FILIPINA, NEGARA PALING BERBAHAYA BAGI JURNALIS DI LUAR ZONA PERANG

Kita sering mengeluh, bahwa kebebasan pers di Indonesia masih terancam. Namun, kondisi Indonesia sebenarnya belumlah seseram di Filipina, di mana nyawa para jurnalis terkesan tak ada harganya. Mungkin tak berlebihan jika dikatakan bahwa “Filipina adalah negara yang paling berbahaya bagi jurnalis di luar zona perang.” Padahal pers Filipina sering disebut sebagai “pers yang paling bebas di Asia.”

Suratkabar The Sunday Times, yang terbit di Filipina, pada edisi Minggu (18 Februari 2007) mengangkat Laporan Khusus dengan headline “Truth or Life? – Murdering the Messengers.” Menurut suratkabar yang sudah terbit sejak 1898 tersebut, sudah 49 praktisi media yang terbunuh sejak tahun 2001, awal Presiden Gloria Macapagal Arroyo berkuasa. Jika angka ini bisa kita jadikan pegangan, artinya hampir 10 jurnalis terbunuh setiap tahunnya. Dari jumlah itu, mayoritas (47 jurnalis) bekerja sebagai jurnalis di daerah.

Angka 49 ini dibantah oleh Polisi Nasional Filipina, yang mengatakan bahwa hanya ada 26 jurnalis yang terbunuh dalam konteks melakukan tugas profesi sebagai jurnalis. Menurut polisi, sisanya (23 jurnalis) tewas karena sebab-sebab yang tidak terkait dengan jurnalisme, misalnya: balas dendam pribadi, cinta segitiga, dan lain-lain. Namun, kalaupun pernyataan polisi ini bisa kita percaya, jumlah jurnalis yang tewas dalam menjalankan profesinya juga masih sangat tinggi: sekitar lima jurnalis tiap tahunnya.

Masih menurut laporan media ini, banyak dari pembunuhan jurnalis itu dilakukan terang-terangan. Pembunuhan terhadap Rolando Morales, wartawan DWMD-Radio Mindanao Network di Polomol, South Cotabato, misalnya, sangat brutal. Delapan orang yang mengendarai sepeda motor menembak Rolando 15 kali, ketika Morales sedang di dalam mobilnya, pada 3 Juli 2005.

Para pembunuh ini tidak menghiraukan rekan Rolando, Letty Antigua, yang kebetulan ada di mobil yang sama. Mereka mendorong tubuh Antigua ke samping, sebelum memberondong tubuh Morales dengan senapan M-16. Sejauh ini Antigua menolak bekerja sama dengan polisi untuk mengungkap pembunuhan itu. Sangat mungkin, dia merasa terancam dan tidak percaya bahwa polisi bisa melindungi keselamatannya, jika dia sampai buka mulut dan bersaksi.

Meski begitu banyak kasus pembunuhan terhadap jurnalis, sangat sedikit kasus yang masuk pengadilan dan divonis bersalah. Hanya empat dari 41 kasus yang berakhir sampai vonis bersalah pada si pelaku. Bahkan “kemenangan” kecil ini masih bisa dihapus lagi dengan proses naik banding, dan sebagainya. The Sunday Times mensinyalir adanya “kolusi” antara pelaku, pihak pengadilan, dan politisi di lingkungan birokrasi.

Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan Misi Pencari Fakta IFJ (International Federation of Journalists) dan NUJP (National Union of Journalists in the Philippines) tahun 2005, banyak para jurnalis yang jadi korban pembunuhan ini sebelumnya juga sudah diancam dan diteror. Ancaman pembunuhan itu bisa lewat telepon atau SMS.

Memperjuangkan kebebasan pers memang bukan kerja sederhana. Dalam hal ini, sebagai jurnalis, kita bisa belajar banyak dari pengalaman teman-teman kita di Filipina.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: