Sleman, Kota Seribu Iklan

Oleh Sumbo Tinarbuko


Kabupaten Sleman terletak di utara kota Yogyakarta. Secara geografis, Sleman bagian utara dan barat, tanahnya ditakdirkan sangat subur untuk industri pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Sedangkan di wilayah timur dan selatan tanahnya pun juga sangat subur ketika ditanami industri pendidikan, industri kos-kosan, industri kuliner, industri fotokopi dan penjilidan, industri laundry, dan industri hiburan malam.

Jika diamati wilayah Sleman bagian selatan dan timur terutama di sepanjang Jl Magelang, Jl Monjali, Jl Kaliurang, Jl Affandi-Gejayan, dan Jl Solo dapat disaksikan ratusan spanduk rentang, umbul-umbul, rontek, baliho, billboard, neon box, iklan bando, shopsign, sunscreen, papan nama toko, dan ribuan poster tempel yang saling berserakan dan berjejalan cara pemasangannya.

Keberadaannya tentu dimaksudkan untuk menarik perhatian pengguna jalan yang melintasi kawasan tersebut. Dampaknya, Pemkab Sleman seolah sedang menggelar laporan prestasi buruk terkait dengan perijinan dan prioritas penempatan titik-titik reklame luar ruang.

Di jalanan wilayah Sleman bagian timur dan selatan yang menghubungkan berbagai perguruan tinggi ternama itu, belakangan ini disesaki oleh adegan perang simbolik yang terpampang lewat ribuan reklame luar ruang.

Yang terjadi kemudian, Sleman membaptis dirinya menjadi kota seribu iklan. Di sana kian subur dipancangkan hutan billboard dengan segala keturunannya: neon box, spanduk, umbul-umbul, rontek, dan poster tempel.

Positioning Pemkab Sleman seperti itu justru menjadi antiklimaks yang meredupkan sekaligus memburamkan hidup dan kehidupan warganya. Sebagian besar masyarakat merasa dihantui teror visual terkait dengan titik sentuh pemasangan reklame luar ruang yang dinilai amburadul.

Tebaran cengkeramannya yang dilemparkan lewat visualisasi dan teks mencolok, seluruhnya memproduksi citraan budaya konsumsi. Dan setiap orang, dalam ruang yang disesakinya diprovokasi ke dalam image visual tersebut. Seluruhnya berlangsung dalam keramaian reklame yang nyaris tanpa kontrol.

Setiap ruangan, terutama yang memiliki potensi keramaian, telah menjadi komoditas bagi kepentingan penguasa dan pengusaha. Kepentingan dan hak publik atas ruang terbuka, hanya menjadi pertimbangan kesekian. Ruang visual publik pun diambil alih reklame. Iklan media luar ruang dengan seenaknya terpasang di mana saja, jauh dari pertimbangan kepatutan, etika-estetika, dan ekologi kota.

Jika carut marut perihal reklame luar ruang ini tidak segera dikendalikan dan ditata kembali dengan semangat win-win solution, maka wilayah Sleman terutama di bagian timur dan selatan akan menjadi area publik yang selalu dipenuhi polusi sampah visual.

Ketidaktertiban dan kesemrawutan seperti ini menggambarkan ketidakmampuan Pemkab Sleman mengendalikan ekologi dan estetika kota. Hal itu terjadi karena masterplan penempatan media iklan luar ruang tidak disinergikan dengan masterplan tataruang pengembangan Kabupaten Sleman.

Sejujurnya masyarakat tetap membutuhkan iklan sebagai sumber informasi atas keberadaan produk dan jasa yang mampu tingkatkan harkat hidup banyak orang. Sebaliknya, masyarakat juga membutuhkan ruang publik yang hijau, teduh, nyaman dan, aman. Khalayak luas mendambakan ruang publik yang dapat digunakan untuk reriungan tanpa terusik dengan kehadiran reklame luar ruang yang senantiasa mendedahkan kekekerasan simbolik yang berujung pada sampah visual!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: