, namanya juga wartawan. (Sumber : Republika)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: