Valentine

JIWA kepahlawanan adalah kualitas yang ingin dimiliki banyak orang. Dalam semangat kepahlawanan ini terdapat figur pembela pihak yang lemah. Karena itulah terdapat banyak peringatan yang diilhami sekaligus mengagungkan jiwa terpuji ini.

Di Indonesia, semangat kepahlawanan juga diagungkan dalam beberapa hari besar kita, misalnya Hari Pahlawan, Hari Kebangkitan Nasional, atau Hari Sumpah Pemuda. Walau rasa kepahlawanan hari Valentine tidak segamblang hari-hari yang sudah disebut di atas, harapan akan adanya jiwa heroik ini masih tersirat.

Valentine berasal dari peringatan hari St Valentine, seorang imam Katolik dari Roma yang hidup pada abad ketiga. Pada masa itu, Kaisar Romawi (Claudius II) yang ingin mengembangkan sayapnya mengharuskan para pria lajang bergabung dalam bala tentara Roma. Karena ambisi Claudius, akhirnya pernikahan pun tidak diizinkan sehingga lebih banyak lelaki pergi berperang.

Valentine diam-diam memberkati beberapa pasangan yang ingin menikah, tanpa mengindahkan ancaman pemerintah. Kaisar Claudius akhirnya menjatuhkan hukuman mati kepada Valentine. Saat menanti vonis ini Valentine jatuh cinta kepada anak penjaga penjara yang buta (saat itu, belum ada peraturan bagi imam Katolik untuk selibat). Sebelum hukuman mati dijatuhkan pada bulan Februari tahun 270, Valentine menulis surat kepada gadis tersebut, yang diakhiri dengan “From your Valentine” (Dari Valentine-mu).

Hari Valentine diilhami kepahlawanan rasa cinta. Walaupun mungkin para remaja yang merayakan hari Valentine tidak mengetahui riwayat St Valentine ini, kepahlawanan rasa cinta masih berlanjut. Ambisi membela pihak yang lemah masih
membayangi perayaan ini. Namun, inilah bahayanya.

DALAM masyarakat kita, pihak yang dianggap kuat adalah kaum lelaki. Jiwa kepahlawanan sering dikaitkan pada kaum lelaki. Dongeng anak-anak penuh cerita pangeran menyelamatkan putri jelita. Pola yang diulang-ulang dan dapat dijumpai pada kisah populer remaja yang hampir tidak lepas dari gambaran pria yang melindungi. Perempuanlah yang butuh dilindungi, perempuanlah yang butuh disedekahi.

Kerapuhan dan ketakutan perempuan terkadang amat dinikmati lelaki. Berapa banyak lelaki yang dibuat bahagia jika kekasih mereka menjerit ketakutan saat menonton film horor atau saat naik piring terbang di Dufan, Ancol, atau di Taman Remaja Surabaya?

Gambaran ini tak jauh dari perayaan hari Valentine saat ini. Pemberian hadiah khusus mengingatkan kita pada kemurahan hati para pria, sedangkan perempuan adalah pihak yang menerima. Dalam beberapa artikel dan iklan kado Valentine sering disebut bagaimana membuat wanita tersanjung, yaitu dengan coklat, boneka, atau bunga. Tidak jauh dari gambaran bahwa perempuan dapat tersanjung dengan materi dan diberi, sedangkan pria hanya dapat tersanjung oleh hal-hal yang lebih bermanfaat, berguna bagi masyarakat. Tidak jauh dari persepsi bahwa tanggung jawab perempuan adalah keluarga dan rumah tangganya, sedangkan tanggung jawab lelaki adalah pada masyarakat dan dunia. Boneka Pluto atau coklat bentuk bunga akan menjadi bahan tertawaan para pria jika kita mencoba menyanjung mereka dengan cara demikian.

Hadiah Valentine menguatkan kepercayaan bahwa perempuan adalah makhluk sederhana yang dapat dibahagiakan dengan barang sepele dan imut-imut. Pada iklan yang terpampang pada surat elektronik perempuan@yahoogroups.com, hal ini juga dapat dijumpai. Beginilah iklan tersebut:

Sebentar lagi valentine tiba.

Buat Pria: “Siapkan kado khusus buat pasangan Wanita Anda”.

Buat Wanita: “Jika berkenan bisa minta hadiah yang seperti ini dari pasangan Pria Anda”.

Tidak ada salahnya memberi/mendapatkan hadiah alternatif yang sangat spesial, yaitu UNDERWEAR.

Iklan ini sempat membuat moderator grup surat elektronik ini sedikit gusar. Dan saya sama sekali tidak menyalahkan, karena tidak saja surat elektronik komersial dilarang pada grup ini, tetapi isinya pun amat mendukung tradisi perempuan
sebagai makhluk yang dapat dibeli secara materi. Seakan-akan perempuan tidak mempunyai kekuatan dan inisiatif sendiri untuk menentukan apa yang terbaik buat dirinya sendiri. Seakan-akan perempuan adalah makhluk yang menerima dan kalau perlu merengek seperti anak kecil untuk diberi kado. Karena itulah, perempuan membutuhkan pengakuan dari lelaki. Sedangkan lelaki biasanya menghendaki pengakuan dari lelaki lainnya karena perempuan dianggap makhluk yang kekanakannya dapat menyenangkan hati lelaki. Perempuanlah yang menunggu “sedekah” dan dikasihani, sedangkan lelakilah yang menilai. Pemilihan hadiah pun bukannya untuk perempuan semata-mata, tetapi juga sebagai pemuas sang pria (underwear seksi). Seakan, kebahagiaan perempuan adalah saat mereka memuaskan mata lelaki.

Berapa banyaknya voting yang ditujukan pada lelaki dengan obyek tubuh dan wajah perempuan? Misalnya: siapakah yang lebih seksi, Yuni Shara atau Krisdayanti? Atau siapakah yang Anda pilih sebagai pacar Anda: Sophia Latjuba atau Tracy
Trinita? TRADISI kepahlawanan para pria begitu kuatnya sehingga terdapat begitu banyak ganjalan ketika beberapa perempuan mencoba berjuang mempunyai pengakuan sendiri, keyakinan sendiri, suara sendiri akan tubuh dan seksualitas mereka.

Saat para feminis mencoba mengubah peringatan Valentine ini, perjuangan mereka pun mendapat kecaman. Valentine?s Day disebut sebagai V-Day atau Vagina Day atau Victory Day oleh beberapa feminis yang diilhami teater Eve Ensler, Vagina Monologue, yang sudah dipentaskan di Indonesia. Dalam arti, Valentine’s Day adalah hari kemenangan vagina.

Valentine?s Day bagi beberapa perempuan ini tidak lagi dipenuhi wajah perempuan yang harus tersipu malu ketika diberi bunga atau boneka. Ketika para perempuan tidak saja bertahan, namun bertindak dan berjuang.

Tiba-tiba saja hal ini begitu menakutkan. Beberapa kelompok pun mengajukan protes untuk mengembalikan hari Valentine tradisional mereka: “kembalikan hari Valentine kami”.

Namun, bukankah jiwa kepahlawanan yang sesungguhnya adalah saat pihak yang dianggap lemah telah dapat mandiri? Bukankah pahlawan yang sejati adalah figur yang rela berkorban dan bukannya menertawakan saat pihak yang dianggap lemah menjadi ketakutan?

Jika tiba-tiba saja beberapa lelaki merasa terancam ketika para perempuan menuntut hak dan kontrol akan tubuh dan seksualitas mereka sendiri, bukankah gembar-gembor kepahlawanan beberapa lelakikah yang sepatutnya dipertanyakan?
Karena, terkadang jiwa kepahlawanan hanyalah ambisi.

Dan dalam ambisi demikian, apabila pihak yang dianggap lemah ternyata tidak lagi menjadi lemah, bagaimana para pahlawan ini dapat menjadi pahlawan lagi? (Sumber : Kompas)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: