Cinta

APA yang sama antara cinta dan mi instan atau sampo?

Jawabnya: kini semuanya tersedia dalam aneka paket, kemasan, merek dan imitasi. Di zaman ini makin langka barang yang asli, tunggal, unik atau seragam. Ini bukan hanya dialami PDI, NU, HKBP, dan UKSW. Ada PNI Lama/Baru. Juga Masyumi. Konon ada komunis gaya lama/baru. Hari Valentine (14 Februari) menyajikan versi baru untuk apa yang lama
bernama cinta.

Melebihi dari yang lain, cinta punya riwayat dan versi sangat beraneka. Tak banyak yang menyaingi popularitas cinta sebagai tema dalam produksi puisi, novel, film, sinetron, lagu, tari, surat, grafiti, catatan harian, dan desas-desus. Dipuja sebagian orang. Dilecehkan, disensor, atau ditakuti yang lain.

Lain dari sampo, cinta itu abstrak seperti nasionalisme. Bukan cuma nasionalisme yang punya perang dan pahlawan. Cinta punya Romeo/Juliet, Sam Pek/Eng Tay, Cinderella, Pocahontas, Arjuna dan Lady Diana. Tak sedikit darah dan air mata tercurah gara-gara cinta. Tapi masih lebih banyak yang ikhlas memilih berkorban demi cinta.

*****
CINTA penuh paradoks. Di satu pihak ia seakan-akan teramat pribadi/personal. Di pihak lain berlagak universal. Sebagai benda
pribadi, cinta telanjur diyakini bertumbuh di bagian terdalam batin individu. Seolah-olah alamiah! Tak usah dipelajari, tak perlu guru dan kursus.

Kalaupun cinta dikeluarkan dengan seribu kata, masih lebih banyak yang terasa tak terungkap. Tak seperti sampo keluar dari botolnya. Kecuali yang imitasi, cinta tak dijual-belikan seperti mi instan. Ia tak punya alamat tetap seperti bangsa. Tak punya nabi atau kitab suci seperti beberapa agama. Tidak tunduk hukum atau berasas tunggal seperti NU atau PDI.

Sebagai yang universal, cinta bukan monopoli orang pintar, kaya, sehat, atau hebat. Ia menerjang pembedaan usia, warna kulit, agama, kebangsaan, atau profesi orang. Algojo paling kejam, kere paling miskin, konglomerat paling kaya punya hak tak kurang dan tak lebih dari orang biasa untuk mencintai dan dicintai. Untuk itu tak perlu izin polisi.

Karena istimewa, cinta diserbu berbagai pihak dengan aneka niat. Peringatan Hari Valentine adalah salah satu bentuknya. Kita tahu Hari Valentine telah dikuasai para pedagang. Kartu ucapan kasih sayang dijual bersama kado dan karangan bunga. Pusat hiburan panen. Bersama biro iklan, para profesional bikin aneka festival atau seminar untuk mengejar omset perusahaan.

Kartu Valentine berlagak menyatakan cinta murni langsung dari bagian terdalam sanubari yang pribadi. Padahal kartu itu diproduksi pabrik, dijual musiman. Tak kebetulan tradisi dari Eropa ini masuk Indonesia lewat Amerika. Tak kebetulan masuknya sesudah Amerika menaklukkan budaya dunia. Berbareng masuknya film Hollywood, Coca Cola, American Top Forty, celana Levi’s, baju/kosmetik Guess?, warung Kentucky Fried Chicken, McDonald, dan Hard Rock Cafe. Semua menyusul modal raksasa Freeport
yang sudah lebih lama kerasan mengaduk-aduk isi perut bumi Timika.

*****
PEDAGANG Valentine tak harus dimusuhi. Remaja tak usah dilarang merayakannya. Bukankah kita cukup berpengalaman menghadapi komersialisasi serupa? Misalnya Hari Natal, Tahun Baru, Idul Fitri, Hari Kartini, dan Proklamasi Kemerdekaan.

Komersialisasi Hari Valentine tak usah membuat kita alergi pada segala yang berlabel cinta. Kita tak buru-buru melepas agama hanya karena ada yang memperdagangkan aksesori keagamaan. Kita tak usah sinis pada organisasi massa, partai politik, atau pemilu hanya gara-gara ada yang meruwetkan semua itu.

Masyarakat kita makin rumit karena makin majemuk. Untuk mencintai seseorang kita tak perlu paham kerumitan dunia. Apalagi memecahkannya. Konon cinta justru memuncak di saat beban ingatan direbahkan dan mata terkatup! Bukan cuma lupa daratan. Tapi juga lupa lautan, udara dan kepolisian! Buta asal-usul.

Lagu pop Indonesia penuh ratapan “mengapa, oh, mengapa?” Pertanyaan “mengapa?” bukan untuk mereka yang bercinta. Kalaupun ditanyakan, tidak untuk dijawab. Itu pertanyaan orang pandai di ruang diskusi atau ujian. Bercinta tak perlu paham riwayat seorang kekasih Eropa bernama Valentine. Tak perlu ikut-ikutan upacara tahunan Hari Valentine dengan inspektur upacara kaum pedagang. Tapi juga tak usah ramai-ramai memusuhinya.

Hari Valentine bukan ciptaan pedagang berniat jahat. Mereka hanya memanfaatkan keadaan. Usaha mereka tidak akan berhasil jika masyarakat sendiri cukup kreatif untuk bercinta tanpa jasa industri kartu dan kado. Usaha itu macet seandainya semua orang menganggap cinta tak lebih dari kecengengan orang kurang dewasa, kurang waras, atau kurang kerjaan. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: