Seberapa Penting Etika dalam Iklan?


Meskipun ada peraturan tentang etika periklanan namun iklan-iklan yang sudah beredar kerapkali tersandung masalah etika. Sebenarnya masih pentingkah etika dalam sebuah iklan?

Adhita Idris
Marketing Manager Colas and Teas PT Coca-Cola Indonesia

Etika buat saya itu menyangkut seperti apa cara menyampaikan produk itu ke masyarakat. Selama caranya baik dan dijalankan dengan manner menurut saya tidak apa-apa. Meskipun misal dengan menjatuhkan produk lain tapi berdasarkan riset dan fakta yang betul, kenapa nggak? Sebenarnya komunikasi iklan kan tergantung produk dan segmen apa yang ingin dituju, kalau misal targeted seperti bicara pengawet terus fokusnya pada orang yang tertarik pada hidup sehat gak papa. Tapi kalau massive pasti ada pro dan kontra, ada yang merasa perlu ataupun tidak.

Menurut saya aturan untuk etika itu perlu, sehingga ada rules dan regulasi sebagai batasan-batasan, dan selama juga dilaksanakan dengan tidak mencekal kreatifitas. Dengan peraturan supaya ada acuan juga buat kita yang mau beriklan. Mestinya tiap pengiklan dan biro iklan sudah tahu peraturan yang ada sebelum membuat iklan. Sehingga saat mereka ingin membuat suatu kreatifitas tidak mengalami pencekalan.

Hakim Lubis
Pengarah Kreatif Octocomm

Tidak semua orang aware bahwa banyak hal yang sebenarnya tidak boleh mereka gunakan. Baik itu aneka kata superlatif, disclaimer, hadiah langsung selama persediaan masih ada atau untuk 100 pengirim pertama, di luar negeri itu sudah tidak boleh. Harus dipisahkan antara yang superlatif dengan yang disclaimer. Orang masih banyak memakai itu karena tidak pernah ada tuntutan dari konsumen. Pada produk rokok dan obat-obatan sudah ada rambu-rambu dan pengawasnya. Sedangkan pada produk lain belum ada pengawasnya, sehingga orang bablas saja. Harusnya iklan-iklan Indonesia itu bisa sangat kreatif tanpa harus membodohi masyarakat. Saya kok lebih concern pada upaya kearah meningkatkan kualitas iklan. Walaupun memang iklan yang baik adalah bukan iklan yang dengan terang-terangan produk ini produk terbaik, namun iklan yang mampu menggiring target pasarnya bahwa merek ini adalah merek yang terbaik.

Huzna Zahir
Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia

Etika dibuat tentu karena ada kecenderungan yang salah dari iklan. Iklan biasanya kan lebih persuasif tentang produknya daripada memberikan unsur edukasi pada masyarakat. Untuk itu kita lebih perhatikan kebenaran informasi atau persepsi yang ditimbulkan dari produk itu. YLKI tidak punya program atau pengawasan khusus untuk etika ini, tapi kita lebih mendorong masyarakat atau kelompok seperti LSM untuk mengkritisi misal lewat media massa jika saat mereka merasa terganggu akan berani mengekpresikan. Sehingga masyarakat lebih pro-aktif dan masyarakat juga punya kekuatan. Seringkali etika itu dibilang regulasi tapi voluntary. Jadi lebih ke sanksi moral atau hanya sebagai teguran berupa surat peringatan. Etika itu sendiri menjadi tanggung jawab moral masing-masing. Bisa saja berargumen bahwa itu sebagai bentuk kreatif tapi harusnya pelaku usaha sensitif dan menyadari bahwa masyarakat kita tidak homogen. Badan pengawas etika sendiri kan pastinya dari perwakilan orang-orang periklanan, seharusnya itu bisa menjadi self control kalangan periklanan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: