23 Juli: Hari Tanpa Televisi

 

Di negeri ini televisi telah menjadi tuhan, masyarakat tanpa sadar telah menuhankan TV. Ia harus ada, harus ditonton. Ketidaktahuan tentang gosip tokoh dan selebriti menjadi kekhawatiran disebut tidak gaul. Bagi stasiun televisi rating telah menjadi tuhan mereka.

Bisa dikatakan hanya sedikit masyarakat yang bisa menilai dan mengambil aksi untuk memilah acara yang layak ditonton dan pendampingan saat anak-anak mereka menonton bersama. Sisanya –yang porsinya lebih besar– hanya menerima, tonton saja, tak peduli akibatnya yang menginfeksi otak secara perlahan-lahan.

Sebagai media informasi TV –selain radio AM/FM– merupakan media yang memiliki cakupan terluas. Sebuah sumber daya yang mudah untuk dipakai, baik oleh kepentingan pemerintahan maupun swasta atau bisnis. Kala stasiun TV hanya TVRI kita sebal dengan terselipnya propaganda Orde Baru saat itu. Saya pikir itu tak terlalu merusak kualitas sensor kesenangan dan kegembiraan pemirsa, masyarakat menerima siaran yang telah difilter untuk acara-acara tertentu, toh tetap menyenangkan menikmati acara tanpa unsur politik praktis. Walaupun memang absurd dunia militer menyuguhkan acara tarian dan nyanyian. Eh, apa ya nama acaranya dulu?

Reformasi terhadap Orde Baru telah berakibat ke mana-mana, termasuk ke dalam dunia siaran pers dan televisi. Televisi mendapatkan kebebasannya, lupa akan batasannya. Sinema elektronik menjanjikan bisnis yang menguntungkan dengan tumbuhnya berbagai stasiun TV swasta. Saya ingat dulu bersama teman-teman satu studio di kampus selalu menonton bersama-sama acara sinetron Pondok Indah, menonton untuk menertawakan kualitas seni peran mereka yang pas-pasan, sambil berpikir membandingkannya dengan kualitas klip video musik yang semakin baik dan bagus.

Kini televisi saling mengekor, bukan mengekor kualitas acaranya atau produksinya, tapi mengekor rating. Rating yang tinggi harus diikuti dan dibuat tandingannya. Saya muak melihat sinetron yang bertema klenik dan hantu. Sejak kecil saya tak mengenal konsep hantu, setiap hari pun di SD saya bermain di sebelah kuburan, pulang pun melewati kebun bambu dan kuburan. Kini televisi banyak menyuguhkan acara seperti itu, entah untuk mendidik otak pemirsa bagian mana. Yang jelas saya cukup kaget melihat anak kecil takut akan hantu, ketika ditanya hantu itu seperti apa ia hanya berseru satu kata, pocong. Dari mana anak kecil berumur tiga tahun tahu tentang pocong? Sudah tentu dari televisi. Lagipula pocong itu bukanlah hantu. Hantu hanya ada di pikiran, kita sendiri yang menciptakan sebuah ketakutan bernama hantu.

Berdalih menyebarkan informasi kini acara-acara liputan kriminal semakin banyak, muak semuak melihat koran merah Pos Kota jaman dulu yang selalu diberi judul-judul kriminal bombastis. Bahkan kejadian kriminal skala kecil pun diekspos besar-besaran, seperti maling ayam yang babak belum dihajar massa, seolah memberi contoh kepada masyarakat lain untuk berbuat sama, bermain hakim rame-rame. Mungkin kita hanya bisa sedikit tersenyum melihat acara Tangkap.

Negeri ini sebagian besar penduduknya muslim. Dengan dalih nafas Islam disuguhkan pula kini acara-acara klenik dan mistik berwujud syiar Islam. Seni peran dikacaubalaukan untuk kepentingan suguhan cerita-cerita superstisius. Konsep ghaib dalam Islam dirusak dan disamakan dengan ilmu syirik, membuat masyarakat malah lebih percaya kepada syirik dan bahkan menuhankan ilmu syirik.

Kecerdasan juga tidak menjadi konteks bagi rumah produksi dalam memproduksi acara-acara sinetron. Selain kualitas seni peran asal jadi dalam bentuk aktor dan aktris mampu berteriak, melotot, menangis dan selalu tampil cantik penuh kosmetik meskipun tidak sesuai dengan adegannya juga kecerdasan sebuah dialog cukup dibuat apa adanya. Bahkan dialog sinetron dibuat dalam konsep: jangan sampai penonton lebih bodoh dari sang tokoh atau jalan cerita, penonton harus lebih pintar, bahkan adegan lucu pun harus dibuat penjelasannya supaya penonton tidak salah mengerti. Sungguh ironis ketika kini semakin banyak penulis buku yang penuh dengan cerita dan dialog yang semakin cerdas.

Hari Tanpa TV yang dicanangkan Kidia mungkin tak ada artinya jika sama sekali tidak ada upaya dari stasiun televisi membereskan acara-acaranya yang lebih banyak merusak budaya dan paradigma masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: