Tiap Orang Bisa Jadi Jurnalis

Orang yang haus akan informasi tapi bosan dan kurang puas dengan berita di koran, dan orang yang ingin jadi reporter tanpa menunggu panggilan kerja dari koran, majalah atau TV, sekarang bisa memenuhi keinginannya dengan membuka blog.

Masyarakat kita saat ini sangat kritis terhadap berita dan sering kali kebanyakan berita yang ada tidak memuaskan. Itu-itu saja. Dengan blog, orang punya pilihan bacaan lebih luas. Sisi lain, terbuka kesempatan besar untuk semua orang untuk menyatakan pendapat kepada seluruh dunia. “Everyone can be a journalist”.

Di USA tahun 2004, dilangsungkan Pemilu untuk memilih Presiden Amerika. Dua calon, Bush dari Partai Republik dan Kerry dari Partai Demokrat bersaing ketat. Banyak masyarakat Amerika yang bosan dengan berita-berita yang disampaikan oleh koran-koran, karena koran-koran dikuasai oleh pendukung kedua pihak. Akhirnya, dari mana orang bisa memperoleh berita dengan perspektif yang berbeda? Dari weblog atau blog.

Dalam citizen journalism, masyarakat menjadi obyek sekaligus subyek berita melalui blog yang diterbitkan langsung. Dapat dikatakan bahwa citizen journalism ini lahir dari peradaban dan perkembangan teknologi. Sekarang, berita konvensional (cetak maupun radio-televisi) sudah mulai didampingi oleh internet, bahkan sekarang tiap orang bisa menjadi penulis. Hal ini bukan merupakan bentuk persaingan media, tapi justru merupakan perluasan media. Bukan hanya pemodal besar yang bisa berkomunikasi dengan publik, tapi siapa saja yang mau ke warnet.

Ketika Danang bertanya apakah berita yang dimuat di weblog ini lebih jujur, Wimar menjawab, belum tentu masing-masing blog itu jujur, . Akan tetapi karena jumlah blog sangat banyak sekali, maka kita bisa memilih sendiri mana blog yang bisa dipercaya. Beda dengan koran atau staion TV yang terbatas jumlahnya. Tidak perlu kuatir dengan berita-berita di blog, karena ada pilihan dan yang tidak jujur dengan sendirinya akan kalah saing. Ini adalah demokratisasi produksi berita. Dan setiap orang dapat membaca blog pilihan pada saat yang dia ingingkan, namanya juga demokratisasi konsumsi berita. Bagaimanapun juga, dengan adanya demokrasi, orang akan menjadi lebih jujur, walaupun memerlukan waktu untuk proses pendewasaan.

Perkembangan citizen journalism di Indonesia masih belum lama. Yang mengawali mungkin adalah detik.com, yang menampilkan berita-berita segar dan tidak terkungkung. Akan tetapi situs seperti detikcom dibuat oleh satu pihak untuk dibaca banyak orang. Berbeda dengan blog yang berbeda-beda, yang disiapkan oleh banyak orang untuk dibaca orang banyak pula.

WW memberikan analisanya bahwa blog ini akan booming dan meluas bersama dengan program lain dari jenis Web2.0. Perpaduan antara fun dan hobby menjadikan blog mudah menyebar, karena disini setiap orang bisa berinteraksi, berhimpun membentuk ‘collective intelligence’ dan melakukan social networking. Contoh-contoh situs Web2.0 selain blog misalnya Friendster, Flickr, MySpace yang melakukan semuanya itu.

Danang bertanya, apakah betul semua orang suka ngeblog? Jawaban WW sederhana saja. Sebenarnya semua orang ingin berbicara asalkan diberi kesempatan, selama orang itu punya pendapat. Sedangkan semua orang pasti punya pendapat, paling tidak mengenai dirinya. Lewat adanya blog, kelihatan bahwa ternyata banyak orang yang bisa menulis, banyak yang pemikirannya bagus atau lucu atau aneh. Kalau punya foto, orang bisa saling memperlihatkan dan mengomentari foto melalui Flickr. Potensi orang bisa terbuka jika ada medium yang tepat.

Tidak lagi harus menunggu kesempatan diterbitkan tulisan di majalah atau di wawancara di televisi, setiap saat orang punya informasi, pendapat, curhat dia bisa menerbitkannya pada blog.

“Jangan Batasi Blog!”

Ditanya mengenai akuntabilitas berita di blog, bagaimana caranya mengatur supaya tidak ada SARA, pornografi, dll serta diperlukan atau tidak adanya aturan terhadap blog, dengan lugas WW memberikan argumennya,

“Aturan itu diperlukan mengikuti gejalanya. Banyak orang bilang sedia payung sebelum hujan, tapi ngapain juga bawa payung kalau tidak ada gejala hujan? Jadi, jangan batasi Blog.”

Menurut WW, kalaupun ada masalah, sebenarnya yang menjadi masalahnya adalah kejahatannya, bukan mediumnya (blog). Pengaturan perilaku itu perlu, tapi jangan a priori, karena kalau segala sesuatunya diatur, orang malah tidak ada inisiatif. Lihat dulu apa saja kejahatannya, buat peraturan yang khusus mengatasi kejahatan itu. Kata WW, sama halnya dengan kode etik jurnalistik, seorang blogger yang baik harus mengundang tanya jawab atau komentar. Tidak perlu ada UU khusus yang mengatur blog seperti UU Pers, karena WW yakin bagaimanapun. etika pribadi masing-masing orang itu jauh lebih kuat daripada berbagai macam UU.

Dikaitkan dengan masalah politik, di Indonesia blog yang bernuanasa politik secara kuantitas masih kecil, namun kualitasnya sangat bermutu. Sebagian besar blog di Indonesia membahas masalah pribadi. Hal ini wajar saja, karena blogger umumnya berusia 20-35 tahun yang aktif mempermasalahkan masalah pribadi dengan dunia luar. Ini gejala bagus, mendukung keterbukaan dan menunjukkan dinamika masyarakat. Sangat berguna kita tahu bagaimana pemikiran orang secara individual tentang banyak hal.

Terkait dengan masalah politik, blog bisa juga dijadikan alat kampanye yang baik, atau malah meng-ekspose kebohongan kampanye seperti di Pemilu USA tahun 2004 dan sekarang. Suasana visual kampnye dimuat di televisi, substansi kampanye bisa dimuat diblog. Kampanye lewat media cetak kena kendala space terbatas, tapi ruang dalam ‘blogosphere’ tidak terbatas.

Danang mengkomentari, banyak orang yang merasa tidak bisa menggunakan blog, karena mereka merasa tidak akrab dengan IT. Menurut WW, isi dari blog tidak adanya hubungannya dengan IT. Setiap orang dapat menulis tentang apapun. Inilah hal yang penting bagi masyarakat, bahwa mereka disajikan beragam pilihan. Di sini letak keindahan citizen journalism, semuanya dikembalikan pada masyarakat.

Kadang-kadang ada orang yang menulis di blognya dan mengutip blog orang lain tanpa menyebut sumber kutipannya. Bagaimana seharusnya sikap terhadap hal seperti ini? Memang sebaiknya sumber selalu dikutip, bahkan lebih dari pada media cetak, referensi bisa disediakan dalam bentuk link kepada referensi. Bagi WW di dalam budaya blog ada “fair exchange”. Kita bebas mengutip blog orang lain, dan orang lain bebas mengutip blog kita. Apabila tidak disebut, tidak masalah juga. Kalau nama kita disebut, ya itu keuntungan buat kita.

“Citizen Journalism adalah istilah yang menggambarkan betapa kegiatan pemberitaan beralih ke tangan orang biasa…”

Benar. Citizen journalism bukan sekadar “beralih ke tangan orang biasa”, tetapi mulai mendekati apa yang dibutuhkan dan diinginkan publik. Selama ini, produk-produk jurnalistik lebih merupakan suara industri dan pemodal besar dengan segala kepentingan dan intrik-intrik di dalamnya. Suara publik hanya bergaung sunyi di tengah rimba kepentingan-kepentingan itu.

Keberhasilan Digg dan del.icio.us misalnya menunjukkan betapa Web 2.0 telah menemukan momentummnya sendiri: Headline yang muncul di Digg soal teknologi misalnya jauh beda dengan headline yang ada di situs CNN atau BBC.

Jadi tibalah saatnya publik membuat, memilih dan membaca beritanya sendiri.

One Response to “Tiap Orang Bisa Jadi Jurnalis”

  1. kalau anjing mengigit orang itu bukan berita (sudah biasa), tapi kalau orang mengigit anjing ini baru berita, dan layak di informasikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: