Talkshow

Banyak orang bilang kalau memproduksi program Talk Show itu gampang.
Pakai studio, lalu kamera blocking minimal 3 kamera arah 180derajat,
lalu lighting memakai 3 keypoints light, lalu switch on-air saja ke
orang yang bicara. Inilah yang menyebabkan banyak TalkShow kita yang
biasa2 saja. Padahal, buat saya, memproduksi Talk Show itu justru
sulit. Lebih sulit dari membuat Variety SHow atau Konser. Kenapa?
karena esensi dari talk show adalah “Talk” dan “What Talk About?”.
Kedua esensi ini harus bisa membuat penonton setia selama 1 jam.
Bayangkan saja, mendengar kuliah 1 jam saja bisa bikin mengantuk.
Menonton berita 1 jam saja bisa membosankan. Apalagi menonton Talk
Show”? lebih sulit lagi…. Mungkin beberapa input saja buat menjadi
kajian….


A).TEMA/Topik
Sebelum tema atau topik digelar, sebaiknya kita mengenal dulu siapa
target pemirsa Talk Show ini? batasan usia? jenis kelamin? Status
Sosial? dsb. Target pemirsa harus jelas dan mendetil karena ini akan
menentukan bahasa bicara, bahasa visual, bahasa audio, wardrobe,
artistik dsb. Kalau target pemirsa sudah jelas, maka judul tema dan
topikpun harus mampu menjamah mereka. Topik juga harus mampu
memancing perdebatan sehingga membaca judulnya saja penonton sudah
tertarik. Beberapa tips membuat judul tema/topik adalah:

1.Gunakan bahasa Pertanyaan?
Seperti “Obama, sejajarkah dengan Kennedy?”, atau “Kebangkitan
Bangsa, masih adakah?”.
2.Gunakan bahasa Oppositely/berlawan an
Seperti “Pilih mana Obama atau Clinton?”, atau “Lulus kuliah,
bekerja atau kuliah lagi?”.
3.Gunakan bahasa Suspense.
Seperti “Demontrasi Radikal masuk
Indonesia“, atau “Plagiator
politik di kandang Senayan”.

B).Write It The Way You Speak It
Biasanya setelah “Rundown” disepakati maka dituliskan script
pertanyaan untuk Host agar dialog berjalan lancar sesuai dengan
batasan waktu. Nah, sebaiknya gunakanlah cara menulis “Write it the
way you speak it” bukan “Write it the way you read it”. Misalnya,
pertanyaan host: “Mungkin nggak kalau kejadian ini terjadi di rumah
makan?”, atau “Orang bilang, kuliah ini kurang keren soalnya
universitasnya nggak punya kampus”. Dsb. Biasanya, kalau yang
bertanya menggunakan bahasa ngobrol, maka nara sumber juga akan
menjawab dengan bahasa ngobrol..

C).Punching Line.
Gunakan kalimat2 “Kagetan” yang seringkali berada diluar kerangka
bicara. Ini disebut Punching Line yang gunanya untuk menghidupkan
suasana sekaligus mempertajam perdebatan diskusi. Misalnya, “Oh ya,
tapi anda sendiri kok menjalankan praktek itu”, atau “Berdasarkan
data2 dari riset, ini justru bertentangan dengan anda?”. Punching
Line juga bisa dibuat dalam bentuk Caption atau Graphic.

C).Production Design
Nah, disiti kita musti jeli merancang design produksi yang pas
dengan tujuan dari Talk SHow ini. Baik dari blocking kamera, angle,
titling, opening tune, bumper, dll.

Lainnya soal “Pesanan Pertanyaan” ini kembali lagi pada tujuan dan
target pemirsa. “Pesanan” ini bisa mendukung tapi bisa juga
menjatuhkan program. Saran saya, pesanan ini boleh didengar tapi
belum tentu dipakai. Dan soal membayar potongan gambar? ini
kebijakan PD dan Produsernya. Editing boleh saja asal tidak
mengganggu bahasa editing yang berpatokan pada
ritmik,dialog, continuity dan content. Soal Nara Sumber dapat
bayaran? mengapa tidak? ini sering disebut sebagai uang transport
walaupun besarannya seringkali melebihi biaya naik taxi….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: