Fenomena Cinta Laura

Kasihan juga nih si Cinta Laura jadi ‘bulan-bulanan’ di internet gara-gara sok berbahasa Inggris, tapi amburadul Inggrisnya.

Gue bukan pembela si Cinta Laura, tapi gue tahu sedikit tentang latar belakang ini anak. Dia ini anaknya GM Grand Hyatt Jakarta, orang Jerman yang sempat bikin heboh karena mengusir semua tamu yang masuk hotel itu pakai sandal, termasuk salah satunya yang diusir adalah seniman terkenal Sardono W. Kusumo. Masih ingat? Sampai masuk Surat Pembaca Kompas segala waktu itu gara-gara urusan sandal-menyandal itu.

Nah ini anak kan blasteran. Kalo tidak salah baru dibawa balik ke sini lagi sama orang tuanya. Jadi mirip Ida Iasha (waduh, tua banget ya referensi gue, hahaha) dan Sophia Latjuba waktu pertama-tama jadi selebritis di negeri ini. Tapi kelihatannya ini anak memang mengalami masalah adaptasi dengan bahasa Indonesia dan menyadari ketidaknyamanan orang-orang (begitu katanya), sayang sudah kadung kondang jadi terpampang jelas di masyarakat kekacauan berbahasanya.

Jadi gue sih bisa ‘agak’ memaklumi. Seperti dulu memaklumi Ida Iasha dan Sophia Latjuba. Habis, enak dilihat juga sih, hahahaha.

Tapi, yang bikin gue sering mau muntah itu justru perilaku berbahasa para ‘Melayu tulen’ di sini. Menjadi kebarat-baratan cuma apa yang keluar dari mulut doang, tapi kelakuan tidak lebih, sesungguhnya, tetap feodal.

Mau contoh? Banyak! Coba akhir pekan lihat-lihat di mall. Lihat anak-anak kecil yang membuat susternya (bukan baby sitter karena si anak sendiri tidak bayi lagi) harus terbirit-birit menyuapi makanan sambil mengejar, setengah mati menggendong anak yang tidak berat lagi, si ibu selalu berbicara bahasa Inggris dengan anaknya sambil menenteng tas-tas bermerek, tapi sambil tidak menegur anaknya menyerobot orang sembarangan.

Kalau mau menjadi Barat betulan, kenapa si anak tidak sekalian diajarkan makan sendiri sejak umur 1 tahun, diajarkan berjalan sendiri, dibiarkan saja jatuh kalau berlari-lari tidak perlu si suster sampai harus melakukan man-to-man marking gaya pemain bertahan kesebelasan Itali itu?
Ini kan gaya pendidikan mandiri buat anak-anak seperti yang dilakukan keluarga Barat di sana? Kenapa justru tidak ditiru?

Kesimpulan gue memang berat dan ‘cukup’ menuduh: gue pikir, kelas menengah Indonesia yang terpotret di kota-kota besar memang makin kehilangan identitas secara ngawur. Di sisi gaya bergerak ke ekstrem global, di sisi sikap dan perilaku bergerak makin ke ekstrem feodal karena sanggup membeli segalanya.

2 Responses to “Fenomena Cinta Laura”

  1. aduh, jangan bandingin cinta laura ma IDA IASHA dunk!! gw gak RELAA. sewcara zaya ini feinz beratzz ida iasha hehehehehe

  2. wah asal bahasa kita sendiri jangan sampe berubah kayak budayanya chincha lawra….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: